Kesehatan

17 Januari 2021

Simak Segala Hal Tentang Kusta yang Harus Diketahui di Sini!

Penanganan kusta yang terlambat akan memperpatah kondisinya dan menyebabkan komplikasi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Ada banyak penyakit yang akan menyerang kulit saat ini, mulai dari yang biasa hingga level kronis yang membutuhkan pengobatan serius. Salah satunya adalah penyakit kusta. Menurut World Health Organization (WHO), kusta yang juga dikenal sebagai Hansen ini adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae.

Penyakit ini biasanya dapat menyerang kulit, saraf tepi, permukaan mukosa saluran pernapasan bagian atas dan juga mata. Kusta juga dapat menyerang semua usia, mulai dari bayi usia dini hingga usia sangat tua. Kusta kemungkinan besar ditularkan melalui tetesan, dari hidung dan mulut, selama kontak dekat dan sering dengan kasus yang tidak diobati.

Selain itu, kusta juga merupakan adalah salah satu penyakit tertua yang tercatat dalam sejarah. Referensi tertulis pertama yang diketahui tentang kusta berasal dari sekitar 600 tahun sebelum masehi, dikutip Egyptian Journal of Chest Diseases and Tuberculosis.

Penyakit kusta dapat dengan mudah ditemui di banyak negara, terutama negara yang beriklim tropis atau subtropis. Namun, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan bahwa hanya terjadi 150 hingga 250 kasus baru yang didiagnosis di Amerika Serikat setiap tahunnya.

Baca Juga: Dari yang Mudah Disembuhkan hingga Mengancam Jiwa, Ketahui Jenis-jenis Penyakit Kulit

Gejala Kusta

Salah satu hal yang harus diwaspadai adalah bila timbul gejala kusta. Beberapa di antaranya yakni:

  • Otot yang melemah
  • Mati rasa di tangan, lengan, kaki, dan tungkai
  • Lesi kulit

Lesi pada kulit akan menyebabkan penurunan sensasi saat disentuh, suhu yang berubah, atau terasa nyeri pada orang-orang yang tidak sembuh, bahkan setelah beberapa minggu. Warnanya juga terlihat lebih cerah dari warna kulit normal atau mungkin berubah menjadi memerah karena peradangan.

Gejala-gejala ini mungkin saja tidak muncul selama 20 tahun. Namun, bila kusta terlambat terdeteksi biasanya akan menimbulkan komplikasi ke beberapa penyakit kronis lainnya. Misalnya:

  • Rambut rontok, terutama di bagian alis dan bulu mata
  • Kerusakan saraf permanen yang terjadi di lengan dan tungkai
  • Ketidakmampuan menggunakan tangan dan kaki
  • Hidung tersumbat kronis, mimisan, dan kolapsnya septum hidung
  • Iritis, yaitu peradangan pada iris mata
  • Glaukoma, yaitu penyakit mata yang menyebabkan kerusakan pada saraf optik
  • Kebutaan
  • Disfungsi ereksi (DE)
  • Infertilitas yang biasanya terjadi para pria
  • Gagal ginjal
  • Kerusakan wajah, termasuk pembengkakan permanen dan adanya benjolan
  • Kelemahan otot yang menyebabkan tangan seperti cakar atau tidak bisa melenturkan kaki
  • Kerusakan permanen pada bagian dalam hidung, yang dapat menyebabkan mimisan dan hidung tersumbat yang kronis
  • Kerusakan permanen pada saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang, termasuk di bagian lengan, tungkai, dan kaki
  • Kerusakan saraf dapat menyebabkan hilangnya perasaan yang berbahaya. Jika seseorang mengalami kerusakan saraf terkait kusta, orang tersebut mungkin tidak merasa sakit saat terkena luka, luka bakar, atau cedera lain di tangan, tungkai, atau kaki.

Cara Kusta Menyebar

Kusta -1.jpg

Foto: Nlrinternational.org

Kusta diperkirakan dapat menyebar melalui kontak dengan sekresi mukosa orang yang terinfeksi. Ini biasanya terjadi ketika seorang penderita kusta bersin atau batuk. Penyakit ini tidak terlalu menular. Namun, kontak dekat dan berulang dengan orang kusta yang tidak diobati dalam waktu lama dapat menyebabkan seseorang tertular.

Bakteri mycobacterium leprae adalah bakteri yang menyebabkan kusta. Bakteri ini berkembang biak dengan sangat lambat. Penyakit ini memiliki masa inkubasi rata-rata atau waktu antara infeksi dan munculnya gejala pertama selama lima tahun, menurut World Health Organization (WHO).

Dilansir New England Journal of Medicine , armadillo asli Amerika Serikat bagian selatan dan Meksiko juga dapat membawa penyakit dan menularkannya ke manusia.

Tidak jelas persis bagaimana penyakit kusta ditularkan. Namun biasanya, ketika penderita kusta batuk atau bersin, mereka dapat menyebarkan tetesan yang mengandung bakteri mycobacterium leprae yang juga dapat dihirup oleh orang lain dan menjadi media penularan.

Kontak fisik yang dekat dengan orang yang terinfeksi diperlukan untuk menularkan kusta. Ini tidak menyebar melalui kontak biasa dengan orang yang terinfeksi, seperti berjabat tangan, berpelukan, atau duduk di samping mereka di bus atau di meja saat makan.

Tapi, ibu hamil penderita kusta tidak dapat menularkannya kepada bayinya yang belum lahir. Itu juga tidak ditularkan melalui kontak seksual. Cara untuk mencegah kusta yang paling aman adalah dengan tidak melakukan kontak langsung dan lama dengan penderita kusta, apalagi yang tidak diobati.

Baca Juga: 7+ Penyakit Kulit Bayi yang Perlu Diwaspadai, Wajib Tahu!

Jenis Kusta

Ada tiga sistem klasifikasi kusta, yakni:

1. Kusta Tuberkuloid, Lepromatosa, dan Borderline

Sistem pertama mengenali tiga jenis kusta: tuberkuloid, lepromatous, dan borderline. Respon imun seseorang terhadap penyakit menentukan jenis kusta yang di derita. Pada kusta tuberkuloid, respon imunnya baik. Seseorang dengan jenis infeksi ini hanya menunjukkan sedikit lesi. Penyakit ini ringan dan hanya menular ringan.

Pada kusta lepromatosa, respon imunnya buruk. Jenis ini juga mempengaruhi kulit, saraf, dan organ lainnya. Ada lesi yang meluas, termasuk nodul (benjolan dan benjolan besar). Bentuk penyakit ini lebih mudah menular.

Pada kusta borderline terdapat gambaran klinis kusta tuberkuloid dan lepromatosa. Jenis ini dianggap berada di antara dua jenis kusta lainnya.

2. Klasifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

WHO mengkategorikan penyakit berdasarkan jenis dan jumlah area kulit yang terkena:

  • Kategori pertama adalah paucibacillary. Ada lima lesi atau kurang dan tidak ada bakteri yang terdeteksi pada sampel kulit.
  • Kategori kedua adalah multibasiler. Ada lebih dari lima lesi, bakteri terdeteksi di apusan kulit, atau keduanya.

3. Klasifikasi Ridley-Jopling

Studi klinis menggunakan sistem Ridley-Jopling. Ini memiliki lima klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan gejala.

  • Kusta tuberkuloid: Gejalanya memiliki beberapa lesi datar, sebagian besar dan mati rasa, beberapa keterlibatan saraf. Ini dapat sembuh dengan sendirinya, bertahan, atau dapat berkembang menjadi bentuk yang lebih parah.
  • Kusta tuberkuloid garis batas. Gejalanya lesi mirip dengan tuberkuloid tetapi lebih banyak, lebih banyak keterlibatan saraf. Ini dapat bertahan, kembali ke tuberkuloid, atau berkembang ke bentuk lain.
  • Kusta batas tengah. Gejalanya terlihat seperti plak kemerahan, mati rasa sedang, kelenjar getah bening membengkak, lebih banyak keterlibatan saraf. Ini Bisa mundur, bertahan, atau berkembang ke bentuk lain.
  • Kusta lepromatosa borderline. Gejalanya akan menimbulkan banyak lesi, termasuk lesi datar, timbul benjolan, plak, dan nodul yang lebih mati rasa. Ini dapat bertahan, mundur, atau berkembang.
  • Kusta lepromatosa. Gejalanya banyak lesi dengan bakteri, rambut rontok, keterlibatan saraf yang lebih parah dengan penebalan saraf tepi, kelemahan anggota tubuh, penodaan tidak mundur.

Selain itu, seseorang mungkin juga mendengar dokter menggunakan klasifikasi yang lebih sederhana seperti ini:

  • Single lesion paucibacillary (SLPB): Satu lesi
  • Paucibacillary (PB): Dua sampai lima lesi
  • Multibacillary (MB): Enam atau lebih lesi

Diagnosis Kusta

Kusta -2.jpg

Foto: Istockphoto.com

Jika seseorang mengalami masalah kulit yang mungkin disebabkan oleh kusta, dokter akan mengambil sedikit sampel dan mengirimkannya ke laboratorium untuk diperiksa. Hal ini disebut juga dengan biopsi kulit. Dokter juga mungkin akan melakukan tes noda pada kulit.

Jika seseorang menderita kusta paucibacillary, tidak akan ada bakteri dalam hasil tesnya. Namun jika orang tersebut menderita kusta multibasiler, pasti ada bakteri dalam sampel tersebut. Seseorang juga mungkin memerlukan tes kulit lepromin untuk melihat jenis kusta yang diderita.

Untuk tes ini, dokter biasanya akan menyuntikkan sejumlah kecil bakteri penyebab kusta tidak aktif tepat di bawah kulit lengan bawah. Dokter juga akan memeriksa lokasi kulit yang menjadi tempat suntikan 3 hari setelah penyuntikan dan kemudian lagi 28 hari setelah itu.

Ini dilakukan untuk melihat apakah ada reaksi setelah penyuntikan. Jika memiliki reaksi, seseorang kemungkinan menderita kusta tuberkuloid atau tuberkuloid batas. Orang yang tidak menderita kusta atau orang yang menderita kusta kusta tidak akan bereaksi terhadap tes ini.

Baca Juga: 9 Infeksi dan Penyakit Kulit pada Anak yang Umum Terjadi, Wajib Tahu!

Cara Mengobati Kusta

Penyakit kusta sebenarnya bisa disembuhkan. Dalam 2 dekade terakhir, 16 juta penderita kusta telah sembuh. WHO pun telah mengembangkan Multi-Drug Therapy (MTD) pada 1995 sebagai cara mengobati semua jenis kusta.

Dan ini tersedia gratis di seluruh dunia. Selain itu, beberapa antibiotik juga dapat mengobati kusta dengan cara membunuh bakteri penyebabnya. Antibiotik ini meliputi:

  • Dapson (Aczone)
  • Rifampisin (Rifadin)
  • Clofazimine (Lamprene)
  • Minocycline (Minocin)
  • Ofloxacin (Ocuflux)

Namun, hal ini perlu berkonsultasi dengan dokter. Sebab, dokter kemungkinan akan meresepkan lebih dari satu antibiotik pada saat yang bersamaan. Dokter mungkin juga meresepkan obat anti inflamasi seperti aspirin (Bayer), prednison (Rayos), atau thalidomide (Thalomid).

Pengobatan kusta akan berlangsung selama berbulan-bulan dan mungkin hingga 1 hingga 2 tahun, tergantung pada jenis kusta yang dialami oleh seseorang. Dokter mungkin akan merekomendasikan pengobatan jangka panjang, biasanya selama 6 bulan sampai satu tahun.

Jika seseorang memiliki gejala kusta yang parah, orang tersebut mungkin perlu minum antibiotik lebih lama. Antibiotik tidak dapat mengobati kerusakan saraf akibat kusta. Terapi multidrug (MDT) adalah pengobatan umum untuk kusta yang menggabungkan antibiotik.

Itu berarti seseorang akan minum dua atau lebih obat, seringkali diselengi dengan antibiotik. Misalnya:

  • Kusta paucibacillary. Dokter akan meminta penderita kusta dengan meminum dua antibiotik, seperti dapson setiap hari dan rifampisin sebulan sekali.
  • Kusta multibasiler. Dokter akan meminta penderita kusta untuk meminum antibiotik clofazimine dosis harian selain dapson harian dan rifampisin bulanan. Seseorang akan menjalani terapi multidrug selama 1-2 tahun, dan kemudian orang tersebut akan sembuh.

Penderita kusta juga dapat mengonsumsi obat anti-inflamasi untuk mengontrol nyeri saraf dan kerusakan yang terkait dengan kusta. Ini bisa termasuk steroid, seperti prednison. Dokter juga terkadang mengobati kusta dengan thalidomide, obat ampuh yang dapat menekan sistem kekebalan.

Ini juga membantu mengobati nodul pada kulit pencerita kusta. Namun, thalidomide juga diketahui dapat menyebabkan cacat lahir yang parah dan mengancam jiwa. Jangan pernah meminumnya jika sedang hamil atau berencana untuk hamil.

Jika gejala awal kusta dapat ditangani dengan baik, kemungkinan waktu pengobatannya pun akan lebih pendek. Oleh karena itu, selalu konsultasi kepada dokter jika terlihat ada gejala kusta untuk mendapatkan penanganan dengan segera.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait