Pasca Melahirkan

19 Mei 2020

Sindrom Baby Blues: Pengertian, Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Ini merupakan kondisi yang umum terjadi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Intan Aprilia

Bagi beberapa ibu, melahirkan seorang anak bisa memengaruhi kondisi mentalnya.

Tidak sedikit dari para ibu yang memiliki sindrom "baby blues" di mana terjadinya perubahan suasana hati yang cepat.

Mengutip Healthy Children, sindrom baby blues termasuk dalam depresi yang dialami selama dan setelah kehamilan.

Depresi selama dan setelah kehamilan biasanya dibagi menjadi beberapa kategori berikut: (1) baby blues (2) depresi perinatal (meliputi depresi prenatal dan postpartum) dan (3) psikosis postpartum.

Ketahui lebih lanjut tentang pengertian, penyebab, gejala, dan pengobatan dari sindrom baby blues berikut ini.

Baca Juga: Mungkinkah Baby Blues Terjadi Saat Hamil, Bukan Setelah Melahirkan?

Pengertian Sindrom Baby Blues

baby blue-1

Foto: Orami Photo Stock

Melansir American Family Physician, setelah memiliki bayi, banyak wanita mengalami perubahan suasana hati.

Satu menit merasa bahagia, menit berikutnya mulai menangis. Kondisi ini dinamakan sindrom baby blues.

Sindrom baby blues adalah hal normal dari menjadi ibu baru, dan biasanya hilang dalam 10 hari setelah melahirkan. Bahkan, diperkirakan 50-80 persen dari semua ibu mengalami kondisi ini setelah melahirkan.

Namun, beberapa wanita punya gejala yang lebih buruk dan lebih lama, yang disebut "depresi pascapersalinan" atau PPD dan hal ini berbeda dengan sindrom baby blues.

Baca Juga: 7 Tips Mencegah Baby Blues, Rasa Sedih Setelah Melahirkan

Penyebab Sindrom Baby Blues

baby blue-2

Foto: Orami Photo Stock

Menurut American Pregnancy Association, penyebab pasti dari baby blues ini tidak diketahui.

Kondisi ini nampaknya berkaitan dengan perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan dan terjadi lagi setelah bayi lahir.

Perubahan hormon ini dapat menghasilkan perubahan kimiawi di otak yang menyebabkan depresi.

Selain itu, berubahnya rutinitas setelah melahirkan Si Kecil yang memunculkan gangguan tidur, dan emosi dari pengalaman persalinan itu sendiri juga dapat berkontribusi terhadap perasaan ibu baru.

Faktor dari baby blues dibawa oleh perubahan hormonal yang dramatis (kadar estrogen dan progesteron yang menurun, dan hormon menyusui meningkat), dan bisa juga karena kelelahan dan kenyataan bahwa Moms kini seorang ibu

Baca Juga: Baby Blues bisa Terjadi pada Ayah, Jangan Anggap Sepele!

Gejala Sindrom Baby Blues

baby blue-3

Foto: Orami Photo Stock

Sindrom baby blues sebagian besar dialami oleh para ibu baru, dan gejalanya mulai muncul di hari ketiga pasca melahirkan, di mana air susu ibu mulai terbentuk.

Mengutip Jurnal Manajemen Komunikasi Universitas Padjajaran, gejala yang dialami seorang ibu dari sindrom baby blues ini mungkin seringkali merasa sedih, marah, dan kadang-kadang cemas.

Beberapa diantaranya mungkin akan merasa bereaksi berlebihan terhadap situasi dan lebih mudah menangis. Mereka juga mengalami kesulitan tidur dan tidak merasa sangat lapar.

Gejala lain dari sindrom baby blues termasuk:

  • Menangis tanpa alasan jelas
  • Tidak sabar
  • Sifat mudah marah
  • Kegelisahan
  • Kelelahan
  • Insomnia (bahkan ketika bayi sedang tidur)
  • Merasa sedih
  • Perubahan suasana hati
  • Konsentrasi yang buruk

Tetapi, meskipun merasa tidak berdaya, seorang ibu dengan sindrom baby blues masih bisa terus merawat bayi mereka dan bahkan untuk diri mereka sendiri.

Baca Juga: 5 Makanan untuk Mengatasi Baby Blues, Bisa Membantu Mencegah Depresi!

Pengobatan Sindrom Baby Blues

baby blue-4

Foto: Orami Photo Stock

Sindrom baby blues akan menghilang selama beberapa hari. Tetapi, Moms mungkin bisa melakukan beberapa langkah untuk memperbaiki suasana hati sembari menerima fakta bahwa Moms kini adalah seorang ibu.

Mengutip WebMD, berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengelola kondisi sindrom baby blues:

  • Tidur sebanyak mungkin, dan istirahat ketika bayi sedang tidur siang.
  • Makanlah makanan yang baik dan sehat. Tubuh akan merasa lebih baik dengan konsumsi makanan penuh nutrisi.
  • Jalan-jalan. Olahraga, berjalan dan menikmati udara segar dan sinar matahari dapat memberikan ketenangan.
  • Terimalah bantuan ketika orang terdekat menawarkannya.
  • Bersantai. Jangan khawatir tentang pekerjaan rumah, fokus hanya pada diri Moms dan Si Kecil.

Baca Juga: 4 Hal Penting untuk Bertahan Menghadapi Depresi Pascapersalinan

Kecenderungan Depresi Postpartum

baby blue-5

Foto: Orami Photo Stock

Beberapa ibu bisa tidak berhasil dalam mengelola sindrom baby blues, yang kemudian berdampak pada depresi postpartum (PPD) atau depresi pascapersalinan.

American Psychological Association menyebutkan, bahwa sekitar setengah dari wanita yang didiagnosis PPD mungkin sudah mulai mengalami gejalanya selama kehamilan.

Depresi postpartum memengaruhi sekitar 10-15% ibu. Seorang ibu dengan kondisi ini mungkin merasa sedih, tidak berharga, atau bersalah. Dia mungkin tidak dapat berkonsentrasi atau tertarik pada apa pun, bahkan bayinya sendiri.

Mengutip Harvard Health, depresi postpartum ini juga bisa dialami oleh pria. Diperkirakan bahwa sebanyak 10 persen ayah mengalami depresi pospartum dalam tahun pertama setelah kelahiran sang anak.

Gejala dari kondisi depresi postpartum ini termasuk:

  • Suasana hati tertekan
  • Menangis
  • Kehilangan minat dalam aktivitas sehari-hari
  • Perasaan bersalah atau tidak berharga
  • Kelelahan, energi berkurang
  • Masalah tidur
  • Nafsu makan berubah
  • Tidak mampu berkonsentrasi
  • Ada pikiran bunuh diri

Dalam jurnal Wolters Kluwer Health, jika ibu dengan PPD tidak mendapatkan pengobatan, mereka mungkin mengalami depresi kronis. Sang ibu mungkin mengalami kesulitan untuk berhubungan dengan bayi mereka.

Selain itu, bayi yang baru lahir ini berisiko menangis berlebihan, gizi buruk, kurang tidur, keterlambatan perkembangan, dan kegagalan untuk berkembang. PPD yang tidak diobati juga dapat mengakibatkan bunuh diri, pembunuhan bayi, dan kerusakan fisik pada bayi baru lahir.

Dampaknya, pada anak-anak dari ibu dengan PPD lebih cenderung memiliki gangguan ADHD, masalah emosional, masalah perilaku, dan keterlambatan bahasa.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait