Program Hamil

PROGRAM HAMIL
8 Mei 2019

Usia Tidak Memengaruhi Kesuburan Pria, Mitos atau Fakta?

Oh, ternyata begini cara mempertahankan tingkat kesuburan pria
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Orami

Banyak yang berpendapat bahwa kesuburan pria lebih “awet” dibandingkan kesuburan perempuan. Pernyataan tersebut kurang lebih benar, Moms.

Tingkat kesuburan perempuan mencapai puncaknya di usia 20-an dan mulai menurun saat ia mencapai usia 30-an. Oleh karena itu, sering kali disebutkan bahwa peluang terbesar seorang perempuan untuk hamil adalah di antara kurun usia tersebut.

Pascausia 35 tahun, peluang seorang perempuan untuk hamil akan lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebaliknya, pengaruh usia pada kesuburan pria tidak sebesar pada perempuan.

Kualitas Sperma Menurun Seiring Bertambahnya Usia

Dad-to-be-7-Ways-Expectant-Dads-Can-Be-Involved-During-Pre-6656-6f94087a33-1511882231.jpg

Foto: pexels.com

Dikutip dari situs web Live Science, tubuh pria dapat terus memproduksi sperma sampai hari terakhir di hidupnya.

Meskipun demikian, jumlah dan kualitas sperma ternyata mengalami penurunan seiring dengan pertambahan usia pria.

Temuan tersebut berdasarkan sebuah studi yang diterbitkan di American Journal of Obstetrics and Gynecology pada 2004. Studi tersebut mengamati sampel sperma dari sekelompok pasangan yang menjalani prosedur IVF (in vitro fertilization) atau bayi tabung.

Hasilnya, tambahan tahun usia pria berhubungan dengan 11 persen peningkatan kemungkinan pasangan tersebut tidak dapat hamil.

Baca Juga: Masalah Reproduksi Ini Penyebab Infertilitas Pria!

Risiko Memiliki Anak dengan Kelainan Genetik Meningkat

adult-affection-baby-302083_pexels.jpg

Foto: 30seconds.com

Selain itu, sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa, sama dengan perempuan, peluang pria untuk memiliki anak dengan kelainan genetik meningkat seiring pertambahan usia mereka. Mutasi acak pada sperma pria menumpuk seiring berjalannya waktu, dan menurunkan lebih banyak mutasi genetik pada anaknya.

Berdasarkan sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature, kondisi tersebut dapat memperbesar risiko anak tersebut lahir dengan autisme, skizofrenia, dan penyakit lain.

Menurut Rami Wakim, konsultan pada bidang pengobatan reproduksi di Harley Street Fertility Clinic, usia subur pria mencapai puncaknya pada usia di bawah 25 tahun.

“Pada kurun usia tersebut, sebanyak 95 persen dari sperma pria tidak mengandung kerusakan DNA. Saat pria mencapai usia 35 tahun, persentase tersebut berubah menjadi 20 persen,” ujar Wakim.

Tentu saja akan ada pengecualian tentang pengaruh usia pada kesuburan pria ini. Contohnya yang dialami pria bernama Ramjit Raghav asal India. Ia dijuluki ayah tertua di dunia karena memiliki anak pertama dan kedua saat berusia 94 dan 96 tahun.

Baca Juga: 9 Kebiasaan yang Dapat Mengganggu Kesuburan Pria

Pola Makan Pengaruhi Kualitas Sperma

shutterstock_97464497.jpg

Foto: parents.com

Riset terbaru dari Department of Energy's Lawrence Berkeley National Laboratory menunjukkan bahwa pola makan tinggi vitamin C, antioksidan, vitamin E, zinc, dan asam folat dapat mencegah kerusakan DNA menumpuk di sperma.

Untuk mempertahankan kesuburan pria, Dads dapat mengonsumsi makanan yang mengandung berbagai zat gizi tersebut.

Sementara, sebuah studi di Australia yang dipaparkan pada pertemuan tahunan the Europian Society of Human Reproduction and Embryology di Amsterdam pada 2009 menemukan pengaruh dari ejakulasi harian pada kerusakan DNA dalam sperma.

Pada sebagian pria, ejakulasi harian membantu mengurangi kerusakan DNA, namun, pada pria yang lain justru meningkatkan kerusakan DNA.

Ternyata, meskipun pengaruh usia terhadap kesuburan pria tidak sebesar terhadap kesuburan perempuan, risiko kerusakan DNA tetap ada.

Jadi, sebaiknya Moms dan Dads konsultasikan waktu terbaik untuk memiliki anak kepada dokter. Jangan sampai Moms dan Dads menyesal nantinya.

(AN/AND)

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait