Kesehatan

24 September 2021

Serba Serbi Flu Tulang, Jangan Disepelekan!

Gejala yang dirasakan tergantung penyebabnya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Defara Millenia
Disunting oleh Adeline Wahyu

Penyakit flu tulang bukanlah suatu istilah medis yang baku, tetapi istilah ini sering kali digunakan masyarakat awam untuk menjelaskan mengenai penyakit dengan gejala demam dan nyeri persendian yang semakin parah.

dr. Hadianti Adlani, Sp.PD-KPTI Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik & Infeksi, RS Pondok Indah – Bintaro Jaya mengatakan, banyak orang yang masih salah mengira bahwa flu tulang adalah istilah untuk menyebut penyakit chikungunya. Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda.

Penyakit ini banyak ditemukan pada area tropis, seperti Afrika dan Asia Tenggara. Bila Moms mengalami demam disertai nyeri pada tulang dan persendian, bisa jadi itu adaah salah satu gejala flu tulang.

Lantas, apa itu flu tulang? Dan apa penyebabnya hingga pengobatannya? Yuk simak penjelasannya di bawah ini.

Baca Juga: 12 Manfaat Kulit Sapi untuk Kesehatan, Mengobati Sakit Maag Hingga Menurunkan Berat Badan

Pengertian Flu Tulang

flu tulang

Foto: Orami Photo Stock

Flu tulang adalah penyakit yang dapat disebabkan oleh semakin parahnya beberapa macam penyakit yang ditandai dengan rasa nyeri semakin hebat di bagian sendi.

Misalnya, pada influenza yang disebabkan oleh virus parvovirus B19, chikungunya, demam berdarah, dan lainnya yang mempunyai gejala nyeri pada persendian.

Penyakit ini terkadang juga diklasifikasikan ke dalam virus rematik karena efeknya terhadap sendi. Disebut sebagai flu tulang karena memengaruhi persendian.

Gejala dan Penyebab Flu

flu tulang cikungunya

Foto: Orami Photo Stock

Center for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa gejala flu tulang yang paling khas adalah demam dan nyeri di persendian, terutama sendi lutut, pergelangan, jari kaki, dan tangan, serta tulang belakang.

Namun, gejala flu tulang bisa berbeda-beda tergantung dari penyebabnya, yaitu:

1. Flu Tulang pada Chikungunya

Penyakit flu tulang yang disebabkan oleh virus chikungunya (CHIKV), adalah suatu virus alfa yang berasal dari keluarga Togaviridae. Virus ini dapat menulari manusia melalui gigitan nyamuk.

Nyamuk Aedes, seperti Aedes aegypti dan Aedes aebopictus,  merupakan jenis nyamuk yang paling umum menyebarkan virus chikungunya.

Melansir Journal Viruses, nyamuk Aedes juga diketahui menyebarkan penyakit demam dengue dan DBD. Nyamuk Aedes dapat menggigit seseorang yang sudah terinfeksi dengan virus chikungunya, lalu menyebarkan infeksinya dengan menggigit orang sehat sehingga terkena flu tulang.

Berikut gejala penyakit chikungunya:

  • Demam mencapai 39-40 derajat celsius
  • Muncul ruam di kulit, terutama wajah dan leher
  • Rasa sakit pada sendi di beberapa bagian tubuh, seperti pergelangan tangan, siku, punggung, lutut, pergelangan kaki, serta jari-jari tangan
  • Pembengkakan pada sendi yang mengalami nyeri
  • Tubuh kelelahan
  • Sakit otot

2. Flu Tulang pada Demam Berdarah (DBD)

Demam berdarah adalah penyakit lain yang juga diakibatkan oleh gigitan nyamuk Aedes, selain chikungunya.

Gejala flu tulang pada DBD serupa dengan chikungunya, yaitu demam tinggi mendadak, nyeri sendi, serta ruam kulit. Hal ini yang menyebabkan penyakit ini terkadang sulit dibedakan dengan chikungunya.

Namun, dibandingkan dengan penyakit chikungunya, penyakit DBD relatif berbahaya dan mengancam nyawa.

Baca Juga: 8 Jenis Kain untuk Gamis, Adem dan Nyaman!

3. Flu Tulang pada Influenza

Influenza juga sering dikaitkan dengan flu tulang. Influenza adalah infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan, seperti hidung, paru-paru, dan tenggorokan.

Sebuah penelitian Journal of Virology menunjukkan bahwa umumnya, penyakit flu tulang pada influenza dapat sembuh dengan sendirinya. Tetapi, ada kemungkinan influenza berkembang menjadi komplikasi yang lebih parah, terutama pada anak-anak di bawah 5 tahun, lansia, dan pasien pengidap penyakit kronis.

Gejala flu tulang pada influenza mudah dikenali, seperti:

  • demam
  • sakit kepala
  • batuk
  • hidung meler
  • nyeri sendi dan otot

4. Flu Tulang pada Rheumatoid Arthritis

Faktanya, flu tulang juga bisa menjadi bagian dari gejala penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis.

Rheumatoid arthritis adalah penyakit yang disebabkan oleh sistem imun tubuh menyerang jaringan di dalam tubuh sendiri, sehingga mengakibatkan peradangan kronis pada sendi.

Tak hanya sendi, apabila peradangan telah tersebar luas ke bagian tubuh lain, rheumatoid arthritis bisa memengaruhi kulit, mata, paru-paru, jantung, serta pembuluh darah.

Gejala rheumatoid arthritis pun serupa dengan penyakit flu tulang lainnya, yaitu:

  • demam
  • nyeri
  • pembengkakan
  • rasa kaku pada sendi.

5. Flu Tulang pada Osteomielitis

Osteomielitis adalah infeksi dan peradangan tulang atau sumsum tulang. Kondisi ini terjadi jika infeksi bakteri atau jamur Staphylococcus memasuki jaringan tulang dari aliran darah karena cedera atau operasi.

Penyakit ini umumnya terjadi pada pasien yang sedang terapi cuci darah atau mengidap kondisi medis tertentu termasuk infeksi pasca caesar.

Gejala flu tulang pada osteomielitis adalah

  • demam
  • rasa sakit dan bengkak di bagian tubuh yang terinfeksi
  • tubuh terasa lelah.
  • mual

Baca Juga: 5 Prosedur Pasang Behel hingga Jenis dan Biayanya yang Harus Diketahui

Pengobatan Flu Tulang

paracetamol.jpg

Foto: istockphoto.com

Flu tulang bersifat self limiting disease, jadi sembuh sendiri tanpa pengobatan spesifik. Gejala yang dirasakan ini umumnya akan membaik dengan sendirinya dalam 7–10 hari.

Namun dalam beberapa kasus, penyakit ini juga membutuhkan obat-obatan, seperti obat untuk mengurangi gejalanya seperti obat untuk menurunkan demam, anti peradangan untuk menghilangkan nyeri, antimuntah, dan multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Berikut ini jenis obat yang dikonsumsi untuk menyembuhkan flu tulang:

1. Paracetamol

Paracetamol digunakan untuk penurun demam dan pereda nyeri disebabkan oleh infeksi dan peradangan yang ringan hingga sedang.

Dosis penggunaan obat ini disesuaikan dengan usia dan kondisi penderita. Paracetamol biasanya tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 500 mg.

Untuk dewasa, paracetamol 500 mg dapat diminum tiap 4–6 jam sekali untuk meredakan demam. Sedangkan anak-anak dosis paracetamol cukup 325–650 mg per 4–6 jam atau 1.000 mg setiap 6–8 jam.

Paracetamol jarang menyebabkan efek samping. Namun, obat inu bisa menimbulkan beberapa efek samping berikut jika digunakan secara berlebihan:

  • Demam
  • Muncul ruam kulit yang terasa gatal
  • Sakit tenggorokan
  • Muncul sariawan
  • Tinja berwarna hitam atau BAB berdarah
  • Nyeri punggung
  • Tubuh terasa lemah

Ada beberapa hal yang harus Moms perhatikan sebelum mengonsumsi paracetamol, antara lain:

  • Jangan mengonsumsi dan menggunakan paracetamol jika memiliki riwayat alergi dengan obat ini.
  • Jangan mengonsumsi alkohol bersama dengan parasetamol karena dapat meningkatkan risiko kerusakan hati.
  • Jangan memberikan paracetamol kepada anak berusia di bawah 2 tahun tanpa petunjuk dari dokter.
  • Konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan paracetamol jika Moms menderita gangguan hati atau ginjal.
  • Beri tahu dokter jika Moms sedang mengonsumsi obat, seperti obat untuk epilepsi, tuberkulosis (TBC), obat pengencer darah, suplemen, atau obat herbal.

2. Aspirin

Aspirin juga dapat digunakan untuk meredakan demam dan nyeri. Hanya, obat ini tidak disarankan untuk dikonsumsi sebelum mendapat diagnosis yang tepat dari dokter.

Sebab, obat ini dapat menimbulkan efek samping perdarahan dan tukak pada lambung yang dapat memperparah DBD.

Dosis itu aspirin normalnya, rata-rata orang dewasa adalah 325-1000 miligram (mg) setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan.

Sedangkan anak-anak, dosis aman adalah 10-15 mg per kilogram setiap 4-6 jam. Namun, disarankan untuk tidak dikonsumsi oleh anak-anak berusia di bawah 18 tahun.

Seperti yang dilansir U.S National Library of Medicine, terdapat beberapa efek samping dari obat ini, yaitu:

  • Diare
  • Gatal-gatal
  • Nyeri perut
  • Ruam kulit
  • Mual

Ada beberapa hal yang harus Moms perhatikan sebelum menggunakan aspirin, antara lain:

  • Beri tahu dokter tentang riwayat alergi yang Moms miliki. Aspirin tidak boleh diberikan kepada pasien yang alergi terhadap obat ini.
  • Beri tahu dokter jika Moms menderita asma, perdarahan saluran pencernaan, atau gangguan pembekuan darah, seperti hemofilia atau rendahnya kadar vitamin K.
  • Jangan memberikan aspirin kepada anak-anak tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, karena penggunaannya pada anak-anak bisa meningkatkan risiko terjadinya sindrom Reye.
  • Beri tahu dokter jika Moms sedang hamil, menyusui, atau sedang merencanakan kehamilan.
  • Beri tahu dokter jika Moms sedang menggunakan obat, suplemen, atau produk herbal tertentu.

Baca Juga: 8 Rekomendasi Taman Bermain Anak di Jakarta untuk Wisata Edukasi

3. Tramadol

Pada kasus nyeri sedang dapat diberikan obat pereda nyeri seperti opioid ringan, yaitu obat tramadol.

Dosis tramadol untuk dewasa dan anak-anak 12 tahun ke atas adalah 50-100 mg/hari, setiap 4-6 jam.

Perlu diingat, konsumsi obat ini tidak boleh melebihi 400 mg per hari. Pada lansia di atas 75 tahun, dosis tramadol tidak boleh melebihi 300 mg per hari.

Beberapa efek samping yang dapat terjadi setelah menggunakan tramadol adalah:

  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Muntah
  • Kantuk
  • Mual
  • Konstipasi

Ada beberapa hal yang harus Moms perhatikan sebelum menggunakan tramadol, antara lain:

  • Hindari menggunakan tramadol jika Moms menderita asma, ileus paralitik, dan fenilketonuria.
  • Konsultasikan ke dokter jika Moms pernah mengalami gangguan organ hati, ginjal, kandung kemih, empedu, pankreas, dan kelenjar tiroid.
  • Beri tahu dokter jika Moms sedang menggunakan obat antidepresan dan obat penenang, serta vitamin dan obat herbal sebelum mengonsumsi tramadol.
  • Informasikan pada dokter jika Moms alergi pada tramadol atau obat golongan opioid lainnya, misalnya morfin.

4. Methadone

Jika Moms sudah mengalami nyeri berat hingga mengganggu aktivitas, biasanya dokter akan memberikan obat golongan opioid lebih kuat.

Obat ini tidak diperuntukkan untuk anak usia di bawah 18 tahun.

Dosis methadone berbeda-beda tergantung pada usia dari pengguna dan kondisnya. Untuk orang dewasa dosis awal 5-10 mg, setiap 6-8 jam sesuai kebutuhan.

Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi methadone adalah:

  • Perubahan emosi.
  • Gangguan penglihatan.
  • Gangguan tidur (insomnia atau hipersomnia).
  • Sakit kepala.
  • Sakit maag.
  • Pernapasan lambat.

Ada beberapa hal yang harus Moms perhatikan sebelum menggunakan methadone, antara lain:

  • Beri tahu dokter jika sedang atau pernah menderita gangguan jantung, penyakit hati dan ginjal, penyakit kandung empedu, penyakit tiroid, serta gangguan pankreas.
  • Beri tahu dokter jika sedang atau pernah mengalami gangguan mental, seperti depresi.
  • Methadone sebaiknya digunakan secara hati-hati terhadap pasien lansia atau pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, karena dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
  • Hindari mengonsumsi alkohol selama menjalani pengobatan dengan methadone, karena dapat meningkatkan risiko efek samping serius.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Hotel di Jogja, Cocok untuk Honeymoon hingga Babymoon!

Nah itu dia Moms penjelasan mengenai penyakit flu tulang. dr. Hadianti Adlani menyarankan sebelum mengonsumsi obat di atas sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

" Sebaiknya pemberian obat-obatan melalui konsultasi dengan dokter agar pemilihan obat lebih tepat dan efektif, serta mengetahui berbagai efek samping yang dapat dialami selama mengonsumsinya." Jelas dr. Hadianti Adlani.

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5744143/
  • https://journals.asm.org/doi/full/10.1128/JVI.02154-16
  • https://www.cdc.gov/chikungunya/
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/306828#symptoms
  • healthline.com/health-news/chikungunya-likely-in-united-states-050714#Symptoms,-Diagnosis,-and-Treatment-of-Chikungunya
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait