Kesehatan

28 Juli 2021

Sindrom Iritasi Usus Besar, Waspada Gejala, Penyebabnya, dan Faktor Risikonya!

Perempuan lebih berisiko menderita sindrom iritasi usus besar ketimbang laki-laki
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Floria Zulvi
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Sindrom iritasi usus besar adalah gangguan fungsional pada pencernaan yang dapat memengaruhi kinerja usus besar.

Mengutip dari jurnal Physiology, Large Intestine, usus besar memiliki 3 fungsi utama, yaitu menyerap air dan elektrolit, memproduksi dan menyerap vitamin, serta membentuk dan mendorong tinja menuju dubur untuk dieliminasi.

Mereka yang menderita sindrom iritasi usus besar, harus mengatasi masalah ini dengan mengubah pola makan dan gaya hidup, selain itu juga mengonsumsi berbagai macam obat. Namun, ini adalah kondisi kronis yang dapat dikendalikan, tetapi tidak dapat disembuhkan.

Baca Juga: Benarkah Kopi Memicu Maag? Ini 7 Cara Minum Kopi Agar Tidak Sakit Perut

Mengenal Sindrom Iritasi Usus Besar

sindrom iritasi usus besar

Foto: Orami Photo Stock

Dalam kedokteran, sindrom iritasi usus besar sendiri dikenal dengan berbagai nama yakni spastic colon, irritable colon, mucous colitis, dan spastic colitis.

Meski sama-sama menyerang usus besar, namun sindrom iritasi usus besar sendiri berbeda dengan radang usus dan tidak ada hubunggannya dengan kondisi usus lainnya.

Kondisi ini juga biasa disebut dengan IBS atau Irritable Bowel Syndrome. IBS sendiri merupakan sekelompok gejala usus yang biasnaya terjadi secara bersamaan.

Tingkat keparahan dari kondisi ini pun sangat bervariasi. Tentunya setiap orang bisa mengalami gejala yang berbeda.

Meski demikian, gejala tersebut biasanya akan terus dirasakan setidaknya selama 3 bulan atau setidaknya 3 hari dalam setiap bulannya.

Sindrom iritasi usus besar sendiri bisa menyebabkan kerusakan usus. Meski demikian, hal tersebut sangat jarang terjadi.

Penyebab Sindrom Iritasi Usus Besar

iritasi usus besar

Foto: Orami Photo Stock

Penyebab sindrom iritasi usus besar masih belum jelas. Hal ini mungkin dikarenakan masalah yang beragam dan disebabkan oleh berbagai faktor pada setiap orang.

Sebagai gangguan pencernaan fungsional, iritasi ini tampaknya disebabkan oleh masalah dalam bagaimana otak dan usus berinteraksi. Otot-otot di usus besar yang memindahkan makanan yang dicerna, pada penderita iritasi ini, akan sangat sensitif terhadap rangsangan atau pemicu tertentu.

Penderita iritasi ini mungkin memiliki perbedaan dalam motilitas usus, hipersensitivitas visceral, peradangan, dan bakteri usus. Kadang-kadang iritasi berkembang setelah infeksi pada saluran pencernaan kita.

Baca Juga: Waspadai Radang Usus Buntu! Kenali Penyebab dan Gejalanya

Meskipun jenis iritasi ini secara teknis tidak disebabkan oleh stres atau emosi yang kuat, beberapa orang mengalami gejala sindrom iritasi usus besar pertama, saat mengalami periode yang penuh tekanan dalam hidup, seperti kematian seorang kerabat atau kehilangan pekerjaan.

Baca Juga: 12 Penyebab Sakit Perut Sebelah Kanan Bawah Sampai ke Pinggang, Hati-hati!

Gejala Sindrom Iritasi Usus Besar

sindrom iritasi usus besar

Foto: Orami Photo Stock

Dilansir dari sebuah jurnal yang berjudul Irritable Bowel Syndrome: Epidemiology, Diagnosis and Treatment: An Update for Health-care Practitioners, 20% orang Amerika mengalami sindrom iritasi usus besar.

Kondisi ini bisa menyerang laki-laki dan juga perempuan. Meski demikian, beberapa sindrom iritasi usus besar sendiri memiliki gejala yang tak terlalu terasa.

Meski demikian, untuk sebagian orang lainnya gejala sindrom irtitasi usus besar bisa mengganggu kehidupan sehari-hari.

Saat berbicara mengenai sindrom iritasi usus besar, ada sejumlah masalah pada usus yang tidak menyenangkan.

Bukan hanya itu saja, intensitas dan tingkat keparahan gejala iritasi ini bervariasi dari orang ke orang, beberapa gejala yang paling dominan meliputi:

Baca Juga: Kenapa Kram Perut pada Masa Hamil? Simak Penjelasannya di Sini

Beberapa kram perut yang dirasakan mungkin akan hilang dengan buang air besar, tetapi yang lain mungkin mengalami kram dan kesulitan buang air besar. Tingkat keparahan gejala sindrom iritasi usus besar bervariasi dan bisa mulai dari yang agak menjengkelkan hingga menguras tenaga.

Namun perlu diingat, iritasi ini tidak mengarah pada penyakit kronis apa pun, seperti penyakit Crohn atau kolitis ulserativa, atau kanker usus. Namun, dapat meningkatkan kemungkinan beberapa masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

Jika Moms atau keluarga mengalami beberapa gejala di atas, sebaiknya langsung berkonsultasi dengan dokter.

Baca Juga: Rekomendasi Menu Diet Karbo Menurut Dokter Spesialis Gizi, Catat Moms!

Faktor Risiko Sindrom Iritasi Usus Besar

sindrom iritasi usus besar

Foto: Orami Photo Stock

Semua orang tentu saja memiliki risiko untuk terkena sindrom iritasi usus besar. Meski demikian, berikut orang-orang yang rentan terkena kondisi ini!

1. Perempuan

Jika dibandingkan dengan laki-laki, perempuan lebih banyak mengalami sindrom irtitasi usus besar. Tak hanya itu, terapi esterogen yang dilakukan sebelum dan setelah menopause pun bisa meningkatkan seseorang terkena sindrom ini.

2. Riwayat Keluarga

Seseorang yang memiliki riwayat keluarga memiliki faktor risiko lebih besar untuk terkena sindrom iritasi usus besar. Hal tersebut dikarenakan keluarga bisa menurunkan gen yang memiliki sifat yang sama untuk meningkatkan risiko pada generasi berikutnya.

3. Usia Muda

Sindrom iritasi usus besar sendiri biasanya menyerang lebih banyak orang yang berusia di bawah 50 tahun.

4. Riwayat ODGJ

Orang Dengan Gangguan Jiwa atau ODGJ bisa memiliki faktor risiko sindrom iritasi usus besar. Mereka yang memiliki kondisi anxiety, depresi, stres da gangguan jiwa lainnya pun memiliki risiko yang sama

Baca Juga: Efektifkah Diet Rendah Karbohidrat untuk Turunkan Berat Badan? Ini Penjelasannya

FODMAP Diet untuk Penderita Sindrom Iritasi Usus Besar

Jika dokter telah menyatakan bahwa Moms mengalami sindrom iritasi usus besar, ada baiknya Moms menerapkan diet rendah FODMAP.

Apa itu FODMAP?

fodmap

Foto: mhunters.com

FODMAP adalah sekumpulan karbohidrat rantai pendek yang kurang baik diserap di usus kecil yang kemudian difermentasikan oleh bakteri. Gas hasil fermentasi menyebabkan kembung dan sakit perut pada penderita sindrom iritasi usus besar

Dalam sebuah jurnal yang berjudul Fermentable Oligosaccharides, Disaccharides, Monosaccharides and Polyols (FODMAPs) and Nonallergic Food Intolerance dikatakan bahwa tidak semua orang sensitif dengan FODMAP, namun hal ini banyak terjadi pada mereka yang memiliki sindrom iritasi usus besar.

FODMAP sendiri merupakan singkatan dari fermentable oligosaccharides, disaccharides, monosaccharides, and polyol. Beberapa makanan yang tergabung dalam FODMAP dan perlu dihindari penderita sindrom iritasi usus besar di antaranya:

  • Oligosakarida: gandum, bawang putih, bombai, dan lain-lain
  • Disakarida: susu, yoghurt, keju lunak, dan makanan lain yang karbohidrat utamanya adalah laktosa
  • Monosakarida: mangga, madu, dan makanan lain yang karbohidrat utamanya adalah fruktosa
  • Poliol: leci, beberapa sayur dan buah lain, serta pemanis rendah kalori seperti sorbitol, mannitol, xylitol, dan maltitol

Baca Juga: 6 Makanan yang Baik Dikonsumsi Saat Asam Lambung Naik

Diet Rendah FODMAP

fodmap

Foto: healthblog.uofmhealth.org

Seperti dilansir oleh situs Healthline, empat studi berkualitas tinggi membuktikan bahwa mengikuti diet rendah FODMAP menaikkan peluang kesembuhan sakit perut sebesar 81% serta kembung 75%. Beberapa penelitian lain juga menyebutkan bahwa diet tersebut bisa mengatasi perut bergas, diare, dan sembelit.

Beberapa makanan rendah FODMAP yang bisa dikonsumsi penderita sindrom iritasi usus besar adalah:

  • Protein: daging sapi, ayam, ikan, domba, babi, udang, telur, tahu (bukan tahu sutera), tempe
  • Sumber karbohidrat: beras cokelat dan beras lain, jagung, oat, quinoa, kentang, serta biskuit dan camilan yang dibuat dengan bahan-bahan tadi tanpa tambahan bahan tinggi FODMAP (misalnya bombai, pir, dan madu)
  • Buah: pisang, kiwi, jeruk, pepaya, nanas, stroberi, anggur, melon, blueberry
  • Sayuran: tauge, paprika, wortel, terung, tomat, bayam, pok choi, kucai dan bagian hijau daun bawang, mentimun, selada, zucchini
  • Kacang-kacangan: almond (tidak lebih dari 10 butir per makan), macadamia, kacang tanah, pecan, walnut. Mete dan pistachio tidak termasuk

Baca Juga: 4 Penyakit Ini Ternyata Muncul karena Gangguan Asam Lambung

  • Biji-bijian: biji labu kuning, wijen, biji pinus, biji bunga matahari
  • Olahan susu: susu dan yogurt bebas laktosa serta keju keras seperti cheddar dan parmesan
  • Minyak: minyak kelapa dan minyak zaitun
  • Minuman: teh hitam, hijau, putih, dan peppermint, kopi, serta air
  • Bumbu: daun basil, cabai, jahe, lada, garam, mustard, cuka beras, dan wasabi

Daftar lengkap makanan tinggi dan rendah FODMAP bisa Moms lihat di sini.

Bagaimanapun juga, Moms perlu memastikan bahwa Moms mengalami sindrom iritasi usus besar sebelum menerapkan diet rendah FODMAP. Jika tidak, diet ini justru akan membawa lebih banyak keburukan daripada kebaikan.

Sebab, kebanyakan makanan FODMAP adalah prebiotik yang mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus dan cocok bagi penderita sindrom iritasi usus besar.

Nah itu dia Moms penjelasan mendalam mengenai sindrom iritasi usus besar. Ketika Moms atau keluarga didiagnosis memiliki kondisi ini, jangan lupa untuk mengganti pola hidup menjadi lebih sehat dan sudah ditentukan, ya! Yuk sama-sama menjaga kesehatan kita semua!

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507857/
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20074154/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3388522/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait