Kesehatan Umum

9 September 2021

Kenali Sleep Paralysis (Ketindihan): Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Merasa ketindihan saat tidur rupanya bukan disebabkan oleh makhluk halus, hal itu disebut sleep paralysis
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Widya Citra Andini

Terkadang saat sedang tidur seseorang atau bahkan Moms kerap merasa seperti ada sesuatu yang menimpa tubuh sehingga membuat tubuh terasa berat dan tak dapat bergerak. Kondisi ini disebut dengan istilah sleep paralysis, Moms.

Masalah tidur seperti ini sering dianggap sebagai sebuah hal yang mengandung mistis.

Banyak yang mengatakan bahwa hal seperti ini adalah sebuah peristiwa di mana Moms sedang ditindih oleh makhluk halus, padahal sebenarnya ada penjelasan medis untuk hal ini.

Yuk, simak penjelasan medis tentang peristiwa ketindihan saat tidur atau sleep paralysis di bawah ini!

Sleep Paralysis, Bukan Ketindihan

shutterstock 699899422

Foto: Orami Photo Stock

Merasa ketindihan saat tidur dikenal pula dengan istilah sleep paralysis atau kelumpuhan tidur.

Sleep paralysis adalah adalah perasaan sadar tetapi tidak bisa bergerak.

Saat mengalami ini ini, Moms mungkin tidak dapat bergerak atau berbicara selama beberapa detik hingga beberapa menit.

Bahkan beberapa orang mungkin juga merasakan tekanan atau rasa tercekik.

Kelumpuhan tidur dapat menyertai gangguan tidur lainnya seperti narkolepsi.

Narkolepsi adalah kebutuhan tidur yang sangat besar akibat masalah dengan kemampuan otak untuk mengatur tidur.

Menurut Sleep Foundation, kelumpuhan tidur dikategorikan sebagai jenis parasomnia.

Parasomnia merupakan perilaku abnormal saat tidur. Karena kondisi ini terhubung dengan tahap rapid eye movement (REM) dari siklus tidur sehingga kelumpuhan tidur dianggap sebagai parasomnia REM.

Baca Juga: Mengenal Sleep Apnea, Berikut Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya Moms

Gejala Sleep Paralysis

gejala sleep paralysis

Foto: Pexels/Ron Lach

Gejala mendasar dari kelumpuhan tidur adalah atonia atau ketidakmampuan untuk menggerakkan tubuh.

Hal ini biasanya terjadi segera setelah tertidur atau bangun, dan selama suatu episode, seseorang merasa terjaga dan menyadari hilangnya kontrol otot ini.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam U.S National Library of Medicine, diperkirakan 75% dari episode kelumpuhan tidur melibatkan halusinasi yang berbeda dari mimpi biasa.

Seperti atonia, ini dapat terjadi saat tertidur (halusinasi hipnagogik) atau bangun (halusinasi hipnopompik).

Halusinasi selama kelumpuhan tidur terbagi dalam 3 kategori, yaitu:

  • Halusinasi penyusup, yang melibatkan persepsi orang berbahaya atau kehadiran di dalam ruangan.
  • Halusinasi tekanan dada, juga disebut halusinasi inkubus yang dapat memicu perasaan mati lemas. Ini sering terjadi bersama dengan halusinasi penyusup.
  • Halusinasi motorik vestibular (V-M), yang dapat mencakup perasaan bergerak (seperti terbang) atau sensasi di luar tubuh.

Atonia sering kali terasa menyulitkan seseorang saat tidur, dan halusinasi yang mengganggu dapat membuat episode kelumpuhan tidur menjadi lebih mengganggu.

Karena alasan itulah sekitar 90% episode dikaitkan dengan ketakutan, sementara hanya sebagian kecil yang memiliki halusinasi yang lebih menyenangkan atau bahkan membahagiakan.

Berdasarkan Journal of Neuropsychiatric Disease and Treatment, episode sleep paralysis dapat berlangsung selama beberapa detik hingga sekitar 20 menit, dan durasi rata-ratanya adalah antara 6-7 menit.

Pada kebanyakan kasus, episode berakhir dengan sendirinya, tetapi kadang-kadang terganggu oleh sentuhan, suara orang lain, atau oleh upaya diri sendiri yang intens untuk bergerak dalam mengatasi atonia.

Baca Juga: Posisi Bayi Tidur Miring Berbahaya untuk Kesehatan, Ini Risikonya

Penyebab Sleep Paralysis

shutterstock 1028104852

Foto: Orami Photo Stock

Sebanyak 4 dari 10 orang sangat mungkin mengalami kelumpuhan tidur.

Kondisi umum ini sering kali terjadi pada masa remaja. Baik pria maupun wanita dari segala usia dapat mengalaminya.

Menurut penelitian dalam National Institute of Neurological Disorder and Stroke, kelumpuhan tidur memang dapat terjadi pada semua usia, tetapi gejala pertama sering muncul pada masa kanak-kanak, remaja, atau dewasa muda (usia 7-25 tahun).

Dan setelah dimulai pada masa remaja, episode sleep paralysis dapat berulang, bahkan bisa terjadi lebih sering ketika menginjak usia 20-an dan 30-an.

Faktor yang mungkin menyebabkan sleep paralysis ini meliputi:

  • Kurang tidur
  • Jadwal tidur yang berubah
  • Kondisi mental seperti stres atau gangguan bipolar
  • Tidur telentang
  • Masalah tidur lainnya seperti narkolepsi atau kram kaki di malam hari
  • Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti untuk ADHD
  • Penyalahgunaan zat.

Sementara itu, Quality of Life Research menyatakan bahwa beberapa kondisi kesehatan mental tertentu telah menunjukkan adanya hubungan dengan penyebab kelumpuhan tidur.

Misalnya, pada orang dengan gangguan kecemasan, termasuk gangguan panik, tampaknya lebih mungkin mengalami sleep paralysis.

Namun, beberapa hubungan terkuat, orang dengan gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dan orang lain yang pernah mengalami pelecehan seksual masa kanak-kanak atau jenis tekanan fisik dan emosional lainnya mungkin lebih mungkin mengalami sleep paralysis.

Menghentikan konsumsi alkohol atau obat antidepresan juga dapat menyebabkan rebound REM, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kelumpuhan tidur.

Selain itu, studi telah menemukan risiko yang lebih tinggi pada orang dengan riwayat keluarga kelumpuhan tidur, tetapi tidak ada dasar genetik spesifik yang telah diidentifikasi.

Beberapa penelitian lain dalam Journal of Sleep Research menemukan bahwa orang yang menunjukkan ciri-ciri imajinatif dan disasosiasi dari lingkungan terdekat mereka, seperti dengan melamun, lebih mungkin mengalami kelumpuhan tidur.

Dengan semua korelasi ini, masih belum diketahui apakah ada penyebab pasti yang mengakibatkan seseorang mengalami sleep paralysis.

Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan dalam menyelidiki korelasi ini untuk lebih memahami berbagai penyebab potensial kelumpuhan tidur.

Baca Juga: Cari Tahu Macam-macam Gangguan Tidur, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Cara Mengatasi Sleep Paralysis

shutterstock 764257327

Foto: Orami Photo Stock

Sebenarnya hal ini terbilang hal yang umum atau wajar saja, tetapi diperkirakan sebanyak 10% orang memiliki episode berulang atau mengganggu.

Akibatnya, mereka dapat mengembangkan pikiran negatif tentang pergi tidur, mengurangi waktu yang dialokasikan untuk tidur atau memicu kecemasan di sekitar waktu tidur yang membuat lebih sulit untuk tertidur.

Kurang tidur dapat menyebabkan kantuk yang berlebihan dan banyak konsekuensi lain bagi kesehatan seseorang secara keseluruhan.

Oleh karena itu, apabila terjadi beberapa hal berikut usai mengalami sleep paralysis, sebaiknya Moms segera periksa diri ke dokter:

  • Moms merasa cemas tentang gejala-gejalanya.
  • Gejalanya membuat Moms sangat lelah di siang hari.
  • Gejalanya membuat Moms terjaga di malam hari.

Kebanyakan orang tidak perlu perawatan untuk kelumpuhan tidur ini. Mengobati kondisi yang mendasari seperti narkolepsi dapat membantu jika Moms cemas atau tidak dapat tidur nyenyak.

Pengobatan untuk kelumpuhan tidur ini biasanya hanya meliputi:

  • Memperbaiki kebiasaan tidur, seperti memastikan Moms mendapatkan 6-8 jam tidur setiap malam.
  • Menggunakan obat antidepresan jika diresepkan untuk membantu mengatur siklus tidur.
  • Mengobati masalah kesehatan mental yang dapat menyebabkan kelumpuhan tidur.
  • Mengobati gangguan tidur lainnya, seperti narkolepsi atau kram kaki.

Baca Juga: Insomnia? Coba Ragam Obat Susah Tidur yang Alami Berikut Ini

Tidak perlu takut dengan sleep paralysis, cegah dengan memastikan Moms mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas. 

Lakukan apa yang Moms bisa untuk menghilangkan stres, terutama sebelum tidur. Moms juga bisa mencoba posisi tidur baru jika biasanya tidur telentang.

  • https://www.sleepfoundation.org/parasomnias/sleep-paralysis
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27460633/
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20577906/
  • https://www.ninds.nih.gov/disorders/patient-caregiver-education/fact-sheets/narcolepsy-fact-sheet
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30464663/
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27486325/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait