Di atas 5 tahun

14 Februari 2019

Kafin Sulthan Lulus SMA Usia 13 Tahun, Ini Pertimbangan Sebelum Anak Masuk Kelas Akselerasi

Meskipun secara akademis mereka siap, namun belum tentu kondisi emosionalnya mendukung
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh (mentari.delita)
Disunting oleh (mentari.delita)
Foto : instagram.com/kafinsulthan/

Kafin Sulthan Riviera atau yang akrab dengan nama merupakan seorang musisi muda yang telah menyelesaikan pendidikan SMA-nya di usia 13 tahun.

Pemain film Keluarga Cemara tersebut ternyata sudah pandai menulis dan membaca sejak masih berusia 2 tahun. Kafin menempuh pendidikan SD sejak usia 3 tahun.

Setelah menempuh pendidikan 6 tahun di tingkat sekolah dasar, Kafin pun masuk SMP saat berusia 9 tahun dan mengambil program akselerasi atau percepatan belajar.   

Tak heran, di usia 11 tahun Kafin sudah menjadi siswa SMA dan dapat menamatkan pendidikannya dua tahun kemudian.

Nah bagi Moms yang mungkin berniat memasukkan anak ke dalam program akselerasi seperti Kafin, ketahuilah beberapa hal berikut:

1. Kemampuan Akademis

aksel2

Sebelum memutuskan anak untuk masuk kelas akselerasi atau percepatan belajar, Moms harus benar-benar memahami bagaimana kemampuan akademis mereka.

Jika Si Kecil memiliki kemampuan akademis yang memang besar, bakat yang tinggi serta banyak prestasi, maka kelas akselerasi menjadi pilihan tepat untuk pendidikan anak.

"Faktor penting lainnya untuk mengambil kelas akselerasi termasuk motivasi siswa, sikap terhadap pembelajaran, dan perkembangan sosial dan emosional," ujar Ann Lupkowski-Shoplik, peneliti dari Davidson Institute for Talent Development Amerika Serikat.

Baca Juga: 5 Bentuk Investasi untuk Pendidikan Anak yang Bisa Moms Lakukan

2. Usia Anak

Usia anak juga menjadi faktor dalam pertimbangan akselerasi pendidikan. Semakin muda usia anak, semakin besar kekhawatiran tentang perbedaan usia.

Misalnya, kita akan lebih khawatir pada perbedaan dua antara siswa kelas 3 dan 5 daripada antara siswa kelas 9 dan 11.

Oleh karena itu, menurut Lupkowski-Shoplik. hal tersebut harus diimbangi dengan pengetahuan bahwa lebih mudah untuk loncat kelas di usia muda.

"Pertanyaan paling penting adalah 'Apakah murid mau loncat kelas?' Hal ini karena murid sendirilah kunci dari keberhasilan program akselerasi," ujarnya.

3. Tak Usah Terburu-buru Masuk Perguruan Tinggi

aksel
foto: youngparents.com.sg

Anak-anak yang masuk kelas akselerasi tentu akan lebih cepat memasuki perguruan tinggi. Umumnya hal ini memang akan membuat orang tua bangga, namun sebenarnya bukan itulah tujuan utamanya.

Sebelum mendaftarkan mereka di bangku kuliah, tanyakan pada diri Moms, "Apakah anak sudah siap secara akademis untuk pelajaran kampus?" dan “Apakah anak sudah benar-benar mendapatkan kurikulum sekolah menengah?”

Lebih baik daftarkan anak pada beberapa kursus sebelum kuliah. Mereka harus meraih kesempatan menantang ini sebelum memasuki perguruan tinggi lebih awal.

Fokusnya harus pada ketelitian, daripada mempercepat melalui kurikulum untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Baca Juga: 10 Hal yang Harus Dipertimbangkan Saat Mencari Sekolah untuk Anak

4. Keterlibatan Orang Tua

Saat Si Kecil memasuki kelas akselerasi, peran orang tua akan semakin penting. Moms benar-benar harus membangun hubungan yang erat dengan sekolah untuk membantu proses pembelajaran anak berjalan lancar.

Ingat bahwa perubahan sistem sekolah membutuhkan waktu yang lama. Anak Moms tidak akan mendapat manfaat langsung dari program yang baru dikembangkan tetapi akan mendapat manfaat dari upaya orang tua.

Itulah tadi beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan para orang tua yang ingin memasukan anak dalam akselerasi pendidikan.

Meski banyak keuntungan yang didapatkan, kenyamanan anak tetap yang utama. Jangan biarkan mereka merasa tertekan karena pelajaran yang dirasa terlalu menyulitkan.

(MDP)

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait