COVID-19

30 Juni 2021

13+ Rekomendasi IDAI untuk Sekolah Tatap Muka, Jangan sampai Ada Klaster Sekolah!

Pastikan Moms mengetahui bagaimana proses belajar mengajar di sekolah Si Kecil, ya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Defara Millenia
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) belum merekomendasikan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah yang rencananya akan mulai dibuka secara terbatas pada Juli 2021.

Melansir lama idai.or.id, imbauan tersebut mempertimbangkan peningkatan kondisi kasus COVID-19 di Indonesia dan masih di atas 5 persen.

Dengan mempertimbangkan hak anak berdasarkan konvensi Hak-hak Anak dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990, perkembangan COVID-19 secara nasional yang kembali meningkat, temuan kasus varian baru, dan cakupan vaksinasi yang belum mencapai target maka IDAI menilai kebijakan membuka sekolah atau melangsungkan pembelajaran tatap muka belum aman diterapkan.

Ketua Umum IDAI Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, (K), FAAP, FRCPI mengatakan, sampai saat ini semakin banyak anak usai sekolah yang terinfeksi COVID-19.

"Populasi umur 12-17 tahun adalah populasi yang paling banyak meninggal dari data Indonesia sekitar 30 persen. Jika ingin memulai sekolah, bukan melihat jumlah berapa banyak yang diiumunisasi, tetapi positive range yang paling penting dan kesiapan keluarga," ucap Aman melalui IGTV IDAI, Selasa, 19 Juni 2021.

Namun, jika pemerintah tetap melangsungkan pembelajaran tatap muka, maka ada beberapa syarat dan rekomendasi yang diajukan oleh IDAI.

Rekomendasi tersebut dinilai agar tidak ada klaster sekolah. Mari simak Moms rekomendasinya.

Baca Juga: Cara Mencuci Baju untuk Menghindari Kontaminasi COVID-19

Rekomendasi IDAI untuk Sekolah Tatap Muka

sekolah COVID-19

Foto: Orami Photo Stock

Rencana sekolah tatap muka yang akan dimulai Juli 2021 masih memunculkan pro kontra bagi kalangan orang tua siswa.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menegaskan semua sekolah wajib menawarkan opsi belajar tatap muka mulai Juli 2021.

Nadiem menegaskan ketika sekolah dibuka, orang tua dan siswa bisa memilih untuk belajar daring maupun luring. Pembelajaran tatap muka juga tidak diperkenankan bagi siswa dengan penyakit komorbid.

dr. Aman juga mengatakan anak yang belajar secara luring maupun daring pun harus memiliki hal dan perlakuan yang sama dalam kegiatan belajar dan mengajar.

Tak hanya itu, IDAI juga menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan jika sekolah tatap muka kembali dilaksanakan.

Baca Juga: Kabar Duka! Aria Baron Eks GIGI dan 9 Artis Ini Meninggal Dunia karena COVID-19

Berikut poin panduan bagi orang tua, sekolah, evaluator dan pihak penyelenggara:

Panduan sekolah tatap muka untuk pihak penyelenggara, orang tua, dan evaluator

  1. Semua guru dan pengurus sekolah yang berhubungan dengan anak dan orang tua atau pengasuh harus sudah divaksin.
  2. Buat kelompok belajar kecil. Kelompok ini yang berinteraksi secara terbatas di sekolah. Tujuannya jika ada kasus konfirmasi positif, contact tracing dapat dilakukan secara efisien.
  3. Jam masuk dan pulang sekolah harus bertahap untuk menghindari penumpukan siswa.
  4. Penjagaan gerbang dan pengawasan diperlukan untuk mencegah kerumunan di gerbang sekolah.
  5. Jika menggunakan kendaraan antar jemput, pastikan semua memakai masker dan menjaga jarak serta membuka jendela mobil.
  6. Buka semua jendela kelas. Gunakan area outdoor jika memungkinkan. Jika berada di ruang kelas tertutup pastikan memakai High Efficiency Particulate Air (HEPA) filter.
  7. Membuat pemetaan risiko siswa dengan komorbid, orang tua siswa dengan komorbid, atau tinggal bersama lansia atau guru dengan komorbid. Anak dengan komorbiditas atau penyakit kronik sebaiknya tetap belajar secara daring.
  8. Idealnya sebelum membuka sekolah, semua anak maupun guru dan petugas sekolah harus melakukan tes SWAB dan secara berkala dilakukan pemeriksaan SWAB ulang.
  9. Ada fasilitas cuci tangan di lokasi-lokasi strategis di sekolah (sebelah kelas, sebelah toilet, dan lain-lain).
  10. Jika ada anak atau guru atau petugas sekolah masuk kriteria suspek, maka harus bersedia melakukan tes SWAB.
  11. Sekolah dan tim UKS menyiapkan alur mitigasi jika ada warga sekolah yang sakit dan sesuai kriteria diagnosis suspek atau probable atau kasus terkonfirmasi COVID-19.
  12. Melatih siswa untuk menggunakan masker secara benar dan menyediakan tempat pembuangan masker, serta menyediakan masker cadangan.
  13. Melatih anak untuk, tidak memegang mata, hidung, dan mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, tidak bertukar alat minum atau peralatan pribadi lainnya, etika batuk dan bersin, Mengenali tanda COVID-19 secara mandiri dan melaporkan jika ada orang serumah yang sakit, dan tidak melakukan stigmasasi terhadap teman yang terinfeksi COVID-19.
  14. Dukungan mental orang tua, membantu anak belajar sistem blended learning, Memperhatikan kesehatan mental anak hingga Jika anak sakit atau perlu isolasi, sekolah menekankan pentingnya tetap ada di rumah, tanpa takut soal pengurangan nilai.

Menurut dr. Aman persiapan sekolah tatap muka, bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun pihak sekolah, tetapi juga peran orang tua sangat penting dalam mengedukasi.

Baca Juga: Tempat Makan Jadi Klaster dengan Risiko Penyebaran Covid-19 Tertinggi, Ini Penjelasannya

Nah itu dia Moms rekomendasi IDAI untuk Sekolah Tatap Muka. Jika pemerintah meresmikan perencanaan tersebut, semua keputusan ada pada Moms.

Jadi, pastikan Moms mengetahui kondisi Si Kecil, ya!

  • https://www.idai.or.id/tentang-idai/pernyataan-idai/rekomendasi-ikatan-dokter-anak-indonesia-mengenai-pembukaan-sekolah-di-masa-pandemi
  • https://www.instagram.com/p/CQs1T7WH2yb/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait