Parenting Islami

28 Mei 2021

Pengertian Puasa Nazar, Ketentuan, dan Tata Caranya, Wajib Tahu!

Seperti apa dan apa saja alasan puasa nazar itu?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Apakah Moms pernah mendengan tentang puasa nazar? Secara bahasa, arti dari ‘nazar’ adalah janji untuk melakukan hal baik atau hal buruk. Namun apa hubungannya dengan puasa? Apakah puasa tersebut dibolehkan? Bagaimana hukumnya?

Dilansir NU Online, dalam Islam nazar artinya menyanggupi atau berjanji melakukan ibadah yang aslinya tidak wajib, namun ia mewajibkan dirinya untuk menunaikan ibadah tersebut. Nazar tidak sah jika menjanjikan hal wajib, mubah, makruh, apalagi haram.

Baca Juga: Tak Hanya Umbar Janji, Ini 3 Tanda Pasangan Anda Serius dan Berkomitmen Pada Janjinya

Mengenal Puasa Nazar

Puasa Nazar -1

Foto: Orami Photo Stock

Amalan dengan hukum sunnah atau fardhu kifayah yang bisa dijadikan nazar. Misalnya berpuasa atau bersedekah. Dengan melakukan nazar, ibadah yang awalnya berhukum sunnah atau fardhu kifayah menjadi berhukum wajib bagi orang tersebut.

Selain itu, sedekah atau puasa sunnah yang tadinya tidak harus dilakukan, setelah menjadi nazar maka tidak boleh ditinggalkan dan harus dilaksanakan. Nazar juga akan sah jika lafaznya mengandung kepastian untuk melakukan suatu hal.

Misalnya ‘saya bernazar akan berpuasa Daud jika lulus kuliah,’ atau ‘jika saya memiliki omset Rp10 juta, saya akan bersedekah Rp 1 juta,’. Sebab, lafaz atau kalimat yang tidak mengandung kesanggupan tidak bisa disebut nazar.

Islam juga membolehkan seseorang bernazar. Allah SWT pun memuji orang-orang yang menunaikan nazarnya. Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka.” (QS Al-Hajj: 29).

Dulu, Umar bin Khatab juga pernah diperintah untuk menunaikan nazarnya. Sekembalinya rombongan Rasulullah SAW dari Thaif dan sampai di Ji’ronah, Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah, “Yaa Rasulullah, sesungguhnya aku pernah bernazar pada masa jahiliyah untuk melakukan itikaf sehari di Masjidil Haram maka apa pendapatmu?” Rasulullah menjawab, “Pergilah ke sana dan beri’tikaflah.”

Puasa Nazar adalah puasa yang wajib dilakukan oleh seseorang sesuai dengan yang dinazarkannya. Dalam sebuah hadis mengenai hal tersebut, Aisyah RA pernah menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

”Barang siapa yang bernazar untuk taat kepada Allah, maka hendaklah ia mentaati-Nya dan barangsiapa yang bernazar untuk maksiat terhadap Allah, maka janganlah dia maksiat terhadap-Nya.” (HR Bukhari).

Baca Juga: Mengharukan! Seorang Pejuang Kanker Meninggal 18 Jam Usai Ucap Janji Pernikahan

Macam-macam Nazar

Puasa Nazar -2

Foto: Orami Photo Stock

Ada beberapa nazar yang dapat dijumpai, seperti:

1. Nazar Lajjaj

Nazar ini adalah nazar yang bertujuan untuk memberi motivasi kepada seseorang untuk mengerjakan suatu hal, atau mencegah seseorang melakukan sesuatu, atau meyakini kebenaran kabar yang disampaikan oleh seseorang.

Misalnya, ketika ada seseorang yang bernazar untuk berpuasa Daud selama satu bulan jika tidak menghkhatamkan Alquran selama 15 hari. Nazar ini diucapkan agar memberi motivasi kepada diri sendiri untuk mengerjakan sebuah amalan.

Contoh lainnya yaitu ketika ada seseorang yang berjanji akan berpuasa selama sepuluh hari jika ia melakukan kebiasaannya membicarakan orang lain. Ada lagi misalnya ketika seseorang berjanji bersedekah 500 ribu jika apa yang disampaikannya tidak benar.

2. Nazar Tabarrur

Nazar tabarrur adalah ketika seseorang menyanggupi untuk mengerjakan suatu ibadah tanpa menggantungkan pada suatu hal, atau menggantungkan ibadah pada suatu hal yang diharapkan.

Contohnya adalah ketika seseorang bernazar akan menyedekahkan uang sebanyak 500 ribu. Maka jika ia telah memiliki uang dalam jumlah sekian, wajib baginya untuk menyedekahkan uang tersebut. Namun, kewajiban itu bersifat lapang, jadi tidak wajib untuk segera menyedekahkan uang tersebut.

Jika tidak memiliki keyakinan tidak akan memiliki uang sejumlah itu, maka nazar bisa ditunaikan kapan saja. Sebaliknya, jika ia yakin bahwa tidak akan lagi memiliki uang sebanyak itu, maka nazar wajib ditunaikan, sebelum uang digunakan untuk keperluan lain.

Walaupun dibolehkan, namun sebaiknya tidak mudah bernazar. Rasulullah menjelaskan bahwa nazar sesungguhnya sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Sahabat Ibnu Umar menuturkan, “Rasulullah melarang untuk bernazar, beliau bersabda: ‘Nazar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit)’.” (HR Bukhari dan Muslim).

“Sungguh nazar tidaklah membuat dekat pada seseorang apa yang tidak Allah takdirkan. Hasil nazar itulah yang Allah takdirkan. Nazar hanyalah dikeluarkan oleh orang yang pelit. Orang yang bernazar tersebut mengeluarkan harta yang sebenarnya tidak ia inginkan untuk dikeluarkan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Para ulama menjelaskan maksud dari hadis tersebut adalah orang yang bernazar sebenarnya tidak beramal ikhlas karena Allah. Ia hanya mau beramal jika mendapat manfaat. Karenanya, orang yang bernazar dengan syarat disebut orang yang pelit.

Nazar yang dibolehkan dan tidak mendapat pertentangan adalah ketika seseorang bernazar tanpa syarat. Misalnya seseorang berjanji melaksanakan puasa tertentu, tanpa mensyaratkan apapun.

Larangan nazar juga ditujukan agar manusia tidak menyangka Allah akan memenuhi keinginan dengan nazar. Padahal, nazar sama sekali tidak merubah apapun, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis tersebut di atas.

Baca Juga: 4 Manfaat Penting Mengajarkan Anak untuk Menepati Janji Sejak Kecil

Ketentuan Puasa Nazar

Puasa Nazar -3

Foto: Orami Photo Stock

Beberapa ulama berpendapat bahwa mengucap nazar itu adalah makruh. Bukan tanpa sebab beberapa ulama mengatakan seperti itu, hal ini karena sifat manusia yang cenderung pelupa. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits:

“Nabi Muhammad SAW melarang untuk bersabda: Nazar sama sekali tidak bias menolak sesuatu, Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit).” (HR Bukhari).

Hadits yang lain pun menyatakan melakukan ucapan nazar itu makruh. Sesuai hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh nazar tidaklah membuat dekat pada seseorang apa yang tidak Allah takdirkan.

Hasil nazar itulah yang Allah takdirkan. Nazar hanyalah dikeluarkan oleh orang yang pelit. Orang yang bernazar tersebut mengeluarkan harta yang sebenarnya tidak ia inginkan untuk dikeluarkan.” (HR Bukhari).

Jadi, seseorang yang sudah mengucapkan nazar atau niat puasa nazar hendaknya segera membayar apa yang ia janjikan kepada Allah setelah keinginan mereka dikabulkan oleh Allah SWT. Hal ini sesuai firman Allah Ta’ala mengenai nazar yang diucapkan oleh seseorang:

“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka.” (QS Al Hajj: 29).

Seseorang yang sudah mengucapkan nazar, sudah semestinya mereka harus membayar atau menebusnya ketika Allah SWT telah mengabulkan apa yang kita inginkan. Namun, jika tidak, maka wajib hukumnya untuk membayar kafarah atau istilah lainnya tebusan.

Berikut ini adalah beberapa kafarah yang dapat ditebus ketika bernazar:

  • Memberikan makan kepada sepuluh orang miskin atau orang kurang mampu,
  • Memerdekakan satu orang budak,
  • Memberikan pakaian kepada sepuluh orang miskin,
  • Apabila tidak bisa melakukan tiga jenis kafarah di atas, diperbolehkan untuk berpuasa selama tiga hari seperti yang diperintahkan Allah dalam surat Al-Maidah ayat 89.

Ketika seseorang bernazar wajib hukumnya untuk membayarnya dengan kafarah atau tebusan. Kafarah yang dibayarkan sepertinya yang dijelaskan sebelumnya. Apabila tidak bisa melakukan 3 jenis kafarah diatas,diwajibkan untuk mengerjakan puasa nazar selama 3 hari.

Puasa nazar sama halnya seperti puasa ramadhan, diwajibkan untuk berniat untuk mengerjakan puasa nazar. Mengerjakannya juga harus didasari dengan niat di dalam hati agar dalam mengamalkannya dilakukan dengan bersungguh-sungguh karena Allah SWT.

Menurut Al Mardawi seorang ulama Habali dalam Al Inshaf terkait dengan nazar berkata: “Nazar tidak sah kecuali dengan diucapkan. Jika berniat, namun tidak dia ucapkan, tidak sah nazarnya, tanpa ada perbedaan pendapat.” (Al Inshaf, 11/118).

Berdasarkan An Nawawi dalam syarah muhadzab: “Apakah nazar sah semata dengan niat, tanpa diucapkan (yang kuat) berdasarkan sepakat ulama madzhab syafii, bahwa tidak sah nazar kecuali diucapkan. Niat semata, tidak bermanfaat (tidak dianggap).” (Al Majmu’ Syarh Muhadzab, 8,451).

Dari penjelasan di atas dapat mensimpulkan bahwa ketika bernazar, wajib didahului dengan sebuah niatan dan niat puasa nazar tidak hanya dalam hati saja namun juga dapat dilafadzkan.

Berikut adalah bacaan niat puasa Nazar: “Nawaitu shauman Nadzri lillahi ta’ala." Yang artinya: “Aku niat puasa nazar karena Allah Ta’ala.”

Karena dilakukan sama seperti melaksanakan puasa pada umumnya seperti waktu buka dan sahur, apa yang membatalkan dan yang tidak, apa yang harus dan haram dilakukan, dan sebagainya. Ternyata akan ada beberapa manfaat bagi kesehatan juga saat melaksanakan puasa nazar.

Menurut Nutrition Journal, ada beberapa manfaat dari puasa yang berhubungan dengan kesehatan seperti berefek pada tekanan darah, lipid darah, sensitivitas insulin, dan biomarker stres oksidatif.

Demikianlah penjelasan mengenai puasa Nazar. Seoha dapat memberi manfaat dan menjadi ladang pahala apabila menunaikannya.

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2995774/
  • https://islam.nu.or.id/post/read/111231/pengertian-nazar-dan-ketentuannya-dalam-islam
  • https://umma.id/post/pengertian-puasa-nazar-yang-jarang-diketahui-820526?lang=id
  • https://saintif.com/niat-puasa-nazar/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait