Newborn

NEWBORN
17 Desember 2020

Resusitasi Bayi Baru Lahir, Ini Hal-hal yang Perlu Moms Ketahui!

Beberapa bayi baru lahir dengan kondisi tertentu, harus mendapat resusitasi agar dia dapat bernapas secara mandiri
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ria Indhryani
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Apa yang dimaksud dnegan resusitasi bayi baru lahir? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Oksigen adalah salah satu komponen utama yang menjadi bahan bakar kehidupan manusia. Semua sel dan organ dalam tubuh manusia membutuhkan suplai oksigen yang terus menerus dan tidak terputus untuk bertahan hidup.

Faktanya, kebutuhan tubuh manusia akan oksigen dimulai bahkan sebelum kelahiran atau pada tahap paling awal perkembangan dan kehamilan janin. Selama kehamilan, bayi yang belum lahir bergantung pada tali pusat dan plasenta untuk pengiriman oksigen.

Dalam skenario terbaik, bayi berpindah dari rahim dan ke dunia dengan sedikit bantuan dari dokter atau tim medis berpengalaman yang akhirnya membuat proses persalinan menjadi lancar dan aman. Ketika semuanya berjalan dengan baik saat melahirkan, bayi dilahirkan ke dunia dan segera mulai bernapas sendiri tanpa bantuan apa pun.

Transisi dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterin ini adalah tahap terakhir persalinan yang kritis. Untungnya, sebagian besar bayi baru lahir (lebih dari 90 persen) menyelesaikan transisi ini ke pernapasan mandiri tanpa bantuan apa pun.

Namun, ada beberapa kasus atau sekitar 10 persen di mana bayi memerlukan intervensi dan bantuan khusus saat baru lahir, agar mulai bernapas sendiri atau dikenal dengan resusitasi bayi baru lahir.

Baca Juga: Mengenal Tes Apgar Score Untuk Bayi Baru Lahir

Pengertian Resusitasi Bayi Baru Lahir

Bayi baru lahir menangis.jpeg

Resusitasi bayi baru lahir atau neonatal adalah serangkaian intervensi yang digunakan untuk membantu jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi bayi baru lahir. Setelah bayi lahir, sangat penting bagi mereka untuk dapat segera bernapas sendiri.

Jika bayi baru lahir tidak dapat langsung bernapas sendiri, mereka berisiko mengalami asfiksia lahir yang dapat menyebabkan cedera otak serius bahkan kematian.

Berdasarkan sebuah penelitian, tercatat bahwa Asfiksia Neonatal atau bayi baru lahir yang mengalami asfiksia menyumbang 20,9 persen dari kematian bayi baru lahir.

Jadi, tujuan dari resusitasi bayi baru lahir adalah mencegah morbiditas dan mortalitas yang terkait dengan cedera jaringan hipoksia-iskemik (otak, jantung, ginjal) dan juga untuk membangun kembali respirasi spontan dan kerja jantung yang memadai.

Kapan Resusitasi Bayi Baru Lahir Dibutuhkan

Pemeriksaan bayi baru lahir.jpeg

Jika mengacu kepada tujuan resusitasi bayi baru lahir, maka tindakan ini diperlukan ketika bayi yang baru lahir menunjukkan kesulitan atau ketidakmampuan untuk bernapas sendiri setelah melahirkan. Pernapasan mandiri secara normal adalah sesuatu yang biasanya dapat diamati oleh dokter setelah bayi dilahirkan.

Ada indikator dan gejala lain dari kesulitan bernafas misalnya, kurangnya tangisan kuat yang normal atau detak jantung terpantau tidak normal. Semuanya tercatat dengan metode scoring APGAR, yaitu salah satu pemeriksaan fisik bayi yang dilakukan pada menit pertama dan kelima setelah bayi baru lahir.

Akan tetapi, pengamatan sederhana dari dokter tentang bayi yang menghirup dan menghembuskan napas adalah metode diagnosis utama. Namun patut diketahui juga bahwa ketika pernapasan abnormal diamati setelah melahirkan, dokter akan memiliki waktu yang sangat singkat dalam melakukan intervensi untuk menghindari bahaya pada bayi.

Untuk alasan ini, identifikasi awal berbagai faktor risiko akan lebih baik ketika proses dapat dipersiapkan sebelumnya dan dilakukan dengan maksimal.

Mengantisipasi kebutuhan potensial untuk resusitasi bayi baru lahir merupakan hal yang sangat penting. Ketika faktor risiko teridentifikasi sebelumnya, pengaturan dapat dibuat untuk memiliki tim resusitasi bayi baru lahir di ruang bersalin dan siap untuk segera turun tangan pada tanda pertama gangguan pernapasan.

Baca Juga: Bayi Kuning Saat Baru Lahir? Ini Penyebab dan Cara Merawatnya

Faktor Risiko Penyebab Dibutuhkannya Resusitasi Bayi Baru Lahir

Penyebab resusitasi bayi baru lahir.jpeg

Faktor risiko utama yang bisa menyebabkan bayi baru lahir memiliki masalah pernapasan dan membutuhkan resusitasi adalah prematuritas. Selama hari-hari dan minggu-minggu terakhir kehamilan cukup bulan, perubahan fisiologis kompleks terjadi untuk membantu mempersiapkan paru-paru dan sistem pernapasan bayi untuk transisi terakhir ke pernapasan mandiri.

Dalam beberapa hari terakhir sebelum persalinan normal, paru-paru bayi mulai memproduksi lebih sedikit cairan untuk persiapan bernafas. Kontraksi selama persalinan normal juga membantu proses keluarnya cairan dari paru-paru secara lebih maksimal.

Pada saat lahir, paru-paru harus cukup bersih untuk mulai bernapas dan dalam 6-10 jam setelah lahir, cairan paru-paru janin harus benar-benar bersih. Namun, ketika bayi lahir prematur, persiapan akhir paru-paru ini akan terganggu sehingga kemungkinan besar bayi prematur akan mengalami kesulitan bernapas.

Tidak hanya itu, terdapat berbagai faktor risiko dan gejala lain yang terkait dengan kebutuhan resusitasi bayi baru lahir, yaitu:

  • Hipertensi ibu atau penyakit kardiovaskular
  • Hamil kembar
  • Penggunaan narkoba/alkohol pada ibu
  • Trauma saat lahir
  • Usia ibu di atas 40 tahun
  • Makrosomia janin
  • Cairan ketuban bernoda mekonium
  • Infeksi pada ibu
  • Solusio plasenta

Baca Juga: Ternyata Ini Pentingnya Bayi Baru Lahir Menangis

Langkah dan Proses Resusitasi Bayi Baru Lahir

Resusitasi bayi baru lahir.jpeg

Proses resusitasi bayi baru lahir harus mengikuti pedoman yang sudah ditetapkan oleh organisasi terkait atau Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Pedoman ini biasanya menjadi dasar dari sebagian besar upaya resusitasi bayi baru lahir.

Langkah 1 Resusitasi Bayi Baru Lahir

Langkah pertama dalam resusitasi bayi baru lahir adalah pencegahan cold stress atau hipotermia. Cold stress adalah proses yang terjadi karena bayi yang baru lahir dengan cepat, kehilangan panas tubuh akibat meninggalkan lingkungan internal rahim yang hangat.

Cold stress dapat memicu penyempitan pembuluh darah dan dengan demikian mempersulit masalah pernapasan bayi baru lahir. Cold stress biasanya diatasi dengan meletakkan topi hangat di atas kepala bayi dan menempatkannya di bawah lampu yang bisa memberi kehangatan.

Langkah 2 Resusitasi Bayi Baru Lahir

Langkah kedua dalam upaya resusitasi bayi baru lahir adalah berfokus pada pembersihan jalur pernapasan bayi. Terkadang bayi kesulitan bernafas dan itu disebabkan oleh cairan yang berlebihan di mulut, tenggorokan, dan hidung.

Pengeluaran cairan obstruktif dari saluran napas bayi dilakukan dengan bulb syringe atau kateter isap. Instrumen dimasukkan ke dalam blok jalan napas dan digunakan untuk menyedot dan membersihkan cairan bebas. Proses ini disebut aspirasi.

Mulut biasanya disedot terlebih dahulu untuk menghindari tersedak yang sering disebabkan oleh aspirasi hidung. Untuk sebagian besar bayi baru lahir yang mengalami masalah pernapasan, resusitasi bayi baru lahir biasanya selesai setelah langkah 2 dan tidak diperlukan upaya intervensi lebih lanjut.

Oleh karena itu, setelah 2 langkah pertama selesai, dokter biasanya perlu membuat penilaian apakah bayi bernapas normal dan mendapatkan cukup oksigen sendiri. Jika penilaian ini menunjukkan bahwa bayi masih tidak bernapas dengan benar, langkah-langkah resusitasi yang lebih signifikan harus dilakukan.

Baca Juga: Mengenal 4 Masalah Gangguan Pernapasan Pada Bayi Baru Lahir

Langkah 3 Resusitasi Bayi Baru Lahir

Resusitasi bayi baru lahir.jpeg

Langkah ketiga dalam resusitasi bayi baru lahir adalah pemberian oksigen dan atau ventilasi manual. Ventilasi pada tahap ini biasanya dilengkapi dengan ventilator bag-mask.

Bayi dipindahkan ke posisi terlentang untuk memungkinkan saluran udara terbuka dan masker dengan ukuran yang tepat dipasang di atas mulut dan hidung. Dokter kemudian akan memampatkan kantong ventilasi dan memantau frekuensi jantung secara normal.

Jika frekuensi jantung naik secara normal saat kantong dikompresi, itu adalah indikasi udara masuk ke paru-paru. Namun jika proses ini tidak segera berhasil, biasanya dokter akan melakukan kompresi dada dengan ventilator.

Langkah 4 Resusitasi Bayi Baru Lahir

Jika bayi baru lahir terus menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan setelah menyelesaikan 3 langkah resusitasi pertama, opsi berikutnya adalah intubasi. Intubasi adalah prosedur pembedahan di mana selang pernapasan endotrakeal dipasang melalui tenggorokan dan dipasang ke ventilator mekanis.

Ini adalah prosedur pembedahan yang sulit dan membutuhkan keterampilan tingkat tinggi. Tidak semua dokter memenuhi syarat untuk melakukan ini sehingga sangat penting untuk memiliki seseorang atau tim medis yang mampuni.

Dalam beberapa kasus, kebutuhan akan intervensi khusus bahkan mungkin tidak terwujud sampai bayi lahir. Oleh karena itu, sangat penting bahwa penyedia layanan kesehatan tidak hanya berpengalaman dalam menangani kondisi medis bayi baru lahir yang mungkin memerlukan perawatan darurat, tetapi juga sangat memperhatikan tanda-tanda gawat janin yang dapat menyebabkan perlunya resusitasi bayi baru lahir.

Baca Juga: Yuk Ketahui Pentingnya Skrining Hipotiroid Untuk Bayi Baru Lahir

Perawatan Pasca Resusitasi Bayi Baru Lahir

Bayi di ruang NICU.jpeg

Setelah melakukan serangkaian resusitasi, tim medis biasanya akan melakukan evaluasi kembali semua tanda vital dengan mencari tanda bahaya dan mengukur glukosa darah. Penilaian skor APGAR retroaktif kembali dilakukan dan dicatat pada lembar pemantauan.

Pemindahan bayi baru lahir ke unit perawatan neonatal diindikasikan jika salah satu kondisi berikut ini terjadi, yaitu:

  • Bayi baru lahir diventilasi dengan masker selama 2 menit atau lebih
  • Skor Apgar adalah ≤ 4 dalam 1 menit atau ≤ 6 dalam 5 menit
  • Ada tanda bahaya

Baca Juga: Jangan Kaget, Ini 10 Hal yang Perlu Diketahui tentang Bayi Baru Lahir

Jika bayi baru lahir tampak baik (tidak ada indikasi untuk pindah pada ruang neonatal) atau jika transfer diperlukan, tetapi tidak memungkinkan, maka:

  • Tim medis harus melakukan observasi setidaknya selama 24 jam
  • Setiap 2 jam, pemeriksaan tanda-tanda bahaya dan pantau tanda-tanda vital dilakukan
  • Memastikam perawatan rutin
  • Ibu harus menyusui sesegera mungkin

Itulah beberapa hal yang perlu Moms ketahui tentang resusitasi bayi baru lahir. Jangan ragu untuk bertanya pada dokter ya!

Artikel Terkait