Parenting Islami

23 Februari 2021

Ini Rukun Puasa dan Syaratnya Agar Ibadah Sah Dilakukan, Catat!

Ada syarat dan rukun puasa yang harus diketahui. Simak lebih lengkapnya dalam artikel ini
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Daftar isi artikel

Puasa atau shaum adalah sebuah ibadah yang luar biasa. Termasuk dalam rukun Islam yang lima, puasa diwajibkan untuk umat muslim saat Ramadan dan disunatkan di bulan-bulan dan waktu-waktu khusus lainnya.

Untuk menegaskan tentang wajibnya puasa, Allah SWT berfirman dalam Alquran, yakni: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183).

Bukan hanya berpahala, puasa juga baik untuk kesehatan. Salah satu manfaat puasa salah satunya saat berpantang dari semua atau makanan dan minuman tertentu akan menurunkan asupan kalori secara keseluruhan, yang dapat menyebabkan peningkatan penurunan berat badan seiring waktu.

American Journal of Clinical Nutrition menemukan, puasa dapat meningkatkan metabolisme dengan meningkatkan kadar neurotransmitter norepinefrin, yang dapat meningkatkan penurunan berat badan.

Harus ada syarat dan rukun puasa yang dipenuhi agar puasa masuk dalam kategori sah. Menurut para ulama ushul fikih, syarat adalah: “Sesuatu yang jika ia tidak ada maka suatu amalan dianggap tidak ada. Namun dengan adanya dia, belum tentu suatu amalan dianggap ada, yang ia terletak di luar amalan.”

Maksudnya, jika suatu amalan baik berupa ibadah atau akad muamalah, hilang darinya satu syarat saja maka amalan tersebut dianggap tidak ada atau tidak sah. Contohnya, wudhu adalah syarat shalat. Jika seseorang shalat tanpa wudhu maka shalatnya tidak sah. Dan wudhu ada di luar shalat.

Sedangkan rukun adalah: “Sesuatu yang jika ia tidak ada maka suatu amalan dianggap tidak ada. Namun dengan adanya dia, belum tentu suatu amalan dianggap ada, yang ia terletak di dalam amalan.” Rukun mirip dengan syarat, sebab jika tidak terpenuhi satu saja, amalan dianggap tidak ada atau tidak sah.

Bedanya, rukun berada di dalam amalan, sedangkan syarat berada di luar amalan. Contohnya terkait dengan rukuk dan sujud di dalam shalat. Shalat seseorang tidak sah jika kurang satu sujud atau kurang satu rukuk, baik karena sengaja atau lupa. Sedangkan rukuk dan sujud ada di dalam shalat. Berbeda dengan wudlu sebagai contoh di atas.

Dirangkum dari berbagai sumber, simak penjelasan rukun puasa dan syaratnya di bawah ini.

Syarat dan Rukun Puasa

Rukun Puasa

Foto: Orami Photo Stock

Ada beberapa hal tentang syarat dan rukun puasa yang harus diperhatikan.

Baca Juga: Beda Karakter Anak, Beda Pula Cara Mengajarkan Puasa

1. Syarat Wajib Puasa

Maksudnya adalah seseorang dikatakan wajib menunaikan puasa apabila:

  • Sedang sehat atau tidak dalam keadaan sakit, serta sedang menetap atau tidak dalam keadaan bersafar. Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS Al Baqarah: 185).
  • Suci dari haidh dan nifas. Ini berdasarkan hadis dari Mu’adzah yang pernah bertanya pada ‘Aisyah RA tentang hal tersebut. Mu’adzah berkata: “Saya bertanya kepada Aisyah ‘Kenapa gerangan perempuan yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat’.”
  • Islam. Jumhur ulama berpendapat bahwa orang-orang kafir juga mukhaththab bi furu’isy syar’iyyah (menjadi objek hukum-hukum syar’i dalam masalah furu’). Sehingga mereka juga terkena kewajiban shalat, puasa, dan zakat.
  • Baligh. Ketika orang anak menginjak usia balig, barulah ia terkena beban syariat. Rasulullah SAW bersabda: “Pena (catatan amal) diangkat dari tiga jenis orang: orang yang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia balig, dan orang gila hingga ia berakal.” (HR. An-Nasa`i no. 7307, Abu Dawud no. 4403, Ibnu Hibban no. 143).
  • Berakal. Seseorang dikenai beban syariat ketika ia memiliki akal. Orang yang gila, pingsan, koma, tidak dikenai beban syariat hingga kembali akalnya. Dasar dalilnya sama seperti dalil baligh di atas.
  • Mukim (tidak sedang safar). Orang yang sedang dalam perjalanan jauh, tidak ada kewajiban untuk berpuasa. Allah SWT berfirman: “Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS Al-Baqarah: 184).
  • Mampu berpuasa. Orang yang tidak mampu berpuasa karena ada udzur seperti sakit, atau sudah tua, atau uzur yang lain, maka tidak ada kewajiban berpuasa. Allah SWT berfirman: “Allah tidak membebani manusia kecuali sesuai kemampuannya.” (QS Al-Baqarah: 286).

Baca Juga: 7 Cara Mudah Membangunkan Anak Sahur Agar Tidak Ngambek

2. Syarat Sah Puasa

Ada beberapa syarat sahnya puasa, yaitu:

  • Islam. Ini adalah syarat sah dari semua amalan. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Ma`idah: 27).
  • Tamyiz. Anak kecil yang sudah mumayiz jika melakukan ibadah dengan memenuhi syarat dan rukunnya, maka sah ibadahnya. Patokan tamyiz menurut para ulama adalah ketika seorang anak sudah bisa memahami perkataan orang lain secara umum dengan baik. Ini berdasarkan hadis dari ‘Abdullah bin ‘Abbas RA, yakni: “Seorang perempuan mengangkat seorang anak kecil (ke hadapan Nabi SAW), kemudian ia berkata: ‘Apakah anak ini hajinya sah?’ Nabi menjawab: ‘Iya sah, dan engkau mendapatkan pahala’.” (HR Muslim no. 1336).
  • Berakal. Orang yang tertutup akalnya, tidak sah dan tidak teranggap amalannya karena tidak ada niat dari dirinya.
  • Suci dari haid dan nifas. Perempuan yang sedang haid dan nifas tidak sah ibadahnya karena berada dalam kondisi hadas akbar. Dasar hadisnya telah disebutkan di atas.
  • Masuk waktu. Puasa hanya sah jika dikerjakan pada waktunya. Salah satunya ketika bulan Ramadan dan antara terbit fajar shadiq sampai tenggelam matahari. Allah SWT berfirman: “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS Al-Baqarah: 185).
  • Berniat. Niat merupakan syarat sah puasa karena puasa adalah ibadah sedangkan ibadah tidaklah sah kecuali dengan niat sebagaimana ibadah yang lain. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.” Namun ada yang melafadzkan niat, tapi ada juga yang tidak. Ini tergantung dari pemahaman seseorang.

Baca Juga: Ini Dia 10 Manfaat Puasa untuk Kesehatan

3. Rukun Puasa

Berdasarkan kesepakatan para ulama, rukun puasa adalah menahan diri dari berbagai pembatal puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT: “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS Al Baqarah: 187).

Dikutip dari studi di Universitas Darussalam Gontor, ada dua rukun puasa yang harus dimiliki jika seseorang hendak puasa, yakni niat dan upaya menahan diri.

1. Niat

Ulama Syafi’iyyah dan Malikiyyah berpendapat bahwa niat adalah rukun puasa, bukan syarat. Karena niat puasa selalu ada dalam diri seseorang, kecuali ia berniat membatalkan puasanya. Sedangkan ulama Hanabilah dan Hanafiyah berpendapat bahwa niat adalah syarat sah puasa, bukan rukun.

Karena niat dilakukan sebelum fajar, di luar puasa. Terlepas dari perbedaan ulama dalam masalah tersebut, orang yang berpuasa Ramadan wajib berniat di malam hari sebelum fajar. Tidak sah puasa orang yang tidak berniat.

2. Menahan diri

Tentunya mampu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga tenggelam matahari. Sebuah hadiis dari ‘Umar bin Khaththab RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika datang malam dari sini, dan telah pergi siang dari sini, dan terbenam matahari, maka orang yang berpuasa boleh berbuka.” (HR Al-Bukhari no.1954, Muslim no. 1100).

Ketika orang yang puasa memenuhi syarat sah dan rukun puasa, maka sah puasanya. Selamat belajar menahan dan mengontrol diri selama puasa.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait