3-5 tahun

3-5 TAHUN
25 November 2019

3 Bahaya Obesitas pada Balita, Moms Perlu Tahu!

Moms dan Dads perlu memperbaiki pola makan si Kecil agar berat badannya kembali normal
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Dina Vionetta

Bahaya obesitas pada balita itu nyata adanya, Moms.

Lebih berbahaya lagi adalah ketika kita tahu, sebagian orang tua senang melihat anaknya berbadan besar dan berisi. Ini karena ada pandangan anak yang badannya besar dan gemuk berarti menggemaskan atau makannya banyak – dan dianggap sebagai sesuatu yang positif.

Sebuah studi oleh Universitas of Maryland menunjukkan 94 persen Moms tidak menyadari anak balitanya menderita kelebihan berat badan atau obesitas.

Menurut Dr. Stephen R. Daniels, Ketua Komite Nutrisi pada American Academy of Pediatrics (AAP) Committee on Nutrition, ini terjadi karena sekarang banyak orang menganggap kondisi kelebihan berat badan sebagai hal yang normal – tak terkecuali obesitas pada balita.

Padahal, orang tua perlu memahami bahaya kelebihan berat badan atau obesitas pada balita itu nyata.

Obesitas pada balita sebaiknya jangan dibiarkan. Moms dan Dads perlu segera melakukan upaya untuk memperbaiki pola makan si Kecil agar berat badannya kembali normal.

Berikut sejumlah bahaya obesitas pada balita yang orang tua perlu ketahui:

1. Kerusakan pada Jantung

Bahaya Obesitas pada Balita 02.jpg

Foto: todaysparent.com

Sebuah studi di Eropa menemukan otot jantung pada balita obesitas 30 persen lebih tebal dibandingkan balita dengan berat badan normal. Pembesaran organ jantung merupakan penanda awal penyakit jantung. Temuan tersebut disampaikan dalam European Society of Cardiology di Barcelona.

Baca Juga: 4 Dampak Jangka Panjang Obesitas terhadap Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

2. Kelebihan Berat Badan Saat Dewasa

Bahaya Obesitas pada Balita 03.jpg

Foto: who.int

Dikutip dari situs web Parents, 8 dari 10 anak yang kelebihan berat badan atau menderita obesitas saat memasuki usia remaja ternyata tetap memiliki berat badan berlebih saat dewasa.

Ini terjadi karena kebiasaan yang sudah lama terbentuk sulit diubah. Selain itu, menurut Stephen Cook, M.D., dokter spesialis anak dari Golisano Children’s Hospital di Rochester, New York, kondisi obesitas dapat mengubah sistem metabolisme tubuh.

“Makin lama kelebihan lemak bersemayam di tubuh, maka tubuh harus berjuang lebih berat untuk menyesuaikan metabolisme dengan kondisi tersebut,” terang dokter Cook yang juga menjabat sebagai salah satu direktur di Institute for Healthy Childhood Weight, American Academy of Pediatrics (AAP).

Baca Juga: Moms, Obesitas Anak Ternyata Picu Bulimia saat Dewasa Lho

3. Terkait dengan Depresi Saat Dewasa

Bahaya Obesitas pada Balita 04.jpg

Foto: buzzfeed.com

Menurut para peneliti di University of Connecticut, kegemukan merupakan alasan utama anak mengalami perundungan. Oleh karena itu, kegemukan pada anak juga dianggap berkaitan dengan kepercayaan diri rendah dan depresi pada saat ia dewasa.

“Obesitas telah melampaui tembakau sebagai ancaman terbesar bagi kesejahteraan secara keseluruhan,” ujar David Ludwig, M.D., Ph.D., yang mengelola New Balance Foundation Obesity Prevention Center di Boston Children's Hospital.

Untuk mencegah bahaya obesitas pada balita, AAP merekomendasikan pencegahan obesitas dilakukan sejak dini.

“Lebih cepat [dicegah] lebih baik. Keuntungan anak-anak dibandingkan orang dewasa adalah mereka masih dalam tahap pertumbuhan sehingga mereka tidak harus menghilangkan berat badan berlebih. Mereka hanya perlu mengurangi kecepatan pertambahan berat badan,” terang dokter Ludwig.

Baca Juga: Kronologis Meninggalnya Satia Putra, Bocah Obesitas Asal Karawang

(AN/DIN)

Artikel Terkait