COVID-19

COVID-19
2 September 2020

3 Alasan Vaksin Tidak Bisa Langsung Menghentikan Pandemi

Banyak orang telah menantikan kehadiran vaksin tersebut
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Lolita
Disunting oleh Dina Vionetta

Hingga Rabu, (2/9/2020) total jumlah kasus COVID-19 di dunia mencapai 25,3 juta kasus dengan total kematian 848 ribu jiwa. Bahkan dalam satu hari, penambahan kasus COVID-19 di seluruh dunia lebih dari 260 ribu kasus.

Sementara itu, ilmuwan di seluruh dunia hingga kini masih berusaha melakukan uji klinis terhadap vaksin COVID-19. Banyak orang telah menantikan kehadiran vaksin tersebut sebagai salah satu cara melindungi diri dari bahaya virus Corona.

Baca Juga: Benarkah Vaksin Flu Kurangi Risiko Terkena Covid-19?

Vaksin Tidak Langsung Menghentikan Pandemi

Di Indonesia, uji klinis vaksin COVID-19 sudah memasuki tahap ketiga. Diperkirakan vaksin tersebut akan selesai pada Januari 2021. Apabila berhasil, vaksin buatan perusahaan China tersebut akan segera diproduksi secara massal. Meski begitu, menurut penelitian, meskipun vaksin COVID-19 sudah bisa diproduksi secara massal, namun vaksin tersebut tidak lantas langsung menghentikan pandemi COVID-19.

Sebab, pendistribusian vaksin ke seluruh negara di dunia tentu membutuhkan waktu yang tak sebentar bahkan bertahun-tahun untuk memastikan masyarakat dunia telah menerima vaksin. Selain itu, ada beberapa alasan lain yang menyebabkan vaksin COVID-19 tidak bisa langsung menghentikan pandemi.

1. Antibodi dalam Vaksin Tidak Bertahan Lama

xx alasan vaksin tidak bisa langsung menghentikan pandemi

Foto: Orami Photo Stocks

Penelitian menunjukkan bahwa antibodi yang dihasilkan oleh vaksin COVID-19 tidak akan bertahan lama dalam tubuh. Sebab, keberhasilan vaksin bergantung pada kemampuan tubuh menghasilkan antibodi yang mampu melindungi diri dari infeksi COVID-19 di masa mendatang. Karenanya, kemungkinan seseorang akan memerlukan dua kali atau dua dosis vaksin virus Corona per beberapa minggu sekali agar hasilnya efektif dan bisa menangkal COVID-19.

Marm Kilpatrick, ahli ekologi penyakit, menyarankan agar masyarakat melakukan vaksinasi secara ulang dan teratur apabila antibodi dalam COVID-19 telah hilang.

Baca Juga: Antibodi COVID-19 Ada di Air Susu Ibu, Ini Penjelasannya

2. Permasalahan Logistik

xx alasan vaksin tidak bisa langsung menghentikan pandemi

Foto: Orami Photo Stocks

Melansir dari CNN, dengan vaksinasi berulang atau dua kali dosis vaksinasi COVID-19, maka dibutuhkan persediaan logistik yang cukup untuk membuat miliaran vaksin bagi seluruh masyarakat dunia.

"Kami sedang mempertimbangkan double vaksinasi. Itu dua kali lipat jumlahnya. Untuk melakukan vaksinasi berulang adalah masalah logistik yang besar. Anda harus menggandakan logistik" ujar Nada Sanders, profesor manajemen logistik di Universitas Northeastern.

Menurut Sanders, menggandakan jumlah logistik tak hanya menimbulkan masalah pada produksi vaksin.

"Jarum suntiknya, bisakah digandakan? Bisakah botolnya digandakan? Bisakah sumbatnya digandakan? Bisakah jarumnya digandakan? Semua orang harus melakukan vaksinasi ulang lalu mereka semua harus mendapatkannya tepat waktu di berbagai tempat dan persediaan harus terus ada" lanjutnya.

Sanders mengkhawatirkan vaksinasi ulang ini akan menimbulkan banyak masalah. Mengingat selama pandemi terjadi banyak penundaan tes hingga kesulitan menyediakan peralatan medis bagi petugas.

Menurutnya, ada banyak kelemahan terkait ketersediaan logistik dan jika tidak segera diatasi akan menimbulkan masalah serta kegagalan besar.

Baca Juga: Vaksinasi Anak Saat Pandemi COVID-19? Ini Panduan Amannya

3. Faktor Fasilitas Kesehatan dan Manusia

xx alasan vaksin tidak bisa langsung menghentikan pandemi

Foto: Orami Photo Stocks

Menurut jajak pendapat yang dilakukan CNN selama sebulan, sebanyak 40% orang Amerika mengaku tidak mau divaksin meskipun gratis dan mudah didapat. Bahkan untuk meminta warga Amerika agar mau divaksin adalah hal yang sulit apalagi mengajak mereka untuk melakukan vaksin dua kali.

Hal ini dikarenakan warga harus mengambil cuti dari pekerjaan sebanyak dua kali, terlebih efek dari suntik vaksin seperti demam yang membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk pemulihan.

Meski begitu, Dr. Nelson Michael, direktur Pusat Penelitian Penyakit Menular di Insi Institut Penelitian Angkatan Darat Walter Reed, merekomendasikan adanya klinik keliling untuk memudahkan masyarakat dan tenaga medis untuk memberikan vaksin kepada masyarakat, ketimbang harus meminta mereka datang ke rumah sakit.

"Menurut saya cara ini perlu dipertimbangkan untuk mendorong masyarakat dan memudahkan mereka untuk mematuhi aturan kesehatan seperti dua kali suntik vaksin," ujarnya.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait