Trimester 3

6 Januari 2022

Meski Memiliki Manfaat, Simak 5 Bahaya Water Birth

Berikut risiko dari melakukan persalinan water birth
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Karla Farhana

Water birth atau persalinan dalam air kembali populer beberapa tahun belakangan ini.

Melansir WebMD, water birth adalah sebagian atau seluruh proses persalinan yang dilakukan ketika Moms berada di kolam air hangat.

Prosedur ini dapat dilakukan di rumah sakit, pusat bersalin, atau di rumah. Tentu saja, tetap dengan bantuan dokter kandungan, perawat, atau bidan.

Selain dipercaya bisa mengurangi rasa sakit saat melahirkan, metode ini banyak dilakukan artis sehingga membuat banyak Moms berminat.

Seperti yang dilakukan penyanyi jazz Andien pada tahun 2017 saat melahirkan Anaku Askara Biru.

Selain Andien, artis Shareena juga menggunakan metode water birth untuk persalinan anak pertamanya, Ry.

Berikut ini adalah informasi tentang apa saja yang perlu Moms ketahui seputar water birth, hingga faktor yang membuatnya dilarang di Indonesia.

Disimak yuk, Moms!

Baca Juga : 4 Artis yang Memilih Melahirkan dengan Cara Water Birth

Manfaat Water Birth untuk Moms dan Bayi

Water Birth.jpg

Foto: parents.com

Di Australia dan Rusia, metode water birth sudah lama dikenal. Sementara itu, di Indonesia, water birth baru populer sekitar akhir tahun 2006.

Selain disukai kalangan para artis, water birth di Indonesia juga mulai populer karena diketahui bisa mengurangi rasa sakit.

1. Mengurangi Rasa Sakit saat Melahirkan

Lantas, benarkah metode persalinan ini bisa jauh mengurangi rasa sakit saat melahirkan?

Ternyata, hal ini bisa terjadi karena Moms direndam di dalam air hangat, sehingga memberikan perasaan nyaman dan rileks.

Salah satu tujuan water birth memang untuk mengurangi rasa sakit, meskipun secara teknis proses ini tidak ada bedanya dengan melahirkan secara normal.

Melansir Parents, air hangat membantu menurunkan tekanan darah Moms, sehingga memengaruhi kecemasan ibu saat melahirkan yang semakin berkurang.

Dengan begitu, tubuh Moms akan memproduksi hormon endorfin yang dapat membantu mengurangi rasa sakit.

2. Aman untuk Bayi

Tahap kedua water birth adalah saat leher rahim (serviks) sudah benar-benar dalam posisi terbuka dan melebar.

Di tahap inilah bayi sudah siap untuk keluar melalui vagina.

Sayangnya, belum bisa diketahui secara pasti bagaimana cara yang paling aman untuk mengeluarkan bayi dari vagina selama water birth.

Lalu, apakah bayi tidak tenggelam di air kolam saat lahir? Secara logika, saat di dalam kandungan, bayi hidup di air ketuban.

Beberapa ibu percaya bahwa bayi 'berenang' dalam air ketuban saat di dalam kandungan.

Selain itu, metode water birth juga dipercaya bisa mencegah bayi yang lahir mengalami hipotermia.

Sebab, air steril yang diisikan ke dalam kolam untuk melahirkan sudah diatur sesuai suhu tubuh, yaitu 36-37°C.

3. Memudahkan Persalinan

Melahirkan di dalam air akan lebih mudah karena ada gaya gravitasi dalam air.

Ini akan membantu Moms saat mengejan dalam posisi duduk atau berjongkok, sehingga persalinan dapat berjalan lebih cepat.

Metode ini juga akan memudahkan Moms yang memiliki keterbatasan fisik untuk melahirkan.

Baca Juga: Pengalaman Melahirkan Caesar dari 3 Moms, Bisa Jadi Pelajaran Berharga

Bahaya dan Risiko Persalinan Water Birth

water birth 2.jpg

Foto: bellybelly.com

Ada beberapa alasan kenapa water birth tidak disarankan di Indonesia, Moms. Tentunya semua demi keselamatan serta kesehatan ibu dan bayi.

Berikut risiko dari melakukan persalinan water birth.

1. Infeksi

Saat mengejan di dalam kolam, ada kemungkinan Moms akan buang air besar dalam kolam tersebut.

Bayi yang lahir dapat menelan sebagian air yang sudah kotor tersebut, sehingga berisiko terkena infeksi.

Secara genetis dan fisiologis, bayi akan langsung mengambil napas.

Bayi juga memiliki reflek untuk menutup jalur nafas saat berada dalam air. Tapi kemungkinan ia menelan air tetap cukup besar.

Sementara itu, sulit membuat air kolam steril, karena begitu Moms masuk, air akan terkontaminasi oleh vagina saat proses bukaan.  

2. Pneumonia

Untuk mencegah pneumonia, suhu air harus cukup hangat dan bayi harus segera diangkat dari air setelah keluar dari tubuh ibu.

Pneumonia dapat terjadi 24-48 jam setelah persalinan. Salah satu penyebabnya adalah bakteri dari dalam kolam.

Namun, belum ada penelitian tentang jumlah pasti kasus pneumonia dari water birth.

Baca juga: Hypnobirthing, Metode Melahirkan Tanpa Rasa Sakit

3. Tenggelam

Mungkin Moms bingung, bagaimana bayi bisa tenggelam dalam kolam dengan tenaga medis di sekitarnya?

Tenggelam yang dimaksud adalah kondisi paru-paru bayi terisi air layaknya orang tenggelam. Tentu saja, hal ini bisa terjadi saat proses water birth.

Untuk mencegah hal tersebut, tenaga medis yang membantu akan langsung mengangkat bayi ke permukaan agar segera mendapat oksigen.

4. Tali Pusar Putus

Walaupun jarang terjadi, saat bayi diangkat ke permukaan, ada kemungkinan tali pusar putus dan mengakibatkan pendarahan yang cukup banyak.

5. Sindrom Aspirasi Mekonium

Jika usus bayi telah melakukan gerakan pertama sebelum lahir dan bayi menghirup cairan ketuban yang terkontaminasi, maka bayi akan memiliki masalah pernapasan.

Kondisi ini disebut juga sindrom aspirasi mekonium.

Dokter atau bidan harus segera menolong bayi jika melihat air ketuban pecah dan bercampur dengan mekonium yang berwarna hijau untuk mencegah sindrom ini terjadi

Baca Juga : Yuk Rencanakan Persalinan Normal Dengan 6 Cara Ini!

Karena risiko tersebut, prosedur water birth dilarang di Indonesia.

Pada tahun 2016, Persatuan Obsetri dan Ginekologi (POGI) menyatakan akan mencabut rekomendasi pendaftaran anggota dokter kandungan yang mendukung metode water birth.

Selain itu, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) telah menyebarkan surat edaran kepada seluruh bidan Indonesia untuk tidak melakukan prosedur persalinan water birth.

Meski begitu, IBI belum memiliki sanksi yang jelas bila ada bidan yang sampai sekarang masih melakukannya.

Namun, sanksi tegas tentu akan diberikan oleh pemberi izin. Dalam hal ini, surat rekomendasi tersebut juga telah disampaikan kepada Menteri Kesehatan.

Syarat Water Birth

water birth

Foto: Orami Photo Stock

Meski kelihatannya sederhana, tidak semua ibu dapat melakukan proses ini.

Melansir American Pregnancy, ada syarat-syarat ketat yang wajib Moms penuhi jika ingin melakukan water birth.

  • Usia Moms berada di antara 17-35 tahun
  • Tidak hamil dengan risiko seperti diabetes atau preeklampsia
  • Tidak hamil kembar
  • Tidak sungsang
  • Bayi tidak terlalu besar
  • Tidak prematur

Selain itu, beberapa kondisi kehilan dan bayi Moms yang dilarang untuk melakukan water birth adalah:

Karena, hal ini sangat berisiko mengalami komplikasi yang membutuhkan bantuan medis segera.

Moms dengan penyakit herpes juga sangat dilarang melakukan water birth.

Dikhawatirkan, Moms akan menularkan penyakit kepada bayi melalui air yang masuk ke mata dan anggota tubuh Si Kecil lainnya.

Baca Juga : Mengenal Lotus Birth

Itu dia Moms informasi seutar water birth. Water birth mungkin terlihat aman, namun sebenarnya tetap memiliki risiko bagi Moms dan bayi.

Masih tertarik menggunakan metode ini, Moms?

  • https://www.webmd.com/baby/water-birth#1
  • https://evidencebasedbirth.com/waterbirth/
  • https://americanpregnancy.org/healthy-pregnancy/labor-and-birth/water-births/
  • https://www.parents.com/pregnancy/giving-birth/vaginal/what-is-water-birth/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4210671/
  • https://journals.lww.com/jpnnjournal/fulltext/2020/01000/the_experience_of_land_and_water_birth_within_the.7.aspx
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait