COVID-19

6 Juli 2021

3 Risiko Tidak Mau Vaksin COVID-19, Salah Satunya Long COVID, Waspada!

Vaksin mendorong pembentukan kekebalan spesifik tubuh agar terhindar dari tertular atau kemungkinan sakit berat
placeholder

Foto: Freepik.com

placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Pemberian vaksin COVID-19 semakin meluas. Pemberian vaksin COVID-19 diawali untuk lansia, lalu usia 18-59 tahun, dan yang terbaru untuk anak dan remaja usia 12-17 tahun. Namun, tidak sedikit yang menolak pemberian vaksin COVID-19.

Kasus COVID-19 kian meningkat setiap harinya, hingga 05 Juli 2021, total masyarakat yang positif terpapar virus corona telah mencapai angka 2.313.829. Dengan 1.942.690 pasien sembuh dan sebanyak 61.140 dinyatakan meninggal dunia.

Selain membuat kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, pemerintah juga melakukan upaya lain, yakni mempercepat vaksin COVID-19 hingga merata ke seluruh Indonesia.

Vaksin COVID-19 bertujuan untuk mendorong pembentukan kekebalan spesifik tubuh agar terhindar dari tertular ataupun kemungkinan sakit berat.

Selama belum ada obat yang defenitif untuk COVID-19, maka vaksin COVID-19 yang aman dan efektif serta perilaku 3M (memakasi masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak) adalah upaya perlindungan yang bisa dilakukan agar terhindar dari penyakit COVID-19.

Baca Juga: POGI Rekomendasikan Vaksin COVID-19 untuk Ibu Hamil, Cek Persyaratannya!

Manfaat Vaksin COVID-19

manfaat vaksin covid

Foto: Orami Photo Stock

Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI, vaksin secara umum adalah produk biologi yang diberikan kepada seseorang untuk melindunginya dari penyakit yang melemahkan, bahkan mengancam jiwa.

Vaksin akan bekerja dengan cara merangsang pembentukan kekebalan terhadap penyakit tertentu pada tubuh seseorang. Hingga akhirnya, tubuh akan mengingat virus atau bakteri pembawa penyakit, mengenali, dan tahu cara melawannya.

Sebagaimana manfaat dari vaksin lainnya, vaksin COVID-19 bermanfaat untuk memberi perlindungan tubuh agar tidak jatuh sakit akibat COVID-19 dengan cara menimbulkan atau menstimulasi kekebalan spesifik dalam tubuh dengan pemberian vaksin.

Semakin banyak masyarakat yang vaksin, maka semakin merata pula penyebaran target vaksin sehingga Indonesia diharapkan mencapai herd immunity atau kekebalan komunitas secara cepat.

Kekebalan komunitas atau herd immunity merupakan situasi dimana sebagian besar masyarakat terlindung/kebal terhadap penyakit tertentu sehingga menimbulkan dampak tidak langsung (indirect effect), yaitu turut terlindunginya kelompok masyarakat yang rentan dan bukan merupakan sasaran vaksinasi.

Baca Juga: Kabar Baik! Vaksin COVID-19 Sudah Bisa Diberikan pada Anak Usia 12-17 Tahun

Risiko Tidak Mau Vaksin COVID-19

menolak vaksin COVID-19

Foto: Orami Photo Stock

Sayangnya, ada beberapa masyarakat Indonesia yang menolak untuk vaksin COVID-19. Seseorang yang menolak vaksin ini bisa saja lebih berisiko mengalami hal-hal di bawah ini.

1. Memperlambat Terbentuknya Herd Immunity

Masyarakat yang tidak divaksin membuat cakupan vaksinasi COVID-19 lebih kecil sehingga mungkin memperlambat terbentuknya herd immunity. Padahal, herd immunity dapat mengurangi penyebaran virus, memutus rantai penularan, dan pada gilirannya akan menghentikan wabah.

Memang betul jika herd immunity juga bisa terbentuk tanpa vaksin atau secara alami. Namun, hal ini akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Mengingat syarat untuk mengalahkan virus adalah 70 persen penduduk terinfeksi penyakit untuk menciptakan kekebalan atau imunitas secara alami.

2. Memiliki Gejala Lebih Berat saat Terpapar

Apabila seseorang tidak menjalani vaksinasi, maka ia juga tidak akan memiliki kekebalan spesifik terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian vaksin COVID-19. Jadi, orang yang tidak vaksin lebih berisiko mengalami gejala yang lebih berat hingga rawat inap saat terpapar virus corona.

Meski vaksin tidak 100 persen membuat seseorang menjadi kebal dari COVID-19. Namun, vaksinasi akan mengurangi dampak yang ditimbulkan jika seseorang tertular COVID-19.

Menurut ahli yang dikutip dari Kompas.com, vaksin COVID-19 juga hampir sempurna dalam mencegah kematian sehingga penurunan kematian secara nasional menyembunyikan tingkat kematian akibat COVID-19 di antara orang yang tidak divaksinasi. Hal ini berarti, tingkat kematian menunjukkan bahwa orang yang tidak divaksinasi tidak dalam kondisi aman.

3. Berisiko Mengalami Long Covid

Selain rawat inap yang lebih tinggi dan risiko kematian, orang-orang yang belum divaksin COVID-19 berisiko lebih tinggi mengalami long covid. Long covid merupakan suatu kondisi di mana seseorang yang telah dinyatakan sembuh dari COVID-19 masih mengalami sejumlah gejala.

Menurut CDC, kasus long covid dapat terjadi pada orang-orang yang terinfeksi COVID-19 dengan gejala ringan dan bahkan mereka yang benar-benar tanpa gejala. Namun, beberapa ahli berpendapat, ada bukti yang lebih meyakinkan bahwa long covid cenderung terjadi setelah infeksi COVID-19 yang parah atau bergejala.

Yang jelas, Dr. Monica Gandhi, pakar penyakit menular dari Universitas California, San Francisco mengatakan, long covid tidak mungkin terjadi pada seseorang yang telah divaksinasi lengkap.

Baca Juga: Vaksin COVID-19 untuk Anak 3-11 Tahun Belum Dapat Lampu Hijau, Ini Alasannya!

Itulah beberapa informasi penting terkait manfaat vaksin COVID-19 beserta risiko yang mungkin ditimbulkan jika tidak melakukan vaksinasi. Semoga bermanfaat, ya.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait