Pernikahan & Seks

Pasangan Melakukan Silent Treatment Kalau Ngambek? Ini Cara Mengatasinya

Silent treatment mungkin terlihat tidak berbahaya, tapi efeknya justru tidak baik, lho
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Agnes
Disunting oleh Intan Aprilia

Moms dan Dads apakah pernah menemui atau mengenal orang yang menolak berbicara ketika bersitegang? Sikap ini merupakan salah satu ciri dari silent treatment. Mari kita bahas mengenai silent treatment, cara mengatasi, dan apa saja efek terhadap pasangan.

Pengertian Silent Treatment

Silent treatment adalah perilaku di mana salah satu pasangan dalam suatu hubungan mengabaikan pasangannya, dan benar-benar berhenti mengakuinya melalui segala bentuk komunikasi.

Silent treatment biasanya terjadi setelah adu argumen yang intens antar individu. Umumnya, target dari perilaku silent treatment sering tidak menyadari konflik yang terjadi karena pihak lainnya belum mengomunikasikannya dan diam saja.

Perilaku ini tidak terbatas pada hubungan antara pria dan wanita saja, tetapi bisa terjadi antara orang tua dan anak, teman, maupun rekan kerja.

Silent treatment adalah suatu bentuk penolakan untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain.

Dikutip dari jurnal Violence and Victims, silent treatment dapat dikategorikan sebagai salah satu jenis kekerasan emosional terhadap pasangan. Orang yang melakukan silent treatment juga mungkin menolak untuk mengakui keberadaan orang lain.

Silent treatment juga menjadi alat ketika seseorang menggunakannya untuk mengontrol dan memanipulasi orang lain.

Diduga sejak tahun 1835, silent treatment adalah istilah yang digunakan sejak reformasi penjara sebagai alternatif hukuman fisik.

Diyakini bahwa melarang narapidana berbicara, memanggil mereka dengan nomor alih-alih nama mereka, dan memaksa mereka untuk menutupi wajah mereka sehingga mereka tidak dapat melihat satu sama lain, akan membuat mereka merefleksi atas tindak kejahatan mereka.

Silent treatment membuat para tahanan merasa menjadi sesuatu yang lebih buruk daripada penjahat. Mereka merasa tidak terlihat, tidak berharga, tidak berdaya. Para tahanan terus-menerus menerima jenis perilaku ini yang dapat merusak harga diri mereka.

Baca Juga: 5 Tanda Toxic Parent yang Kerap Tak Disadari

Penyebab dan Ciri-ciri Silent Treatment

Penyebab silent treatment

Foto: freepik.com

Dilansir dari Medical News Today, orang-orang yang melakukan silent treatment mengungkapkan beberapa alasan melakukannya, antara lain:

  • Sebagai bentuk penghindaran. Dalam beberapa kasus, seseorang memilih diam dalam percakapan karena mereka tidak tahu harus berkata apa atau ingin menghindari konflik.
  • Sebagai bentuk komunikasi. Seseorang mungkin mengambil sikap silent treatment ketika mereka tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya tetapi ingin pasangannya tahu bahwa dia kesal.
  • Sebagai bentuk hukuman. Jika seseorang diam saja untuk menghukum orang lain atau untuk melakukan kontrol dan kekuasaan atas mereka, sikap ini dapat digolongkan ke dalam bentuk kekerasan emosional.

Walaupun tidak selalu, silent treatment adalah salah satu ciri sikap yang biasanya dilakukan oleh orang-orang dengan penyakit mental dan gangguan kepribadian, seperti depresi, kecemasan berlebihan, borderline, dan gangguan kepribadian narsistik sebagai taktik untuk bertahan hidup, melindungi diri, atau bersikap manipulatif.

Lalu bagaimana ciri-ciri perilaku orang yang melakukan silent treatment? Dilansir dari Psychcentral, terdapat beberapa ciri-ciri perilaku yang menunjukkan seseorang melakukan tindakan silent treatment, yaitu:

  • Menolak untuk berbicara
  • Tidak mengakui apa yang seseorang katakan
  • Mengabaikan panggilan telepon, pesan teks, dan lain-lain
  • Berpura-pura tidak mendengarkan
  • Tidak mengakui perasaan dan pendapat
  • Pergi untuk waktu yang lama, lalu muncul kembali, bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi dan semuanya selalu baik-baik saja
  • Mengabaikan kebutuhan dan permintaan seseorang untuk berkomunikasi dengan jelas
  • Perilaku yang dimaksudkan untuk membuat mereka merasa tidak terlihat atau tidak valid

Baca Juga: Mengenal Toxic People, Ciri-ciri dan Cara Menghadapinya

Cara Mengatasi Silent Treatment

Bicarakan baik-baik

Foto: freepik.com

Berurusan dengan orang yang memilih melakukan silent treatment adalah hal yang sangat menyebalkan dan membuat hati tidak tenang. Ada beberapa cara mengatasi silent treatment, beberapa di antaranya yaitu:

1. Perjelas Situasinya

Cara mengatasi silent treatment yang pertama adalah menyadarkan bahwa seseorang sedang melakukan silent treatment.

Misalnya, katakan kepada si pelaku, "Saya merasa kamu tidak menanggapi saya". Dengan berusaha membuat pelaku sadar akan sikapnya, dapat menjadi dasar untuk terlibat komunikasi satu sama lain secara lebih efektif.

2. Gunakan Pernyataan 'Saya'

Moms dan Dads bisa memberitahu perasaan saat ini kepada orang lain dengan menggunakan pernyataan "saya".

Misalnya, penerima perlakuan silent treatment dapat menyampaikan, "Saya merasa sakit hati dan frustasi karena kamu tidak berbicara dengan saya. Saya ingin menemukan cara untuk menyelesaikannya."

Pernyataan sejenis ini berfokus pada perasaan dan keyakinan pembicara. Hal ini dapat menjadi cara mengatasi silent treatment yang perlu dilakukan.

Baca Juga: Apa Itu Hypnoparenting dan Bolehkah Diterapkan pada Anak?

3. Akui Perasaan Orang Lain

Cara mengatasi silent treatment selanjutnya adalah meminta pelaku untuk membagikan perasaannya.

Dengan meminta mereka berbagi perasaan, akan membuat mereka tahu bahwa perasaan mereka penting dan valid, sekaligus membuka jalan untuk percakapan.

Hindari bersikap defensif atau berusaha memecahkan masalah saat itu juga. Usahakan untuk tetap mendengarkan dengan penuh empati.

Jika lawan bicara tersebut merespons dengan cara yang mengancam atau melecehkan, ada baiknya menjauhkan diri terlebih dahulu sampai mereka tenang.

Bila perlu bicaralah dengan dokter, terapis, atau teman terpercaya untuk mendapatkan bantuan.

4. Minta Maaf Atas Kata-kata atau Tindakan

Memang sebaiknya hindari untuk meminta maaf atau menyalahkan diri sendiri atas perlakuan silent treatment oleh orang lain, karena memilih diam adalah cara lawan bicara untuk merespons.

Namun mungkin mereka perlu mendengar permintaan maaf dari Moms dan Dads yang mungkin secara tidak sadar telah berbicara sesuatu yang menyakiti perasaan.

5. Bersikap Tenang dan Atur Waktu untuk Menyelesaikan Masalah

Terkadang, seseorang memberikan silent treatment kepada orang lain karena sedang merasa terlalu marah, terluka, atau kewalahan untuk berbicara.

Mereka mungkin juga merasa takut mengatakan sesuatu yang malah akan memperburuk situasi.

Dalam kasus ini, akan sangat membantu jika setiap pihak meluangkan waktu untuk menenangkan diri sebelum bertemu kembali untuk membahas masalah dengan tenang.

6. Hindari Tanggapan yang Tidak Membantu

Usahakan untuk tidak memperburuk situasi atau memprovokasi orang yang diam untuk berbicara. Hal ini dapat menimbulkan lebih banyak konflik dan tidak menyelesaikan masalah.

Baca Juga: 5 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan setelah Bertengkar dengan Suami, Bahaya!

Efek Silent Treatment Terhadap Pasangan

Atur waktu untuk mengatasi silent treatment

Foto: freepik.com

Perilaku silent treatment tentunya dapat berpengaruh terhadap suatu hubungan dan memiliki efek terhadap pasangan.

Mengambil sikap silent treatment bukanlah cara yang produktif untuk mengatasi perselisihan.

Penelitian yang ditulis dalam jurnal Communication Monographs menunjukkan bahwa baik pria maupun wanita menggunakan silent treatment dalam hubungan.

Namun, komunikasi yang jelas dan langsung sangat penting untuk membangun hubungan yang sehat. Sikap silent treatment justru akan mencegah penyelesaian konflik dengan cara yang positif.

Ketika salah satu pihak ingin membicarakan masalah yang terjadi tetapi yang lain menarik diri, dapat timbul emosi negatif seperti kemarahan dan kesal.

Menurut penelitian yang ditulis dalam APA PsycArticle, orang yang sering merasa diabaikan juga melaporkan tingkat harga diri, rasa memiliki, dan makna yang lebih rendah dalam hidup mereka.

Oleh karena itu, sikap mendiamkan orang lain dapat berdampak negatif pada kesehatan suatu hubungan, walaupun pelaku bermaksud menghindari konflik.

Seseorang dengan pasangan yang menghindari konflik akan cenderung melanjutkan perselisihan karena mereka tidak memiliki kesempatan untuk membahas masalah mereka dan mencari solusinya.

Moms dan Dads, sikap silent treatment adalah cara komunikasi yang tidak produktif dan tidak efektif dalam sebuah hubungan. Walau bisa menjadi bentuk perlindungan diri, tetapi di sisi lain menunjukkan kekerasan secara emosional.

Baca Juga: 8 Penyebab Utama Masalah Komunikasi dalam Pernikahan

Orang yang secara teratur menggunakan atau mengalami silent treatment perlu mengambil langkah-langkah untuk mengatasinya. Jika ada tanda-tanda kekerasan lain, jangan ragu untuk mencari dukungan dari orang lain agar tetap aman.

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3876290/
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/silent-treatment
  • https://psychcentral.com/blog/permission-to-thrive/2020/04/how-to-respond-to-silent-treatments#Behaviors-of-the-Silent-Treatment
  • https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/03637751.2013.813632
  • https://psycnet.apa.org/doiLanding?doi=10.1037%2Fa0028029
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait