Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Sekolah Anak | Mar 20, 2018

Pujian yang Tepat Pengaruhi Prestasi Anak di Sekolah

Bagikan


   

Setiap anak tentu butuh dorongan dari orangtuanya supaya bisa meraih prestasi di sekolah. Salah satu bentuk dorongan yang baik adalah memberikan pujian bagi anak.

Kedengarannya memang cukup mudah. Namun, ternyata menurut para ahli perkembangan anak memuji bukan hal yang bisa disepelekan begitu saja. Terlalu banyak memuji anak atau tidak pernah memuji justru bisa membuat anak merasa tertekan.

Lalu, sebenarnya bagaimana cara memuji anak dengan tepat dan sesuai? Ini dia jawabannya.

 

Harus Seberapa Sering Memuji Anak?
Sebuah penelitian yang dilakukan di Korea Selatan menunjukkan bahwa anak yang terlalu sering atau sangat jarang dipuji menunjukkan prestasi yang kurang memuaskan di sekolah. Selain itu, anak juga cenderung lebih mudah dilanda stres.

Sebaliknya, anak yang dipuji setiap kali ia benar-benar menorehkan pencapaian yang membanggakan cenderung menunjukkan prestasi yang lebih cemerlang di sekolah.

 

Memuji Anak Dengan Tepat
Pakar psikologi dan perkembangan anak sepakat bahwa isi dari pujian Moms sebenarnya jauh lebih penting daripada seberapa sering pujian tersebut dilontarkan. Yang perlu diingat adalah memuji anak tak hanya kalau anak jadi nomor satu saja. Segala usaha dan jerih payah anak lah yang seharusnya dipuji, bukan hasilnya.

Misalnya anak sudah belajar setiap malam hingga ikut kursus supaya bisa meraih nilai ulangan tertinggi. Namun, ternyata anak hanya mendapat nilai rata-rata saja. Penting bagi Moms untuk tetap menghargai dan memuji perjuangan anak, misalnya dengan berkata, “Anak Moms hebat sekali, selalu semangat belajar tanpa harus disuruh. Tak apa-apa kalau belum jadi nomor satu, besok masih ada kesempatan lagi.”

Sementara kalau anak lebih sering bermalas-malasan daripada belajar dan setiap kali diingatkan justru membantah, tak perlu memuji berlebihan jika saat ulangan anak dapat nilai rata-rata. Meskipun hasilnya lumayan, ia tidak menunjukkan perjuangan yang cukup mengagumkan untuk dipuji. Kalau terbiasa memuji hal-hal seperti ini, anak justru jadi merasa tinggi hati dan menyepelekan tanggung jawab serta kewajibannya.

  

Dengarkan Kata Hati Moms
Bila Moms adalah tipe orangtua yang jarang memuji karena tak mau anak cepat puas, coba pikir-pikir lagi. Kapan terakhir kali anak mendapat pujian yang memang pantas didapatkannya? Jangan sampai anak jadi merasa begitu tertekan dan gugup sehingga tidak bisa menunjukkan kemampuannya secara maksimal.

Begitu juga kalau Moms terlalu sering memuji anak. Bisa jadi anak merasa terlena atau ketergantungan. Kalau tidak ada imbalan pujian, anak jadi tidak mau berusaha cukup keras.

Pada akhirnya, dengarkan dan percayalah pada kata hati Moms sendiri. Kalau Moms rasa anak memang berhak dan pantas mendapatkan pujian, tak perlu ragu memujinya karena takut anak merasa jemawa. Atau jika anak melakukan sesuatu yang memang mampu ia lakukan dan sudah menjadi tanggung jawabnya, tak perlu dipuji berlebihan.

  

Memberikan pujian bagi anak memang gampang-gampang susah. Moms sendiri bagaimana, nih? Sering memuji anak atau jarang-jarang?

 

(IA)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.