15 Juli 2020

Minat Beli Rumah Subsidi? Pelajari Kelebihan dan Kekurangannya!

Solusi rumah murah untuk keluarga muda

Oleh Andra Nur Oktaviani (32), ibu dari Jersey Orianna Atharrizqy (4 tahun), pegawai swasta

Menikah, punya anak, kemudian tinggal di rumah sendiri tentu jadi idaman setiap orang. Begitu juga saya. Sayangnya, punya rumah sendiri tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Setelah menikah pada 2015, saya dan suami tinggal di apartemen sewaan dengan dua kamar di kawasan Petukangan, Jakarta Selatan. Sewanya Rp1,5 juta per bulan yang dibayarkan setiap 3 bulan.

Akhir 2015, ketika saya hamil 7 bulan, saya pindah ke daerah Cisauk, Kabupaten Tangerang. Di sana, saya mengontrak rumah dengan dua kamar dan halaman yang cukup luas. Sejak hamil, saya memang punya keinginan untuk tinggal di rumah yang memiliki halaman agar anak saya kelak bisa bermain di sana.

Saya juga membayangkan akan sangat butuh halaman dengan sinar matahari langsung untuk menjemur bayi. Dan itu tentu tidak didapatkan di apartemen.

Rumah tersebut disewakan seharga Rp10 juta per tahunnya. Ini nominal yang terbilang murah. Yang tentu saja tidak akan bisa ditemukan di daerah Jakarta. Ya, demi mendapatkan rumah dengan halaman, saya rela bergeser agak jauh dari Jakarta.

Untungnya, akses ke Jakarta dari Cisauk sangat mudah. Saya hanya perlu naik KRL dari stasiun Cisauk dan turun di stasiun Kebayoran atau Palmerah untuk sampai ke kantor saya. Ketika itu, saya bekerja di kawasan Kebayoran Lama.

Cukup lama saya bertahan tinggal di rumah kontrakan. Maklum, secara ekonomi, saya belum mampu untuk punya rumah sendiri. Harga rumah sudah sangat mahal. Cicilannya pun sudah gila-gilaan.

Di daerah tempat saya tinggal di Cisauk, rumah ditawarkan dengan harga mulai dari Rp300 jutaan. Cicilan yang harus dibayar mulai dari Rp3 jutaan per bulannya. Itu sudah memakan lebih dari 50 persen gaji saya

Berkali-kali datang ke pameran perumahan pun hasilnya nihil. Semua rumah yang ditawarkan cicilannya jauh di atas kemampuan saya. Tapi tentu saya tidak menyerah. Tinggal di rumah sendiri masih jadi impian saya.

Baca Juga: Selain Harga dan Lokasi, Ini 3 Hal Penting yang Harus Dipertimbangkan Saat Beli Rumah

Dapat Info Rumah Subsidi karena Liputan

stand-PPDPP.jpg
Foto: stand-PPDPP.jpg

Foto: ppdpp.id

Bekerja sebagai jurnalis membuat saya harus siap ditempatkan di pos liputan mana pun. Terjadinya perubahan pos di kantor membuat saya akhirnya bertugas di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Sesuai dengan nama kementeriannya, berita-berita yang saya buat tentunya tentang infrastruktur, termasuk perumahan.

Saya pun akhirnya dapat cukup banyak info soal rumah subsidi. Jadi, rumah subsidi itu adalah rumah yang pembiayaannya disubsidi oleh pemerintah.

Bentuk subsidinya adalah harga rumah yang murah mulai dari Rp128 juta dengan cicilan mulai dari Rp800 ribuan per bulan, bunga tetap hingga lunas sebesar 5 persen, uang muka 1 persen dari harga rumah, dan subsidi uang muka sebesar Rp4 juta.

Syaratnya, antara lain memiliki KTP, tidak memiliki rumah, usia pemohon tidak melebihi 65 tahun saat kredit jatuh tempo, memiliki penghasilan pokok tidak lebih dari Rp4 juta untuk rumah tapak dan Rp7 juta untuk rumah subsidi, dan memiliki SPT.

Pekerja dengan penghasilan tidak tetap pun tetap bisa mengajukan rumah subsidi lho Moms. Bukti penghasilan bisa berupa surat keterangan dari kepala desa/lurah tempat KTP diterbitkan.

Berkat penugasan ini, saya jadi lebih tahu tentang rumah subsidi pemerintah yang selama ini saya hanya dengat sekilas. Setelah tahu apa itu rumah subsidi dan persyaratannya, saya sangat tertarik dan begitu bersemangat.

Impian untuk punya rumah ternyata bisa diwujudkan meskipun modalnya sedikit. Dari yang awalnya browsing di internet untuk mencari rumah menggunakan kata kunci “rumah dijual di (nama daerah), saya tambahkan kata subsidi.

Hasilnya? Ternyata banyak lho. Meskipun memang hanya ada di daerah-daerah tertentu yang jauh dari Jakarta. Dari hasil pencarian di internet, rumah subsidi cukup banyak saya temukan di kawasan Parungpanjang, Citayam, dan Cikarang.

Saya lebih memilih untuk mendalami pencarian di kawasan Parungpanjang yang tidak jauh dari Cisauk. Ini menjadi lokasi rumah subsidi terbaik untuk saya. Tidak jauh dari rumah lama dan dekat dengan stasiun kereta.

Baca Juga: Sebelum Membeli, Ketahui Dulu Keuntungan dan Kerugian Punya Rumah Kecil

Langkah Membeli Rumah Subsidi

WhatsApp Image 2019-07-18 at 19.jpg
Foto: WhatsApp Image 2019-07-18 at 19.jpg

Banyak sekali orang yang kebingungan bagaimana caranya untuk mulai mengambil rumah, terutama rumah subsidi. Moms, langkahnya ternyata sama saja dengan mengambil rumah biasa.

Ketika itu, setelah saya menemukan beberapa perumahan subsidi di Parungpanjang, saya langsung mengontak marketingnya. Para marketing ini selalu mencantumkan nomor kontak mereka di iklan-iklan di internet.

Yang pertama saya tanyakan adalah lokasinya, tepatnya berapa jarak dari stasiun kereta ke perumahan. Dari cukup banyak perumahan subsidi di Parungpanjang, lokasi Perumahan Metro Parungpanjang, tempat tinggal saya sekarang, cukup dekat dengan stasiun.

Setelah yakin, saya dan suami pun mendatangi langsung kantor pemasaran di Parungpanjang. Di sana, kami bertemu dengan marketing yang sudah kami hubungi.

Dia menjelaskan secara lebih detail tentang rumah tersebut. Rumah subsidi punya standar ukuran, yakni 30 m persegi untuk bangunan dan 60 meter persegi untuk tanahnya.

Dia juga mengajak saya melihat langsung lokasi pembangunan perumahan. Ketika itu, lokasinya masih berupa tanah kosong. Belum ada satu bata pun yang terbangun.

Tapi itu tidak mengurungkan niat saya untuk mengambil rumah subsidi. Saya mantapkan niat dan memutuskan untuk membayar booking fee sebesar Rp1 juta.

Setelah membayar booking fee, kami dipersilakan untuk memilih lokasi rumah berdasarkan site plan yang dimiliki marketing. Ketika itu, kami juga diminta untuk mengisi formulir yang akan diajukan oleh developer ke bank pemberi kredit yang kebetulan adalah BTN.

Sekarang ini, sudah cukup banyak bank lain yang juga ikut berpartisipasi menyalurkan kredit rumah subsidi, baik bank konvensional, bank syariah, hingga bank daerah.

Formulir tersebut kami bawa pulang untuk dipelajari, dilengkapi persyaratannya, dan diserahkan ke developer untuk diproses ke bank pemberi kredit.

Saya dan suami pun kemudian menyiapkan persyaratan yang dibutuhkan. Setelah lengkap, saya mengembalikan formulir ke kantor developer. Saat penyerahan formulir ini, pihak developer akan menjelaskan mengenai uang muka.

Meskipun uang muka hanya 1 persen dari harga rumah, rumah saya Rp140 juta dan uang mukanya jadi hanya Rp7 juga, ada banyak komponen lain yang biasanya tidak sedikit lho Moms.

Punya saya saja, kalau ditotal tiba-tiba muncul angka Rp 36 juta. Sebetulnya tidak tiba-tiba sih, semuanya komponennya jelas, antara lain biaya administrasi, biaya surat-surat, dan biaya notaris.

Tapi, tentu saja jumlah ini jauh sekali dari bayangan awal yang hanya Rp7 juta. Untungnya, jumlah total DP itu tidak harus langsung dibayarkan, melainkan bisa dicicil sebanyak 6 kali dalam periode 6 bulan.

Tetap saja jumlahnya masih sangat besar, yakni Rp36 juta dibagi 6 bulan saja sudah Rp6 juta per bulan. Waduh. Bingung juga harus bagaimana. Masa mundur?

Saya pun akhirnya meminjam uang ke kantor untuk melunasi DP tersebut. Dampaknya, ya gaji kena potong setiap bulannya sampai utang tersebut lunas. Saya pikir, tidak apa-apa lah demi punya rumah sendiri.

Dalam periode pelunasan DP ini, kami mendapat panggilan dari BTN untuk melakukan sesi interview. Tujuannya tentu untuk verifikasi data. Jadi, pertanyaan tentang pekerjaan, gaji, dan yang lainnya akan muncul pada sesi ini.

Pada sesi wawancara juga, pihak BTN akan menanyakan berapa lama durasi cicilan yang kami sanggupi. Ketika itu, saya mengajukan 20 tahun. Pada akhirnya, BTN hanya menyetujui 15 tahun dengan cicilan Rp1.022.700 per bulannya.

Dua minggu setelah wawancara, kami mendapat kabar tentang keputusan pengajuan KPR. Setelah DP lunas, kami kembali dipanggil BTN untuk melakukan akad kredit.

Ada cukup banyak berkas yang perlu ditandatangani oleh nasabah dan pasangan jika memang sudah memiliki pasangan. Materai yang dibutuhkan pun sampai 20 buah jumlahnya.

Kehadiran pasangan ini wajib hukumnya. Ketika akad, ada nasabah yang tidak hadir dengan pasangan karena pasangannya baru melahirkan dan masih di rumah sakit. Proses akad tidak bisa dilakukan. Dan baru bisa dilakukan setelah pasangan bisa hadir.

Akad kredit rumah memang melegakan di satu sisi tapi juga menambah beban di sisi lain. Akad kredit ini artinya kita sudah mulai melakukan pembayaran cicilan ke bank.

Baca Juga: Buat Pemula, Ini 5 Tips Membeli Rumah Pertama Kali yang Harus Diperhatikan

Tidak Bisa Langsung Ditempati

WhatsApp Image 2019-07-22 at 13.39.52.jpeg
Foto: WhatsApp Image 2019-07-22 at 13.39.52.jpeg

Foto: dok pribadi Andra Nur Oktaviani

Tidak lama setelah akad kredit, developer mengundang saya untuk serah terima rumah. Selain kunci rumah, developer juga menyerahkan kartu pelanggan PLN dan pompa air untuk digunakan di rumah.

Saya pikir, begitu serah terima kunci, rumah sudah bisa dihuni. Tapi ternyata tidak begitu untuk rumah subsidi. Rumah memang sudah berdiri tegak. Tapi sayangnya belum layak huni.

Kementerian PUPR sudah mengeluarkan kriteria rumah subsidi layak huni. Berikut daftarnya seperti dikutip dari Pembiayaan.pu.go.id.

  • Pertama, struktur konstruksi atap, lantai, dan dinding yang memenuhi persyaratan keselamatan dan kenyamanan yaitu kokoh, dan tidak retak-retak.
  • Kedua, terdapat jaringan air bersih dari PDAM atau sumber air bersih lainnya yang berfungsi.
  • Ketiga, utilitas jaringan listrik yang berfungsi untuk kebutuhan sehari-sehari penghuni.
  • Keempat, jalan lingkungan yang sudah diberi perkerasan atau aspal dan berfungsi bukan hanya berbentuk tanah yang bergelombang dan berlubang.
  • Kelima, saluran atau drainase lingkungan yang telah selesai dan dipastikan dapat berfungsi dengan baik dan benar.
  • Keenam, penyediaan septic tank atau tempat pembuangan sanitasi yang berfungsi dengan baik dan aman dan tidak mencemarkan lingkungan.

Enam kriteria di atas tidak saya temukan pada rumah subsidi saya yang bisa saya pastikan tidak ditemukan juga di rumah subsidi lain di perumahan saya.

Atap rumah saya bocor, keramiknya ada yang pecah, sumber air tidak ada, jalan lingkungan masih tanah, septic tank tidak layak, terdapat beberapa retakan di dinding, serta plafon yang ringkih.

Tapi kami memilih untuk tidak mengajukan komplain karena pasti akan memakan waktu yang lama dan proses yang panjang. Belum lagi kami jadi harus bolak-balik ke kantor developer.

Buat Moms yang juga akan mengambil rumah subsidi, sebaiknya ajukan komplain jika tidak sesuai dengan enam kriteria di atas ya. Moms punya hak kok untuk itu.

Entah ini memang salah developer yang tidak mengindahkan kriteria tersebut atau memang perumahan subsidi lain pun bernasib sama.

Kami memang diberikan garansi 3 bulan setelah hari serah terima untuk komplain mengenai kondisi rumah seperti listrik tidak nyala, pondasi longsor dinding retak, plafon jebol. Pihak developer akan memperbaikinya.

Tapi, mereka tidak memasukkan sumber air dan septic tank ke dalam komponen yang bisa dikomplain. Padahal, dua hal ini sangat esensial. Tanpa ada dua komponen ini, tidak mungkin rumah bisa ditempati.

Baca Juga: 5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Membeli Rumah Idaman

Dana Ekstra Besar untuk Renovasi

26867166_1823203647724865_673599507946012672_n.jpg
Foto: 26867166_1823203647724865_673599507946012672_n.jpg

Foto: Instagram.com/perumahan_pupr

Untuk bisa menempati rumah, saya harus menyelesaikan dua masalah di utama di atas terlebih dahulu.

Developer memang membuatkan sumur galian. Tapi, kedalamannya hanya 8 meter. Sementara untuk bisa mendapatkan air, kedalamannya butuh lebih dari 35 meter. Mau tidak mau, kami memanggil jasa sumur bor dengan membayar Rp5 juta.

Developer juga memberikan pompa air kecil. Pompa air tersebut tidak bisa kami gunakan karena jenisnya untuk sumur dangkal. Sementara kami membutuhkan pompa air untuk sumur dalam. Kami pun akhirnya membeli sendiri dengan harga Rp2 juta.

Karena belum ada saluran PDAM, air tanah ini tentu perlu ditampung di toren. Kami beli toren merek Penguin ukuran 520 liter seharga Rp900 ribu sekian. Ketika itu sedang ada diskon. Harga normalnya sekitar Rp1,2 juta.

Untuk septic tank, developer membuatkan septic tank dengan volume 60x60x60 cm kubik. Ukuran ini kecil sekali. Sebulan saja sudah bisa penuh dan harus disedot jika tidak ingin kotoran keluar dan berserakan.

Kami pun akhirnya memanggil tukang untuk menggali septic tank hingga ukuran standar 150x150x150 cm kubik. Biayanya menghabiskan kurang lebih Rp2 juta.

Rumah subsidi yang kami tempati memang dilengkapi dapur. Tapi lokasinya berada di halaman belakang di luar rumah. Kami pun akhirnya merenovasi halaman belakang.

Renovasi meliputi penambahan atap, dinding, keramik, membuat dak untuk menyimpan toren, dan membuat gudang kecil di atas untuk menyimpan barang-barang. Biaya yang dihabiskan untuk renovasi itu sekitar Rp15 juta.

Baca Juga: Sebelum Membeli Furnitur Rumah, Perhatikan 3 Hal Ini

Dana Ekstra Lagi untuk Keamanan, Kenyamanan, dan Kebersihan

WhatsApp Image 2019-07-22 at 13.39.53.jpeg
Foto: WhatsApp Image 2019-07-22 at 13.39.53.jpeg

Foto: dok pribadi Andra Nur Oktaviani

Renovasi kecil yang saya ceritakan sebelumnya tentu belum memasukkan aspek keamanan, kenyamanan, dan kebersihan. Renovasi di atas hanya renovasi minimal agar rumah layak dihuni.

Untuk keamanan, para tetangga rata-rata memasang pagar di rumah mereka. Perumahan baru identik dengan pencurian karena belum ada petugas keamanan yang bertugas. Maklum, perumahan subsidi memang serbaminimalis.

Perumahan subsidi tidak seperti perumahan besar yang sudah dilengkapi dengan petugas keamanan yang berkeliling 24 jam. Jadi, untuk berjaga-jaga, para warga memilih memasang pagar.

Beberapa warga yang belum memasang pagar seperti saya, mau tidak mau memasukkan motor ke dalam rumah agar tidak digondol maling. Biaya pembuatan pagar kira-kira mencapai Rp5 juta.

Keamanan saya ternyata tidak cukup. Beberapa tetangga menambahkan kanopi di depan rumah mereka. Tujuannya jelas, untuk melindungi bagian depan rumah mereka dari panas dan hujan.

Karena tidak ada halaman belakang, jemuran pakaian pasti disimpan di depan. Tanpa kanopi, jemuran bisa saja kehujanan. Kanopi ini juga untuk melindungi kendaraan yang di parkir di depan rumah. Biaya pembuatannya kurang lebih Rp5 juta.

Untuk kebersihan dan faktor estetika, teras dan carport perlu dikeramik. Beberapa tetangga juga sudah melakukannya. Biayanya konon mencapai Rp3 juta. Itu belum termasuk upah tukang.

Baca Juga: Memilih Rumah Atau Apartemen?

Nah, jika dihitung-hitung, kami sudah menghabiskan sekitar Rp25 juta untuk renovasi minimal agar rumah layak huni. Kami harus menyiapkan sekitar Rp20 juta lagi untuk renovasi tambahan.

Angka yang tidak sedikit memang. Moms bisa mencicilnya sedikit demi sedikit. Utamakan dulu yang memang dibutuhkan.

Meskipun dana ekstra yang akan dikeluarkan cukup besar, membeli rumah subsidi tetap saja menguntungkan untuk keluarga muda seperti keluarga saya.

Apakah Moms juga tertarik untuk mengambil rumah subsidi? Sebaiknya jangan menunda-nunda karena rumah subsidi dengan lokasi bagus cepat sekali habis.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.