02 April 2018

Terapi Lumba-Lumba Untuk Anak Dengan Autisme

Hewan yang memiliki kecerdasan tinggi dan sangat bersahabat dengan manusia.

Lumba-lumba merupakan salah satu hewan yang memiliki kecerdasan tinggi dan sangat bersahabat dengan manusia. Mereka dapat mengenali diri mereka sendiri dalam cermin, sadar penuh dan memiliki bahasa yang kompleks dibandingkan dengan hewan lain.

Tidak hanya itu, otaknya yang lebih besar dari simpanse atau kera, membuatnya tergolong binatang cerdas. Sebenarnya lumba-lumba sudah dikenal oleh manusia berabad-abad lamanya.

Bangsa Yunani menggunakannya sebagai konstelasi bintang, delphinus, atau lumba-lumba. Bangsa Romawi kuno mempercayainya sebagai simbol cinta sejati, persahabatan, dan harmoni. Lumba-lumba dipercaya memiliki kemampuan untuk mengatasi berbagai macam masalah neurologis seperti depresi, sindrom down dan autisme.

Baca Juga : Kenali Ciri-Ciri Anak Autis

Terapi Lumba-Lumba Untuk Anak Autis

shutterstock 566034685
Foto: shutterstock 566034685

Autisme sendiri merupakan gangguan perkembangan yang kompleks yang disebabkan adanya kerusakan pada otak. Anak mengalami gangguan seputar perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan bersosialisasi.

Meski secara fisik tidak bercela, gangguan autis pada anak menyebabkan sang anak tak mampu mengekspresikan perasaan dan keinginannya, itu sebabnya anak dengan gangguan autisme seringkali tertawa atau menangis sendiri.

Seiring perkembangan zaman, kepandaian lumba-lumba berinteraksi dengan manusia dimanfaatkan oleh banyak ilmuwan sebagai terapi pengobatan. Stimulasi-stimulasi yang dilakukan lumba-lumba pada panca indra memungkinkan dicapainya kesembuhan bagi penderita autisme.

Terapi dengan menggunakan hewan ini pada anak autis terbukti dapat menurunkan tekanan darah, meringankan insomnia, dan sakit kepala. Mengutip artikel di salah satu situs kesehatan, menurut Dr Michael T. Hyson, pakar terapi lumba-lumba dan autisme, 1973 adalah awal dari lahirnya terapi ini, ketika sekelompok anak-anak autis dibawa ke Seaquarium Miami untuk bertemu lumba-lumba.

Anak-anak autis yang biasanya memiliki rentang perhatian hanya lima menit atau kurang, bisa bermain dan mengembangkan ikatan dengan lumba-lumba selama lebih dari satu jam. Hasil yang menggembirakan ini menjadi awal lumba-lumba untuk program terapi dan penelitian di Florida.

Proses terapinya dilakukan dengan cara anak berinteraksi langsung lumba-lumba di dalam kolam renang. Dibantu oleh instruktur ahli, anak akan diajak untuk berinteraksi, menyentuh, memberi makan, dan bermain-main dengan hewan pintar ini. Hasilnya anak-anak yang terlihat senang bermain dan berinteraksi dengan binatang tersebut.

Tidak hanya itu, Suara lumba-lumba membuat perasaan menjadi lebih tenang dan rileks. Sentuhannya merangsang saraf sensoris, pendengaran, penglihatan, dan konsentrasi anak, sehingga setelah bermain dengan lumba-lumba, anak menjadi lebih konsentrasi, mulai memberi perhatian dan memacu mereka menjadi rajin belajar.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.