Rupa-rupa

12 September 2021

Mengenal Toxic People, Ciri-Ciri dan Cara Menghadapinya

Belakangan ini istilah toxic people sering terdengar dan muncul di media sosial, siapa sebetulnya toxic people?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Intan Aprilia

Moms dan Dads mungkin mengenal seseorang dalam hidup yang sering menyebabkan berbagai masalah, menguras energi, menimbulkan stres, perasaan tidak nyaman, serta sakit secara fisik maupun emosional. Orang yang perilakunya menimbulkan perasaan-perasaan negatif seperti ini bisa disebut sebagai toxic people.

Tanda-tanda Moms dan Dads sedang berhadapan dengan toxic people dikutip dari WebMD, contohnya:

  • Merasa dimanipulasi untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin dilakukan
  • Terus merasa bingung dengan perilaku seseorang
  • Merasa dihutangi permintaan maaf yang tidak kunjung datang
  • Merasa harus menyiapkan alasan dan jawaban untuk membela diri
  • Merasa cemas, takut, dan tidak nyaman ketika mereka hadir
  • Menjadi merasa rendah diri dan tidak berharga

Toxic people bisa jadi siapa saja, seperti teman, rekan kerja atau atasan, hingga anggota keluarga sendiri.

Baca Juga: Kunci Bahagia, Ini 8 Cara Menghilangkan Pikiran Negatif

Apa Itu Toxic People?

Toxic people membawa energi negatif dalam berbagai aspek

Foto: freepik.com

Sebelum memutuskan apakah seseorang dalam hidup Moms dan Dads adalah toxic people dan mengambil tindakan, ada baiknya kenali dahulu siapakah sebetulnya toxic people ini.

Jodie Gale, psikoterapis di Australia, mengatakan bahwa secara keseluruhan mungkin seseorang bukan “beracun”, tapi bisa saja perilaku dan hubungan dengan orang tersebut toxic.

Toxic people kemungkinan pernah sangat terluka di masa lalunya, tapi belum dapat bertanggung jawab terhadap luka, perasaan, kebutuhan, dan masalah lainnya di kemudian hari.

Walaupun kepribadian toxic tidak termasuk ke dalam sebuah diagnosa gangguan kesehatan mental, tapi Walden University berdasarkan pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) edisi ke-5 mendeskripsikan kelakuan toxic sebagai salah satu tanda adanya gangguan kepribadian pada seseorang.

Dalam DSM juga dijelaskan bahwa ciri-ciri penting dari sebuah gangguan kepribadian adalah gangguan fungsi kepribadian (kepada diri sendiri maupun orang lain) serta adanya ciri-ciri kepribadian yang merugikan dan patologis.

Contohnya, orang yang mengidap gangguan narsistik mungkin juga akan cenderung berperilaku toxic karena tidak dapat mengenali atau mengidentifikasi perasaan dan kebutuhan orang lain.

Baca Juga: 5 Tanda Hubungan Toxic yang Malah Dianggap Normal

Hubungan dengan orang yang narsistik, sebagian besarnya tidak didasari oleh ketulusan dan hanya untuk meningkatkan harga dirinya.

Selain gangguan kepribadian, orang yang berperilaku toxic juga biasanya ditemukan memiliki latar belakang trauma dan stres yang sedang dihadapi.

Namun, toxic people tidak menangani trauma dan stres ini dengan baik dan biasanya malah menyakiti orang lain di sekitarnya.

Ciri-Ciri Toxic People

Ada beberapa ciri toxic people

Foto: freepik.com

Menurut psikoterapis Amy Tatsumi, Jika Moms dan Dads merasa perilaku seseorang adalah toxic, ini juga ada kaitannya dengan bagaimana Moms dan Dads bereaksi terhadap interaksi tersebut.

Reaksi ini termasuk perasaan dikhianati, menarik diri, mati rasa, atau menjadi terlalu akomodatif (selalu mengikuti kemauan orang lain).

Perilaku toxic ini biasanya terjadi karena telah melewati batasan pribadi serta mengabaikan nilai-nilai personal.

Kedua pihak memiliki peran dalam hubungan yang toxic, sehingga menyadari bagaimana Moms dan Dads bereaksi dan berinteraksi dengan orang tersebut dapat menjadi langkah pertama untuk menghadapi hubungan yang toxic.

Pada dasarnya, toxic people dapat dikenali dari beberapa tanda yang dapat Moms dan Dads rasakan setelah berinteraksi dengan mereka. Inilah beberapa tanda toxic people:

1. Menguras Energi

Setiap kali selesai bertemu atau berinteraksi dengan toxic people, Moms dan dads mungkin merasa capek dan lelah, tidak secara fisik, namun secara emosional.

Hubungan yang beracun dapat menyerap energi positif dalam diri, sehingga Moms dan Dads merasa tidak memiliki kekuatan dan kontrol atas diri sendiri dan perasaan.

Orang yang mengalami kelelahan secara emosional dapat berakibat timbulnya sikap apatis terhadap sesuatu atau orang lain, sehingga membawa dampak buruk lebih jauh ke dalam kehidupan sehari-hari Moms dan Dads.

2. Menggunakan Intimidasi dan Manipulasi

Toxic people umumnya menggunakan intimidasi dan ancaman untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Jika Moms dan Dads merasa terpaksa melakukan sesuatu yang tidak diinginkan karena diancam atau dimanipulasi, bisa saja orang ini adalah “racun” dalam hidup.

Ancaman ini juga bisa berupa ultimatum atau pilihan yang sangat sulit Moms dan Dads tolak, misalnya dipaksa memilih antara bekerja atau pemotongan gaji jika mengambil cuti sakit, atau membujuk untuk melakukan sesuatu dengan dalih hubungan pertemanan atau saudara.

Moms dan Dads mungkin tidak ingin melakukan sesuatu karena alasan yang bertentangan dengan prinsip, moral, atau nilai pribadi, atau mendatangkan kerugian.

Namun, seseorang yang berperilaku toxic akan mengancam, memanipulasi, atau menimbulkan perasaan bersalah, untuk mendorong Moms dan Dads melakukan yang mereka inginkan demi keuntungan pribadi mereka sendiri.

Baca Juga: 6 Tanda Toxic Relationship yang Harus Segera Diakhiri

3. Playing Victim

Toxic people umumnya tidak menyadari bahwa perilaku mereka terhadap orang lain sesungguhnya beracun.

Mereka malah sering merasa (atau meyakini) bahwa dirinya adalah korban, kemudian menyalahkan orang lain ketika terjadi sesuatu akibat perbuatannya sendiri.

4. Tidak Senang dengan Keberhasilan Orang Lain

Moms dan Dads kenal seseorang yang memberikan pujian, namun diikuti sesuatu yang negatif setelahnya?

Misalnya, memuji bahwa masakan Moms enak, tapi tidak cantik penyajiannya.

Toxic people biasanya tidak senang melihat orang lain bahagia dan merasa perlu menjatuhkan atau merendahkan kepercayaan diri orang lain, tidak peduli orang tersebut adalah pasangan, keluarga, teman, atau rekan kerja.

Toxic people mendapatkan kepercayaan diri dengan menjatuhkan orang lain agar dirinya merasa lebih baik, serta menunjukkan dirinya lebih baik daripada orang lain.

5. Emosinya Sulit Ditebak

Berinteraksi dengan seseorang yang toxic akan membuat Moms dan Dads mudah cemas dan sangat berhati-hati dalam menyampaikan atau berbuat sesuatu.

Toxic people yang juga terkadang memiliki masalah dengan pengelolaan emosi, dapat menjadi sangat sulit ditebak.

Terkadang mereka senang, tetapi juga dapat menjadi dingin, mudah marah, dan meledak tanpa diduga.

Mereka yang beracun menyadari bahwa orang-orang yang peduli atau membutuhkannya akan berusaha tidak membuat mereka kesal atau sedih.

Mereka pun memanfaatkan situasi ini untuk memanipulasi orang lain lewat emosi, kemudian mengontrol orang lain menurut keinginannya.

Baca Juga: 9 Tanda Anak dengan Toxic Parents, Moms Wajib Tahu!

Cara Menghadapi Toxic People

Mintalah dukungan orang lain untuk menghadapi toxic people

Foto: freepik.com

Journal of Health and Social Behavior telah menunjukkan bahwa hubungan sosial manusia memiliki efek jangka pendek dan panjang terhadap kesehatan, baik maupun buruk.

Efek dari hubungan sosial ini dapat muncul mulai dari masa kanak-kanak dan seiring kehidupan berjalan semakin terakumulasi memberikan keuntungan atau merugikan dalam kesehatan.

Orang-orang yang “beracun” tentunya tidak akan membawa pengaruh baik untuk kesehatan Moms dan Dads secara mental, yang akhirnya akan mempengaruhi kesehatan fisik.

Berbagai penelitian juga telah menemukan hubungan antara stres dan kecemasan sebagai salah satu faktor penyebab berbagai penyakit, seperti gangguan pada pencernaan sampai penyakit jantung.

Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengurangi dampak dari toxic people dalam hidup Moms dan Dads.

1. Buatlah Batasan

Langkah pertama adalah menyadari bahwa perkataan, perilaku, dan hubungan dengan orang ini adalah toxic.

Kemudian buatlah batasan personal dan tidak membiarkan toxic people melewatinya, misalnya membatasi percakapan menjadi lebih singkat, dengan topik yang umum, dan hindari memberikan informasi personal terlalu banyak kepada orang yang toxic.

2. Evaluasi Hubungan dengan Orang Tersebut

Selain itu, evaluasi kembali makna keberadaan orang tersebut dalam hidup Moms dan Dads, apakah opininya berharga untuk didengar dan keberadaannya membawa hal positif dalam hidup?

Jika tidak, sudah saatnya Moms dan Dads menjaga jarak secara emosional.

Cara lain adalah meminta dukungan teman atau kerabat lain yang tidak toxic, untuk membantu Moms dan Dads menjaga jarak atau melepaskan diri dari toxic people yang mengganggu hidup.

Walau tidak segala hal dalam hidup dapat dikontrol dan dipilih, Moms dan Dads dapat mencoba kembali fokus terhadap hal-hal yang dapat dikontrol.

Seperti, mengontrol emosi diri, mengontrol informasi yang akan dibagikan kepada orang lain, memilih untuk tidak memperdebatkan semua hal, dan lain-lain yang dapat membuat pikiran dan perasaan Moms dan Dads lebih tenang dan positif.

Baca Juga: Ciri-Ciri Toxic Parents, Apakah Moms Salah Satu di Antaranya? Simak Bahanyanya Bagi Anak!

Tidak mudah melepaskan diri dari toxic people, apalagi jika orang tersebut memiliki hubungan dekat dengan pribadi.

Lakukan selangkah demi selangkah agar Moms dan Dads dapat kembali memiliki hubungan yang sehat, ya.

  • https://www.webmd.com/mental-health/signs-toxic-person
  • https://www.waldenu.edu/online-masters-programs/ms-in-clinical-mental-health-counseling/resource/strategies-for-dealing-with-toxic-people
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20943583/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait