Gratis Ongkir minimum Rp 200.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Tips Cepat Hamil | May 24, 2018

Terapi Hormon untuk Hamil, Efektifkah?

Bagikan


Setiap pasangan tentu mendambakan kehadiran anak untuk melengkapi keluarganya. Sayangnya, tidak semua pasangan dapat memiliki anak dengan mudah. Ada beberapa orang yang mengalami masalah infertilitas dan sulit untuk hamil.

Untungnya, dengan kemajuan ilmu medis saat ini, banyak metode pengobatan yang dapat dicoba, seperti inseminasi buatan dan bayi tabung. Selain dua metode tersebut, pasangan yang kurang subur juga dapat mencoba hamil secara alami dengan terapi hormon.

Apa itu Terapi Hormon?

Salah satu penyebab tidak subur adalah hormon yang tidak seimbang. Hormon yang tidak seimbang bisa terjadi pada wanita atau pria. Namun, terapi hormon lebih banyak dilakukan pada wanita. Kondisi ini dapat menghambat terjadinya kehamilan, misalnya telur yang tidak matang atau kondisi lainnya.

Terapi hormon adalah pengobatan untuk menyeimbangkan hormon dengan menggunakan obat atau suntikan. Tujuannya adalah mematangkan sel telur dan memicu terjadinya ovulasi. Dengan hormon yang seimbang, diharapkan suami Istri dapat hamil secara alami.

Tingkat kesuksesan terapi hormon bervariasi, tergantung dari beberapa faktor seperti usia ibu dan level masalah hormon yang dihadapi. Angkanya sendiri berkisar pada 10 – 20 persen. Pada beberapa kasus, terapi ini dapat dilakukan selama beberapa bulan.

Baca Juga : 12 Tes Kesehatan yang Harus Dilakukan Sebelum Merencanakan Kehamilan

Masalah yang Dapat Diatasi dengan Terapi Hormon

Terapi hormon cocok untuk dilakukan pada wanita yang memiliki masalah-masalah hormon, seperti tidak ada ovulasi atau telur tidak matang. Penyebabnya adalah hormon androgen dan hormon estrogen yang tidak seimbang.

Wanita yang mengalami ini biasanya memproduksi sel telur dengan ukuran 6-8 mm (ukuran kecil), sementara ukuran telur yang siap dibuahi adalah 18-24 mm. Pada kasus ini, berarti tidak terjadi ovulasi.

Terapi hormon juga berguna untuk wanita yang mengalami Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), dimana terdapat kista-kista kecil dalam rahim yang menghambat sel telur untuk matang. Dengan menjalani proses terapi hormon, sel telur diharapkan dapat matang dan siap dibuahi.

Kelainan hormon lain adalah kurangnya hormon Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan/atau Luteinsing Hormone (LH). FSH berfungsi untuk membantu mematangkan sel telur dan LH berfungsi untuk melepaskan sel telur dari indung menuju ke saluran rahim. Kasus ini cukup jarang dibandingkan kasus sebelumnya.

Tingginya hormon prolaktin juga memengaruhi kesuburan, Moms. Prolaktin adalah hormon yang seharusnya muncul saat hamil untuk mencegah terjadinya ovulasi dan memproduksi ASI.

Hormon lain yang berhubungan dengan kesuburan adalah hormon tiroid. Kemungkinan hamil akan meningkat jika kadar tiroid dalam tubuh normal.

Gejala Hormon yang Tidak Seimbang

Hormon mungkin tidak dapat dilihat ya, Moms. Tapi, kelainan hormon memiliki gejala yang dapat dirasakan, kok. Walaupun akan dibutuhkan tes lebih lanjut untuk mengetahui apa kelainan hormon yang Moms alami. Berikut beberapa gejalanya:

  • Haid tidak teratur
  • Mengalami pendarahan
  • Kram perut yang sangat sakit
  • Tidak rutin mendapat haid tiap bulan (2 bulan sekali atau lebih)
  • Mengalami kenaikan atau penurunan berat badan yang drastis

Tahapan Terapi Hormon

Sebelum memulai terapi hormon, dokter akan memeriksa dulu siklus haid untuk melihat apakah ada ketidakseimbangan hormon.

Selain itu, dokter juga memeriksa perkembangan sel telur lewat USG. Pemeriksaan ini akan menentukan apakah terapi hormon dibutuhkan atau tidak, serta terapi hormon jenis apa yang dibutuhkan.

Tahapan kedua adalah proses terapi yang biasanya dilakukan pada hari ketiga hingga hari kelima menstruasi. Hormon akan dimasukkan dalam tubuh lewat oral atau injeksi. Setelah diberi petunjuk, Moms dapat melakukan injeksi ini sendiri.

Tahap terakhir adalah proses pemeriksaan oleh dokter di hari kedelapan haid. Dokter akan melihat apakah telur berhasil matang atau memerlukan hormon tambahan. Dokter kemudian akan merekomendasikan hari yang tepat untuk berhubungan intim.

Nah bagaimana, tertarik untuk mencoba terapi hormon?

(HIL)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.