Bayi

BAYI
5 Februari 2020

Tata Cara Menggelar Aqiqah yang Disunahkan

Aqiqah, bentuk rasa syukur atas kelahiran Si Kecil untuk mendapat berkah. Bagaimana tata cara pelaksanaannya?
placeholder

Foto: shutterstock

placeholder
Artikel ditulis oleh Dita Indrihapsari
Disunting oleh Prita Apresianti

Kelahiran Si  Kecil tentu membawa kebahagiaan, ya, Moms. Sembilan bulan di dalam kandungan, akhirnya bisa bertemu buah hati.
Jauh hari sebelum hari lahir tiba, ada baiknya Moms dan Dads mempersiapkan budget-nya. Bukan hanya untuk biaya kelahiran dan segala perlengkapan Si Kecil, karena ada budget juga yang dikeluarkan untuk melakukan aqiqah.

Aqiqah dapat diartikan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas kelahiran bayi. Rasa syukur tersebut diwujudkan dengan memotong kambing dan dibagikan kepada saudara, tetangga, dan mereka yang membutuhkan. Aqiqah kerap diidentikan seperti pemotongan hewan kurban saat Idul Adha, namun tentu niat dan tata cara pelaksanaannya terdapat perbedaan.  

Berikut ini Tata Cara Aqiqah untuk Bayi

Segera pahami supaya Moms bisa mempersiapkan waktu dan budget untuk menggelar aqiqah buat Si Kecil tercinta.

Aqiqah dan Hukumnya

Tata Cara Aqiqah Bayi 1.png

Foto : pixabay

Berdasarkan tafsir sebagian besar ulama yang dinilai paling kuat, aqiqah hukumnya adalah sunnah muakad. Aqiqah menjadi ibadah yang penting dan diutamakan.

Bila mampu untuk melakukannya, orangtua sangat dianjurkan untuk  mengaqiqahi anaknya saat masih bayi.

Namun tentu karena bukan wajib, maka bagi yang tidak mampu untuk melaksanakannya pun aqiqah boleh ditinggalkan tanpa berdosa. 

Diriwayatkan Al-Hasan dari Sammuroh rodhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah bersabda "Semua anak tergadaikan dengan aqiqahnya yang disembelihkan pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberikan nama." (HR Ahmad 20722, At-Turmudzi 1605 dan dinilai shahih oleh Al-Albani). Ini adalah hadist yang paling kuat tentang disyariatkannya aqiqah.

Syariat untuk melakukan aqiqah hanya dapat Moms temukan di hadist-hadist Nabi Muhammad SAW, dan tidak dijumpai di dalam ayat Al Qur'an. Meski tidak ada Al-Qur'an, Ustadz Aris Munandar memberikan penjelasan bahwa seorang muslim tidak membeda-bedakan aturan dalam Al Quran dan hadist karena kita diperintahkan untuk taat kepada Nabi SAW sebagaimana kita taat kepada Allah dan ayat-ayat Al Qur'an.

"Aqiqah menjadi satu hal yang sangat familier dan tak terpisahkan di tengah-tengah kehidupan beragama kaum muslimin. Dan para ulama di masa salaf membenci dan tidak menyukai mereka yang bisa melakukan aqiqah namun meninggalkan syariat aqiqah," ujar Ustadz Aris Munandar.

Baca Juga : Sakral dan Sederhana, Ini Momen Aqiqah Anak Kembar Ratna Galih

Waktu yang Tepat Untuk Aqiqah

Tata Cara Aqiqah Bayi 2.png

Foto : pixabay


Menilik dari hadist shahih tentang aqiqah di atas, waktu untuk melakukan aqiqah pada Si Kecil dianjurkan pada hari ketujuh setelah kelahirannya. Cara menghitung hari ketujuh adalah dengan menyertakan hari kelahirannya. Misal, jika Si Kecil lahir di hari Senin, maka aqiqah dapat dilakukan di hari Minggu berikutnya.

Lalu, bagaimana jika tidak bisa melaksanakan aqiqah tepat pada hari ketujuh? Apakah bisa dihari lainnya? Dalam sebuah hadist dikatakan, "Penyembelihan hewan aqiqah bisa hari yang ke-7, hari ke-14, atau hari ke-21." Hadist ini dianggap sebagai hadist yang shahih oleh sebagian ulama.

Tata cara aqiqah di hari ketujuh kelahiran memang bukan harga mati, ya, Moms. Hari ketujuh setelah kelahiran dianggap sebagai saat yang paling afdol. "Jika tidak memungkinkan dilakukan pada hari tersebut karena masih lelah dan tidak sempat mengurusnya, aqiqah bisa dilakukan di hari ke-14 atau ke-21. Jika masih tidak bisa juga, maka aqiqah dapat dilaksanakan kapan saja.," tambah Ustadz Aris Munandar.

Aqiqah dapat dilakukan sampai ada kemampuan, bahkan jika sudah dewasa sekalipun. Nabi SAW pun mengaqiqahi dirinya sendiri ketika Beliau telah diutus menjadi seorang Nabi. Riwayat ini juga menjadi dasar dibolehkannya seseorang untuk mengaqiqahi dirinya sendiri apabila orangtuanya belum mengaqiqahi ketika kecil atau tidak memiliki kemampuan untuk itu..


Tata Cara Aqiqah Anak Laki-laki & Perempuan

Saat sudah meniatkan untuk mengaqiqahi Si Kecil, ada hal yang perlu diperhatikan, terutama untuk jumlah kambing yang akan disembelih. Dari hadist diriwayatkan, "Siapa dari kalian yang suka menyembelih atas kelahiran anak maka lakukanlah, anak laki dua ekor kambing yang cukup syarat, anak wanita dengan satu ekor" (HR Ahmad, Abu Dawun, An-Nasaa-i).

Sesungguhnya tata cara pelaksanaan aqiqah antara anak laki-laki dan perempuan sama saja. Hal yang membedakannya hanyalah pada jumlah hewan yang disembelih.

Pada anak laki-laki harus berjumlah dua ekor kambing yang sekufu atau keduanya mirip (sama usianya, sama jenisnya, sama ukurannya). Jika tidak sama persis, setidaknya mendekati. Sedangkan, untuk anak perempuan jumlah hewan aqiqah hanya satu kambing saja.

Apakah boleh jika aqiqah selain hewan kambing? Dari sabda Nabi, telah jelas bahwa hewan aqiqah adalah kambing, bukan hewan lainnya. Mengikuti sunnah nabi, maka kambing adalah satu-satunya pilihan.

Setelah proses penyembelihan hewan aqiqah dan membagikannya ke sanak saudara, tetangga, serta orang yang membutuhkan, jangan lupa untuk mencukur rambut Si Kecil dan memberikan nama yang baik sebagaimana sabda Nabi SAW.

Membagikan Aqiqah, Bolehkan Daging Mentah?

Tata cara aqiqah bayi 3.png

Foto : pixabay

Saat ini, kita banyak menjumpai, ya, Moms, tempat-tempat penyembelihan hewan aqiqah yang sekaligus memasak dan membuat hantaran berupa nasi kotak dengan berbagai lauk kambingnya. Hal ini sangat praktis dan tidak menyita waktu Moms untuk mempersiapkannya. Dan seperti halnya dalam berkurban, pihak keluarga pun diperkenankan untuk makan daging aqiqah.

Meski tidak biasa, namun ternyata hasil sembelihan aqiqah pun dapat diberikan dalam kondisi mentah. Membagikan aqiah dalam kondisi daging mentah dijelaskan oleh Imam Ibu Baz sebagai berikut:

Aqiqah yang sesuai syariat dan yang diajarkan dalam sunah sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hewan yang disembelih untuk kelahiran anak pada hari ketujuh. Dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan seekor kambing untuk anak perempuan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meng-aqiqahi Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhu. Dan sohibul aqiqah boleh memilih, boleh membaginya dalam bentuk daging (mentah) kepada para kerabat, kawan atau orang miskin. Bisa juga dia masak, kemudian mengundang kerabat, tetangga, atau orang miskin yang dia inginkan. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 4/262).

Nah, sudah paham kan sekarang tentang cara cara menyelenggarakan aqiqah untuk bayi tercinta?

Baca Juga : Resep Sate Kambing yang Lembut dan Gurih


Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait