Balita dan Anak

BALITA DAN ANAK
27 Februari 2020

Mencegah Campak Jerman alias Rubella pada Anak

Penyakit ini ringan pada anak, tapi berbahaya bagi janin
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fitria Rahmadianti
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Rubella alias campak Jerman adalah infeksi virus menular yang memiliki gejala ruam khas. Rubella pada anak tergolong ringan, tapi beda kasus jika anak terkena sindrom rubella kongenital.

Rubella dan rubeola (campak), apakah sama? Memang ada beberapa kemiripan karena keduanya memiliki gejala ruam. Namun, rubella disebabkan oleh virus yang berbeda dari campak. Penyakit ini juga tidak semenular dan separah campak.

Gejala Rubella pada Anak

rubella pada anak

Foto: oregonlive.com

Gejala rubella sangat ringan sampai sulit diketahui, terutama pada anak-anak. Tanda rubella biasanya muncul 2-3 minggu setelah Si Kecil terekspos virus. Ciri-ciri mirip flu berikut biasanya berlangsung selama 1-5 hari:

  • Demam di bawah 38,90C
  • Sakit kepala
  • Hidung tersumbat atau ingusan
  • Mata merah atau meradang
  • Kelenjar getah bening di bagian bawah tengkorak, belakang leher, dan belakang telinga membesar dan terasa empuk
  • Ruam merah muda kecil-kecil yang berawal dari wajah dan dengan cepat menyebar ke tubuh, lengan, dan tungkai, lalu menghilang bersamaan
  • Nyeri sendi

Anak dan orang dewasa yang belum pernah diimunisasi campak dan rubella atau belum pernah mengalami rubella berisiko tinggi tertular campak Jerman. Tapi, sekali saja terkena rubella, Si Kecil akan selamanya kebal terhadap penyakit tersebut.

Baca Juga: Ramai Dibicarakan, Ini 5 Fakta Rubella yang Harus Diketahui

Penyebab Rubella pada Anak

rubella pada anak

Foto: d.newsweek.com

Rubella disebabkan oleh virus yang ditularkan dari orang ke orang. Penyebarannya lewat batuk atau bersin atau melalui kontak langsung dengan lendir pernapasan orang yang terinfeksi.

Orang yang terinfeksi rubella bisa menularkan penyakitnya mulai 1-2 minggu sebelum muncul ruam sampai 1-2 minggu setelah ruam hilang.

Selain itu, rubella juga bisa ditularkan oleh Ibu hamil ke janinnya melalui aliran darah atau disebut sindrom rubella kongenital (SRK). Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang dikutip oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada lebih dari 100.000 bayi lahir dengan SRK setiap tahunnya di dunia.

Baca Juga: Ibu Hamil Kena Rubella, Apa Dampaknya?

Sindrom Rubella Kongenital (SRK)

rubella pada anak

Foto: post.healthline.com

Bayi biasanya terlindungi dari rubella selama 6-8 bulan setelah lahir berkat imunitas yang diwarisi dari ibu. Namun, bayi yang tertular rubella dari sang ibu sejak masih janin berisiko mengalami komplikasi berat.

Rubella pada ibu hamil, terutama di trimester pertama, sangat berisiko terhadap janin. Moms bisa mengalami keguguran, bayi lahir mati, atau bayi mengalami SRK jika ia terlahir hidup.

Dilansir dari website Mayo Clinic, SRK dialami hampir 80% anak yang lahir dari ibu yang mengalami rubella di 12 minggu pertama kehamilan. Kondisi ini bisa menyebabkan masalah seperti:

  • Kelainan mata seperti katarak
  • Gangguan pendengaran, misalnya tuli
  • Cacat jantung bawaan dan cacat organ lain
  • Gangguan intelektual
  • Keterlambatan tumbuh-kembang
  • Autisme
  • Diabetes mellitus
  • Disfungsi tiroid

Masalah-masalah kesehatan tadi bisa dialami Si Kecil seumur hidup. Selain itu, bayi dengan SRK bisa menularkan virus selama satu tahun atau lebih.

Karena itu, vaksin MR terutama penting bagi anak perempuan untuk mencegah rubella saat hamil kelak.

Baca Juga: Setelah Rubella selama Kehamilan, Ini 5 Cara Merawat Diri

Mencegah Rubella pada Anak dengan Vaksin MR

rubella pada anak

Foto: media.voltron.voanews.com

Menurut IDAI, belum ada perawatan spesifik untuk rubella. Namun, penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi.

Di Indonesia, imunisasi MR untuk mencegah campak dan rubella sekarang masuk jadwal imunisasi rutin. Vaksin MR diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD.

Apakah imunisasi MR sama dengan MMR dan campak? Semuanya memang bertujuan mencegah campak (measles). Namun, pada MR (measles-rubella) vaksin campak dikombinasikan dengan vaksin rubella, sedangkan vaksin MMR (measles, mumps, rubella) merupakan perpaduan vaksin campak, gondongan, dan rubella.

Anak yang sudah mendapat imunisasi campak dan/atau MMR perlu mendapat imunisasi MR juga, Moms, untuk mendapatkan kekebalan penuh terhadap campak dan rubella. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menjamin keamanannya, kok, meski Si Kecil sudah diimunisasi sebelumnya.

Mengapa vaksin campak dan MMR digantikan dengan vaksin MR? Menurut Kemenkes RI, pemerintah sedang memprioritaskan pengendalian campak dan rubella. Sebab, komplikasinya mematikan.

Sebelum ada vaksin, 4 dari 1000 bayi baru lahir mengalami SRK. Menurut WHO, angka kejadian SRK sangat tinggi di Afrika dan Asia Tenggara karena cakupan vaksin masih rendah.

Ngomong-ngomong, jangan percaya rumor bahwa vaksin MR bisa menyebabkan autisme, ya, Moms. Sampai saat ini belum ada bukti kalau imunisasi jenis apapun bisa menyebabkan autisme.

Sudahkah Si Kecil diimunisasi dari penyakit campak dan rubella pada anak?

EMA

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait