Jalan-jalan

12 Juli 2021

3 Rumah Adat Maluku dan Filosofi Kehidupan yang Ada di Dalamnya

Ternyata ada filosofi unik loh dibalik rumah adat Maluku ini
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Merna
Disunting oleh Adeline Wahyu

Rumah adat Maluku menjadi salah satu warisan budaya leluhur yang harus dilestarikan. Indonesia yang sangat terkenal akan kekayaan ragam suku dan budayanya ini memiliki beragam jenis rumah adat.

Satu daerah saja bisa memiliki lebih dari satu jenis rumah adat. Tentu saja perbedaan jenis rumah adat di satu daerah ini dikarenakan fungsinya yang berbeda-beda sehingga arsitektur bangunannya tak ada yang sama.

Salah satu daerah di Indonesia yang punya rumah adat dengan beragam jenis adalah Maluku. Rumah adat Maluku selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal maupun asing yang sedang datang berlibur ke daerah yang terletak di bagian timur Indonesia ini.

Baca Juga: 25+ Inspirasi Kado untuk Bayi yang Paling Bermanfaat, Tak Perlu Bingung Lagi!

Rumah adat Maluku sebenarnya tidak jauh berbeda dengan rumah-rumah adat yang ada di daerah-daerah lain karena rata-rata rumah adat khas Indonesia ini masih menggunakan bahan-bahan alami alias tradisional seperti kayu, batang bambu, hingga dedaunan yang dikeringkan.

Uniknya, meski menggunakan bahan material yang alami, tapi rumah adat Indonesia justru terlihat lebih kokoh dan tahan lama. Coba saja kita perhatikan rumah-rumah adat yang ada di Indonesia, ada banyak yang usianya hingga mencapai puluhan hingga ratusan tahun.

Jenis Rumah Adat Maluku dan Keunikan Ciri Khas dan Filosofinya

Rumah adat Maluku juga tak hanya memiliki satu jenis saja, tetapi ada tiga jenis rumah adat Maluku yang hingga saat ini masih dilestarikan sehingga kita masih bisa melihatnya saat berlibur ke Maluku yakni ada rumah baileo, rumah sasadu, dan rumah hibualamo.

Untuk lebih jelasnya lagi, coba langsung kita lihat yuk Moms penjelasan lengkapnya di bawah ini!

Baca Juga: 3 Wisata Terbaru di Lembang. Semuanya Menarik!

1. Rumah Baileo

Rumah Baileo Maluku

Foto: polarumah.com

Jenis rumah adat Maluku yang pertama adalah rumah baileo. Rumah adat ini paling banyak dijumpai dan paling banyak digunakan sehingga dianggap sebagai perwakilan dari rumah adat Maluku.

Rumah adat baileo sebenarnya merupakan milik suku Huaulu yang merupakan penduduk asli Pulau Seram, Ambon. Saat akan mendirikan rumah adat Baileo akan diadakan semacam upacara ritual terlebih dahulu supaya bangunan bisa bertahan lama dan yang meninggalinya bisa selamat dari mara bahaya.

Dilansir dari kemdikbud.go.id, rumah baileo masih bisa dijumpai di Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah karena dijadikan sebagai warisan budaya sekaligus menjadi identitas masyarakat Maluku.

Ciri Khas:

Untuk ciri khas dari rumah adat Maluku ini, rumah baileo memiliki bentuk seperti rumah panggung yang lantai rumahnya dibuat lebih tinggi dengan tidak adanya dinding dan jendela.

Bentuknya persegi dengan pondasi bangunan yang terbuat dari kayu, papan, dan daun sagu atau daun rumbia sebagai atapnya.

Pada bagian depan masuknya akan ada sebuah tangga yang berukuran sekitar 1,5 meter. Lalu di sekeliling dalam rumah, terutama di bagian kayu penyangga akan ada ukiran ayam atau anjing yang berpasangan, bulan, bintang, dan matahari yang berwarna-warni.

Keunikan lainnya bisa dijumpai pada alas rumah baileo. Rumah adat Maluku ini memiliki alas yang menggunakan papan yang hanya disusun pada kerangkanya tanpa dipaku.

Meski tidak dipaku, tapi lantai rumah adat Baileo tidak bergeser apalagi berderit karena yang membangunnya menggunakan teknik kunci.

Filosofi:

Ukiran yang ada di bagian kayu-kayu penyangga rumah memiliki filosofi supaya masyarakat Maluku nantinya bisa menjaga keutuhan dan kebersamaan selamanya. Sedangkan penggunaan lantai rumah yang sengaja dibuat tinggi dimaksudkan supaya nantinya arwah leluhur bisa lebih leluasa keluar masuk bangunan rumah adat baileo.

Kegunaan:

Rumah baileo sebenarnya sangat multifungsi karena pada dasarnya rumah adat Maluku ini mencerminkan atau merepresentasikan adat masyarakat Maluku. Rumah Baileo awalnya hanya digunakan sebagai rumah raja atau kepala desa pada zaman dahulu.

Tapi lambat laun kegunaannya jadi lebih fleksibel. Rumah baileo bisa digunakan sebagai rumah tinggal, sebagai tempat diskusi bagi para tetua adat dalam membahas isu yang terkait dengan masyarakat setempat, sebagai rumah ibadah, hingga bisa digunakan sebagai balai desa.

Baca Juga: Catat! Ini 12 Pertolongan Pertama Saat Asam Lambung Naik

2. Rumah Sasadu

Rumah Sasadu Maluku

Foto: akamaized.net

Rumah adat Maluku yang selanjutnya adalah rumah sasadu yang merupakan milik dari masyarakat Suku Sahu yang sudah lama tinggal di Halmahera. Konsep dari rumah sasadu sama dengan rumah baileo yakni berkonsep terbuka alias tidak ada dinding serta jendela di dalamnya, tapi dari segi bentuk, keduanya sangat berbeda.

Rumah baileo masuk dalam jenis rumah panggung, sementara rumah sasadu tidak.

Ciri Khas:

Rumah sasadu memiliki bentuk ciri khas atap yang lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan bagian bawahnya. Rumah sasadu berbentuk mirip limas persegi dengan bentuk bawah yang melingkar dan ada tempat duduk kayu yang melingkar di sekeliling dalam rumah tersebut.

Bahan dasar pembuatan rumah sasadu adalah batang pohon sagu yang dijadikan sebagai pilar dan tiang-tiang bangunan. Sementara untuk bagian atap rumah adat Maluku ini menggunakan daun sagu yang dikeringkan dan dianyam.

Keunikan rumah sasadu terletak dari bangunannya yang tidak menggunakan paku sama sekali, tapi sebagai gantinya digunakan pasak kayu. Pasak kayu digunakan untuk memperkuat sambungan dan tali ijuk dari pengikat rangka atap.

Untuk lantai rumah adat Maluku ini tidak menggunakan kayu, melainkan dari semen sehingga pemeliharaannya jauh lebih mudah.

Filosofi:

Bentuk rumah sasadu yang terbuka serta tidak adanya pintu dan jendela ini mencerminkan keterbukaan, kestabilan, dan kearifan dari masyarakat Maluku. Bagian atapnya yang terbuat dari ijuk dan ukuran adat berbentuk perahu melambangkan bentuk kebanggaan masyarakat Maluku yang merupakan keturunan pelaut.

Kegunaan:

Nama ‘sasadu’ diambil dari kata ‘sasa-sela-lamo’ yang artinya besar dan kata ‘tatadus-tadus’ yang artinya berlindung. Jadi sebenarnya penggunaan rumah ini dimaksudkan sebagai tempat untuk berlindung masyarakat.

Rumah sasadu memang diperuntukkan untuk pelaksanaan ritual untuk keselamatan, syukuran, dan lain sebagainya.

Selain itu, jika sedang tidak ada acara ritual, rumah adat Maluku ini digunakan sebagai tempat pertemuan saat sedang mengadakan musyawarah dengan masyarakat sekitar.

Baca Juga: 5+ Destinasi Wisata di Blitar, Indah Memukau

3. Rumah Hibualamo

Rumah Adat Maluku Hibualamo

Foto: abdulromli.it.student.pens.ac.id

Rumah adat Maluku yang terakhir adalah rumah hibualamo. Meski terlihat lebih modern, rumah adat Maluku ini sebenarnya merupakan jenis rumah tertua di Maluku yang dipercaya sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Penamaan rumah hibualamo diambil dari kata ‘hibua’ yang artinya rumah dan ‘lamo’ yang artinya besar. Jadi artinya rumah yang besar. Berbeda dengan dua rumah adat Maluku sebelumnya, rumah hibualamo memiliki dinding seperti rumah modern pada umumnya.

Ciri Khas:

Seperti yang dijelaskan di atas, rumah hibualamo memiliki bentuk yang lebih modern karena memiliki dinding yang dibuat dari bata dan semen. Tapi jika kita melihat pada bagian atap rumah adat Maluku ini, bentuknya sangat tradisional sekali karena mirip dengan rumah adat Maluku lainnya yakni menyerupai perahu.

Untuk warna yang digunakan pada rumah hibualamo haruslah lima warna, yakni warna merah, hitam, emas, kuning, dan putih saja.

Baca Juga: Ini 10 Resep Minuman Segar Tradisional Indonesia, Cocok untuk Cuaca Panas

Filosofi:

Konstruksi rumah adat Maluku yang bagian atapnya menyerupai perahu ini mencerminkan kehidupan suku Tabelo yang sebagian besar menjadi pelaut dan nelayan.

Sementara bentuk segi delapan dan empat pintu masuk menunjukkan simbol empat arah mata angin.

Empat warna yang digunakan dalam rumah hibualamo memiliki arti tersendiri. Warna merah mencerminkan kegigihan perjuangan, warna kuning mencerminkan kecerdasan dan kekayaan, warna hitam mencerminkan solidaritas, dan warna putih mencerminkan kesucian.

Kegunaan:

Rumah adat Maluku ini sebagian besar difungsikan sebagai rumah tinggal yang akan ditinggali oleh keluarga besar.

Tapi selain dijadikan sebagai tempat tinggal, rumah hibualamo juga sering digunakan sebagai tempat berkumpul untuk musyawarah dalam menyelesaikan permasalahan dengan aturan adat.

Itulah informasi mengenai beragam jenis rumah ada Maluku. Mulai dari bentuk arsiteksturnya, filosofi, dan kegunaannya.

  • http://kapata-arkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kapata/article/view/278
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Sasadu
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Hibualamo
  • https://www.rumah.com/panduan-properti/rumah-adat-maluku-37677
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Baileo
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait