2-3 tahun

12 Juni 2021

Mengenal Tuna Grahita, dari Penyebab, Gejala, Hingga Bentuk Penanganannya

Kondisi ini juga bisa disebut keterbelakangan mental
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Lolita
Disunting oleh Amelia Puteri

Tuna grahita atau keterbelakangan mental merupakan kondisi seseorang yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata orang normal. Hal ini terjadi karena beberapa hal, salah satunya cedera otak atau otak tidak berfungsi normal.

Tuna grahita menyebabkan seseorang memiliki keterbatasan yang signifikan pada fungsi intelektual dan perilaku adaptif seseorang. Sebutan tuna grahita ini juga dikenal dengan nama 'disabilitas kognitif'.

Selain memiliki keterbatasan, melansir dari Center for Parent Information & Resources, tuna grahita juga menyebabkan IQ rendah serta kesulitan dalam menyesuaikan diri di kehidupan sehari-hari termasuk bersosialisasi.

Baca Juga: Penyebab Down Syndrome dan Cara Deteksi Dini Sejak dalam Kandungan

Dalam beberapa kasus yang lebih parah, tuna grahita mengakibatkan ketidakmampuan belajar, berbicara, bersosialisasi, dan beraktivitas fisik.

Umumnya, kondisi ini sudah bisa didiagnosis segera setelah pertumbuhan bayi. Namun, anak Moms mungkin akan kesulitan mendeteksi kondisi ini pada bayi yang baru lahir, sebab hampir semua kasus tuna grahita baru bisa didiagnosis ketika anak anak beranjak dewasa atau maksimal usia 18 tahun.

Ada empat level tuna grahita yakni ringan, moderat, berat, dan mendalam.

Namun tak jarang sebagian orang mengklasifikasikan tuna grahita dalam dua kategori yakni 'lain-lain' atau 'tidak ditentukan'.

Baca Juga: Ternyata Ini Penyebabnya Anak Down Syndrome Memiliki Wajah yang Mirip

Gejala Tuna Grahita

tuna grahita

Foto: Orami Photo Stock

Gejala tuna grahita tiap orang bervariasi berdasarkan tingkat kecacatan anak.

Namun, ada beberapa gejala umum yang dapat Moms jadikan panduan apabila mencurigai si kecil mengalami tuna grahita dilansir dari American Association on Intellectual and Developmental Disabilities.

  • Kegagalan untuk memenuhi tonggak intelektual
  • Duduk, merangkak, atau berjalan lebih lambat dari anak-anak lain
  • Masalah belajar berbicara atau kesulitan berbicara dengan jelas
  • Masalah memori
  • Ketidakmampuan untuk memahami konsekuensi dari tindakan
  • Ketidakmampuan untuk berpikir logis
  • Perilaku kekanak-kanakan yang tidak sesuai dengan usia anak
  • Kurangnya keingintahuan
  • Kesulitan belajar
  • IQ di bawah 70
  • Tidak mampu menjalani kehidupan mandiri
  • Sulit berkomunikasi
  • Sulit bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain

Baca Juga: Daftar Persiapan Mental untuk Ibu Hamil Sebelum Operasi Sesar

Apabila si kecil mengalami tuna grahita, maka anak akan melakukan sejumlah perilaku seperti:

  • Agresif
  • Ketergantungan
  • Menarik diri dari kegiatan sosial
  • Suka mencari perhatian
  • Depresi selama masa remaja
  • Kurangnya kontrol impuls
  • Pasif
  • Kecenderungan untuk melukai diri sendiri
  • Keras kepala
  • Rendah diri
  • Toleransi rendah hingga frustasi
  • Gangguan psikotik
  • Kesulitan memperhatikan

Beberapa orang dengan tuna grahita akan mengalami karakteristik fisik tertentu seperti perawakan pendek atau kelainan wajah.

Baca Juga: 7+ Perilaku Bayi Down Syndrome yang Perlu Moms Ketahui, Catat!

Penyebab Tuna Grahita

tuna grahita

Foto: Orami Photo Stocks

Sebagian besar kasus tuna tidak diketahui penyebabnya. Tapi, kondisi ini biasanya terjadi karena adanya penyakit, cedera, atau kerusakan fungsi otak.

Biasanya tuna grahita ini dialami oleh anak berusia di bawah 18 tahun. Tapi, sebagian besar kasus tuna grahita dapat diketahui ketika bayi masih dalam kandungan.

Namun, tak dipungkiri bahwa kasus tuna grahita dapat terjadi ketika anak beranjak remaja karena penyakit atau peristiwa yang menyebabkan kerusakan otak.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa meskipun penyebab tuna grahita masih belum diketahui secara pasti, tapi ada beberapa penyebab umum yang bisa Moms waspadai yakni:

Baca Juga: Apakah Bayi Down Syndrome Bisa Sembuh?

  • Kondisi genetik tertentu, seperti sindrom Down, fenilketonuria, atau sindrom X rapuh.
  • Sindrom alkohol janin
  • Kelainan bawaan atau malformasi otak
  • Beberapa infeksi, seperti meningitis, campak, atau batuk rejan
  • Paparan racun seperti merkuri atau timbal
  • Cedera kepala serius
  • Stroke
  • Penyakit ibu, seperti rubella, penggunaan narkoba, atau infeksi selama kehamilan
  • Masalah saat lahir, seperti oksigenasi yang tidak mencukupi
  • Malnutrisi ekstrim
  • Perawatan medis yang tidak memadai

Cara Mendiagnosis Tuna Grahita

tuna grahita

Foto: Orami Photo Stocks

Untuk dapat mendiagnosis seseorang mengidap tuna grahita, ada sejumlah evaluasi yang akan dilakukan oleh para ahli, dokter dan tenaga medis.

Meurut American Speech-Language-Hearing-Association menjelaskan (ASHA) Berikut ini tahapan yang akan dilakukan untuk mendiagnosis apakah anak memiliki tuna grahita?

  • Wawancara
  • Pengamatan
  • Tes kecerdasan umum meliputi Tes Kecerdasan Stanford-Binet untuk menentukan IQ anak.
  • Tes Vineland Adaptive Behavior Scales, yakni tes yang memberikan penilaian tentang keterampilan hidup sehari-hari dan kemampuan sosial anak dibandingkan anak-anak lainnya dalam kelompok usia yang sama.

Baca Juga: Dampak Memukul Anak pada Kondisi Mentalnya saat Dewasa

Tapi, Moms perlu mengetahui bahwa anak-anak dari budaya dan status sosial ekonomi yang berbeda akan melakukan tes secara berbeda pula. Hal ini dilakukan agar diagnosis dokter lebih akurat.

Selanjutnya, dokter akan melakukan proses evaluasi terhadap anak termasuk mengunjungi beberapa ahli seperti psikologi, ahli patologi bicara, pekerja sosial, ahli saraf, dokter anak, terapis fisik, hingga tes laboratorium.

Tahapan tersebut penting untuk mengetahui dan mendeteksi kelainan metabolisme dan genetik, serta masalah struktural pada otak anak.

Kondisi lainnya yang memungkinkan anak terdiagnosis tuna grahita ialah masalah gangguan pada pendengaran, gangguan belajar, gangguan neurologis, dan emosional hingga keterlambatan pertumbuhan.

Kemudian, dokter akan menggunakan hasil tes dan evaluasi ini untuk mengembangkan rencana perawatan dan pengobatan hingga pendidikan untuk anak yang mengidap tuna grahita.

Baca Juga: 4 Kebaikan Memelihara Binatang Peliharaan Untuk Kesehatan Mental Anak

Pengobatan untuk Tuna Grahita

tuna grahita

Foto: Orami Photo Stocks

Tuna grahita merupakan kondisi yang akan dialami seseorang seumur hidupnya karena hingga kini belum ditemukan obat yang mampu menyembuhkan kondisi tersebut.

Meski begitu, banyak orang dengan tuna grahita bisa belajar untuk meningkatkan fungsi otak dan fisik agar bisa hidup normal dan beraktivitas layaknya anak-anak sehat lainnya.

Menerima stimulasi dini dan berkelanjutan dapat meningkatkan fungsi otak, sehingga memungkinkan seseorang untuk berkembang. Beberapa hal yang bisa Moms lakukan jika anak mengidap tuna grahita ialah memberikan kebutuhan, mengajarkan agar lebih kuat, hingga dukungan moral.

Baca Juga: Mari Perhatikan Kesehatan Mental Anak Sejak Dini dengan 4 Cara Ini

Bahkan kini, sudah banyak layanan tersedia untuk membantu penyandang tunagrahita dan keluarganya untuk mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.

Sebagian besar layanan ini memungkinkan seseorang dengan tuna grahita menjalani harinya dengan normal dalam masyarakat.

Diagnosis dari dokter akan menentukan layanan, perlindungan, perawatan, dan pengobatan apa yang cocok untuk anak dengan tuna grahita. Dengan dukungan dan perawatan yang tepat, banyak penyandang tuna grahita dapat mencapai peran produksi yang sukses di masyarakat.

Itulah serba serbi tuna grahita, mulai dari pengertian, penyebab, gejala, diagnosis, hingga penanganannya. Selain konsumsi obat-obatan, jika anak telah beranjak atau memasuki usia sekolah, sebaiknya Moms memasukkannya ke sekolah khusus agar anak lebih mudah mengikuti pelajaran dan tidak merasa ‘berbeba’ dibandingkan dengan anak-anak lain.

Baca Juga: Dikaruniai Dua Anak Berkebutuhan Khusus, Agatha Suci Merasa Diberkati Sebagai Ibu

Tak hanya itu, kesabaran dan ketelatenan dibutuhkan dalam merawat anak tuna grahita. Bangun kepercayaan diri dan latih kemandiriannya agar dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar selayaknya anak normal seusianya.

Dengan kasih sayang orang tua, teman, dan keluarga yang mengelilinginya, tentunya si kecil akan merasa bahagia dan tumbuh jadi anak yang mandiri, percaya diri, sehat, dan dapat bersosialisasi dengan baik.

Jangan lupa untuk memeriksakan anak secara berkala ke dokter spesialis untuk mengetahui kemajuan dan tumbuh kembang anak dengan baik. Semangat ya, Moms!

  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/intellectual-disability#management
  • https://www.healthline.com/health/mental-retardation#treatment
  • https://www.parentcenterhub.org/schoolage/
  • https://www.aaidd.org/intellectual-disability/definition
  • https://www.cdc.gov/ncbddd/childdevelopment/facts-about-intellectual-disability.html?CDC_AA_refVal
  • https://www.asha.org/practice-portal/clinical-topics/intellectual-disability/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait