Pasca Melahirkan

Mengenal Psikosis Postpartum, Kondisi Ibu Baru yang Lebih Berbahaya dari Depresi Pascamelahirkan

Tidak hanya beresiko untuk ibu, tetapi juga untuk bayinya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Psikosis postpartum merupakan gangguan mental serius yang dapat terjadi pada ibu segera pascamelahirkan. Sebagian besar ibu melahirkan mengalami perubahan mood yang disebut dengan "baby blues."

Kondisi tersebut merupakan hal normal yang terjadi dan biasanya berlangsung selama beberapa hari.

Namun, berbeda halnya dengan psikosis postpartum. Kondisi ini perlu diatasi sebagai keadaan darurat medis.

"Pada psikosis postpartum, ibu melahirkan mengalami gejala psikosis, yaitu hilangnya kontak dengan realita. Hal ini dapat menyebabkan ibu mulai mendengar, melihat, dan atau meyakini sesuatu yang tidak benar. Keadaan ini dapat menjadi sangat berbahaya bagi ibu dan bayi," jelas Dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp. KJ, Spesialis Kedokteran Jiwa, RS Pondok Indah - Pondok Indah.

Baca Juga: 5 Aktivitas bersama Bayi untuk Mengurangi Depresi Pascamelahirkan

Walaupun sering dianggap sama, nyatanya, psikosis postpartum berbeda dengan postpartum depression (depresi pasca melahirkan).

Pada postpartum depression, gejala utama yang dialami adalah perubahan mood, seperti:

  • Terus menerus merasakan perasaan sedih
  • Merasa bersalah
  • Merasa tak berharga, tak cukup mampu
  • Cemas
  • Sulit tidur dan merasa kelelahan
  • Sulit konsentrasi
  • Perubahan napsu makan
  • Dapat juga muncul ide bunuh diri

Secara umum, psikosis postpartum berbeda karena termasuk dalam gangguan mental yang lebih berat dan dapat meenimbulkan efek berbahaya bagi orang sekitar terutama bayi.

Lalu, apakah ada latar belakang tertentu yang dapat memicu terjadinya psikosis postpartum? Berikut adalah penjelasan mengenai faktor resiko yang dapat menyebabkan psikosis postpartum.

Faktor Resiko Psikosis Postpartum

6-postpartumdepression.png

Foto: Orami Photo Stock

Faktanya, psikosis postpartum dapat terjadi pada ibu yang bahkan sebelumnya tidak memiliki faktor risiko. Namun, diketahui ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini.

Faktor risiko tersebut antara lain:

  • Riwayat gangguan mental sebelumnya seperti bipolar, skizofrenia, atau skizoafektif.
  • Riwayat postpartum psikosis pada persalinan sebelumnya.
  • Riwayat keluarga dengan postpartum psikosis.
  • Riwayat gangguan mental pada keluarga, misalnya gangguan bipolar.
  • Kehamilan pertama.
  • Penghentian obat psikiatrik selama kehamilan.

Baca Juga: Memahami Gejala dan Penyebab Skizofrenia pada Anak

Penyebab dan Gejala Psikosis Postpartum

postpartum psychosis-2.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Belum diketahui secara jelas apa saja yang menjadi penyebab pasti psikosis postpartum.

Dr. Zulvia menjelaskan, ada beberapa aspek kesehatan yang dapat menyebabkan seseorang mengalaminya seperti aspek genetik, budaya, lingkungan, dan faktor biologis lainnya yang menyebabkan ibu melahirkan menjadi lebih sensitif terhadap hormon estrogen, progesteron, dan hormon tiroid.

"Selain itu, kondisi kurang tidur juga dapat memiliki peran terhadap terjadinya psikosis postpartum," imbuh Dr. Zulvia.

Dikutip dari Healthline, psikosis adalah kondisi ketika seseorang kehilangan kontak dengan kenyataan. Efek ini bisa sangat berbahaya bagi ibu baru dan bayinya.

Adapun gejala psikosis postpartum mirip dengan gejala bipolar episode pertama. Biasanya, ibu akan mulai susah tidur, merasa gelisah, dan sangat mudah tersinggung. Gejala-gejala tersebut jika tidak segera ditangani oleh profesional, akan menjadi lebih parah.

Jika sudah demikian, maka kenali gejala psikosis postpartum berikut:

  • Halusinasi pendengaran, hingga ibu mendapatkan sugesti untuk mencelakai diri sendiri dan bayinya.
  • Keyakinan berupa waham (delusi) yang biasanya berkaitan dengan bayi, seperti orang lain akan menyakiti bayinya.
  • Suasana hati yang cepat berubah secara ekstrem, dari perasaan sedih sampai sangat berenergi.
  • Disorientasi terhadap tempat dan waktu
  • Pikiran bunuh diri.
  • Kepala, dada, dan anggota tubuh lainnya merasa sakit atau nyeri yang parah.

Baca Juga: Perlukah Waspada Terhadap Bahaya Postpartum Psychosis?

Cara Mengatasi Psikosis Postpartum

postpartum psychosis-3.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Psikosis postpartum adalah kondisi kedaruratan medis yang harus segera mendapat pertolongan dokter. "Segera bawa ibu ke Unit Gawat Darurat di rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan," jelas Dr. Zulvia memberikan saran.

Jika dapat dideteksi sejak dini saat ibu masih dirawat di rumah sakit pascabersalin, biasanya akan dirawat lebih lama untuk mengatasi kondisi psikosisnya. Perawatan ini akan berlangsung hingga mood dan emosi ibu stabil, serta tidak membahayakan untuk dirinya dan bayinya.

Berikut adalah perawatan bagi ibu yang mengalami psikosis postpatrum dikutip dari UK National Health Service, meliputi:

1. Terapi Obat-obatan

Saat menangani ibu dengan psikosis postpartum, dokter spesialis jiwa atau psikiater akan memberikan obat untuk mengatasi gejala psikosis, depresi, dan menstabilkan mood. Adapun resep obat yang diberikan adalah golongan antipsikotik, antidepresan, dan mood stabilizer.

2. Electroconvulsive Therapy (ECT)

ECT terkadang disarankan jika pengobatan lain gagal atau ketika situasi dianggap mengancam nyawa.

ECT adalah prosedur yang dilakukan dengan anestesi umum, yang menggunakan arus listrik kecil untuk melewati otak, yang dengan sengaja memicu kejang singkat. ECT tampaknya menyebabkan perubahan kimiawi otak yang dapat dengan cepat membalikkan gejala kondisi kesehatan mental tertentu.

Walau banyak menimbulkan persepsi yang negatif, terapi ini sangatlah aman dan berada di bawah pengawasan ahli secara langsung.

Namun, kebanyakan ibu dengan psikosis postpartum sembuh total saat menerima perawatan yang tepat sehingga jarang yang mendapatkan terapi ECT.

Baca Juga: Seorang Ibu Bunuh Diri Akibat Postpartum Psychosis, Apa Bedanya Dengan Postpartum Depression?

3. Bentuk Dukungan dari Lingkungan Sekitar

Dukungan dari keluarga dan kerabat dekat akan sangat membantu ibu dengan psikosis postpartum untuk segera pulih. Ini dikarenakan ibu biasanya akan mengalami kesulitan mengutarakan isi hati dan pikirannya, sehingga akan baik jika ada yang mengajaknya bicara.

Berbicara dengan orang yang memiliki pegalaman langsung tentang penyakit tersebut juga dapat membantu. Di beberapa komunitas, sudah ada yang menyediakan dukungan sebaya untuk membantu pasien agar pulih.

Itu tadi seputar psikosis postpartum yang dapat dialami para ibu pascamelahirkan. Semoga dapat membantu jika ada keluarga atau teman Moms yang mengalami hal serupa. Jangan lupa untuk segera cari pertolongan profesional, ya, Moms!

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait