Di atas 5 tahun

DI ATAS 5 TAHUN
11 Maret 2018

6 Cara Agar Internet Aman Untuk Anak

Saatnya menjadi “badan sensor” untuk anak
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh (andia.ratna)
Disunting oleh (andia.ratna)

Era digital semakin mudah dinikmati oleh semua usia dan semua kalangan saat ini. Tidak mungkin rasanya Moms menolak dan mengelak realita ini. Apapun yang ingin diketahui oleh anak-anak, semua itu cukup di-browsing atau dilihat di YouTube. Satu sisi, ini memang berkah yang luar biasa. Anak-anak punya sumber informasi, pengetahuan, dan hiburan yang berlimpah.

Tapi, di sisi lain, ini juga kerap menjadi sumber musibah. Menurut penelitian dari Yayasan Samin (Sekretariat Anak Merdeka Indonesia), sebanyak 47% dari 830 responden anak mengakses internet dari rumah. Jadi, dari rumah pula lah kemungkinan anak bisa mengakses situs atau mendapatkan kiriman konten yang berbau pornografi.

Karena itu, salah satu solusi yang perlu ditempuh orang tua adalah berupaya sekuat mungkin untuk menajdi ‘badan sensor’ terhadap tayangan, bacaan, maupun gadget yang digunakan anak. Tidak bisa dengan langkah represif, melainkan membutuhkan diskusi dan kerjasama dengan anak, agar untuk menumbuhkan karakter anak yang kuat terhadap godaan. Caranya bisa menempuh beberapa tindakan di bawah ini:

1. Memberi penjelasan dan pemahaman. Saat melihat anak sudah mulai akrab dengan tayangan, bacaan, atau games, kita perlu menjelaskan mana yang boleh, mana yang belum, atau mana yang tidak boleh sama sekali. Tentunya dengan alasan.

2. Kontrol dan pengarahan. Anak-anak tidak cukup dengan dikasih pemahaman. Perlu ada kontrol langsung meski tidak selalu. Di sisi lain, kalau dikontrol terus, ini juga tidak bagus. Karena itu, perlu diarahkan.

3. Menyepakati sejumlah perilaku. Misalnya menyepakati jam, berapa lama, atau tempat. Semakin nyaman dan semakin terjaga privacy-nya, ada kemungkinan semakin dekat dia dengan sumber bahaya. Karena itu, sepakatilah aturan main.

4. Menghidupkan self-leadership. Tidak ada orangtua yang sanggup melindungi anaknya sepanjang waktu. Karena itu, yang terpenting adalah bagaimana anak belajar untuk menjaga dirinya (leader). Caranya adalah sering mengajak dialog untuk mengetahui sikapnya, rasionalisasinya atau mentalnya terhadap tayangan negatif atau dengan mengajarkan nilai-nilai sebagai benteng diri.

5. Belajar terus menerus. Orangtua perlu memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan, termasuk apa yang layak bagi anak, dan apa yang belum layak dikonsumsi anak. Untuk itu, orangtua perlu memahami film mana yang layak ditonton oleh anak, dan mematuhinya.

6. Hal yang sama berlaku untuk games dan gadget. Lengkapi juga komputer, laptop, dan gadget yang sering digunakan anak dengan software atau aplikasi child proof.

Apakah Moms punya pengalaman seputar hal ini? Yuk, berbagi cerita di kolom komentar di bawah ini.

<ARK>

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait