05 November 2020

7 Mitos Histerektomi yang Masih Berkembang, Jangan Langsung Percaya!

Faktanya, banyak mitos tentang operasi histerektomi yang salah termasuk menyebabkan menopause.

Yuk, simak penjelasan tentang mitos histerektomi yang masih berkembang ini. Histerektomi adalah operasi untuk mengangkat rahim wanita. Rahim adalah tempat bayi tumbuh ketika seorang wanita hamil.

"Tindakan histerektomi diperlukan ketika adanya ukuran mioma uteri yang besar, penebalan dinding rahim berulang, dan adanya kanker pada rahim (tentunya tindakan ini dapat dilakukan apabila pasien tidak ingin punya keturunan lagi)," jelas dr. dr. Thomas Chayadi, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Pondok Indah – Puri Indah.

Menurut dr. Thomas, setelah tindakan histerektomi, karena rahim sudah diangkat, maka pasien tidak akan mengalami menstruasi kembali (bukan menopause). Manfaatnya adalah keluhan yang ditimbulkan oleh penyakit pada rahim menjadi sembuh atau menghilang.

Di Amerika Serikat dilansir dari Women's Health, hampir 500.000 wanita menjalani operasi histerektomi setiap tahunnya. Histerektomi adalah operasi kedua yang paling umum di antara wanita di Amerika Serikat, selain persalinan sesar (C-section).

Histerektomi dapat dilakukan dengan beberapa cara berbeda tergantung pada riwayat kesehatan dan alasan operasi. Adapun beberapa pilihan operasi histerektomi, seperti histerektomi perut, histerektomi vagina, histerektomi laparoskopi dan bedah robotik.

Baca Juga: Kapan Bisa Berhubungan Seksual Lagi Setelah Operasi Caesar?

Sayangnya, masih banyak mitos histerektomi yang banyak dipercaya masyarakat. Mitos ini muncul karena banyak wanita belum mengetahui dasar-dasar prosedur bedah histerektomi.

Yuk kita kenali histerektomi lebih lanjut, Moms.

Jenis-jenis Histerektomi

7 Mitos Histerektomi yang Masih Berkembang, Jangan Langsung Percaya! 04.jpg
Foto: 7 Mitos Histerektomi yang Masih Berkembang, Jangan Langsung Percaya! 04.jpg

Foto: shutterstock.com

Tergantung pada alasan dilakukan histerektomi, ahli bedah dapat memilih untuk mengangkat semua atau hanya sebagian dari rahim. Pasien terkadang menggunakan istilah ini secara tidak tepat, jadi penting untuk mengklarifikasi dengan tepat.

  • Histerektomi supracervial atau subtotal, hanya mengangkat bagian atas rahim, menjaga serviks tetap di tempatnya.
  • Histerektomi total, mengangkat seluruh rahim dan leher rahim.
  • Histerektomi radikal, mengangkat seluruh rahim, jaringan di sisi rahim, leher rahim, dan bagian atas vagina. Histerektomi radikal umumnya hanya dilakukan jika terdapat kanker.

Dokter bedah dapat mengangkat ovarium, prosedur yang disebut ooforektomi atau membiarkannya tetap di tempatnya. Ketika tabung dikeluarkan, prosedur itu disebut salpingektomi. Ketika seluruh rahim, kedua tuba, dan kedua ovarium diangkat, seluruh prosedur disebut histerektomi dan salpingektomi-ooforektomi bilateral.

Mitos Histerektomi yang Tidak Perlu Dipercaya

Adapun mitos-mitos histerektomi yang berkembang di tengah masyarakat, berikut ini.

1. Hanya Dijalani Lansia dengan Kanker Rahim

7 Mitos Histerektomi yang Masih Berkembang, Jangan Langsung Percaya! 01.jpg
Foto: 7 Mitos Histerektomi yang Masih Berkembang, Jangan Langsung Percaya! 01.jpg

Foto: shutterstock.com

Faktanya, wanita dari segala usia bisa memerlukan operasi histerektomi karena berbagai alasan, termasuk timbulnya kanker ginekologi, fibroid rahim, prolapsus uterus, perdarahan vagina yang abnormal, endometriosis, penyakit radang panggul dan lainnya.

Pari Ghodsi, MD, ob-gyn dari Los Angeles mengatakan bahwa operasi histerektomi bisa dialami oleh wanita sebelum maupun sesudah menopause. Karena itu, Moms jangan mengabaikan tanda-tanda kecil kanker berbahaya.

2. Harus Menjalani Histerektomi Jika Kanker Terdeteksi

Faktanya, operasi histerektomi tidak hanya diperlukan untuk mengobati kanker. Penyakit non-kanker bisa juga membutuhkan operasi histerektomi sebagai pilihan terakhir setelah pengobatan lainnya tidak berhasil.

"Histerektomi adalah satu-satunya pilihan pengobatan wanita dalam kasus kanker serviks, rahim atau ovarium," kata Linda Bradley, MD, wakil ketua kebidanan dan ginekologi di Klinik Cleveland di Ohio.

Ini adalah mitos histeroktomi yang tidak perlu dipercaya sebab Dokter Bradley menyatakan bahwa histerektomi darurat juga mungkin diperlukan jika ada pendarahan atau infeksi rahim yang tidak terkontrol.

3. Rahim akan Diangkat Selama Histerektomi

7 Mitos Histerektomi yang Masih Berkembang, Jangan Langsung Percaya! 03.jpg
Foto: 7 Mitos Histerektomi yang Masih Berkembang, Jangan Langsung Percaya! 03.jpg

Foto: shutterstock.com

Sebenarnya ada tiga jenis histerektomi yakni supracervial, total dan radikal. Ahli bedah dapat memilih untuk mengangkat seluruh atau hanya sebagian dari rahim tergantung pada alasan medis pasien membutuhkan operasi histerektomi tersebut.

Dalam beberapa kasus operasi histerektomi, leher rahim dan/atau ovarium juga diangkat. Bahkan histerektomi total juga mengangkat seluruh uterus dan serviks.

Dalam histerektomi supracervial atau subtotal, ahli bedah hanya mengangkat bagian atas rahim dan menjaga serviks tetap di tempatnya. Operasi histerektomi jenis ini hanya dapat dilakukan secara laparoskopi atau perut.

Lalu histerektomi radikal, umumnya dilakukan ketika kanker terdeteksi. Biasanya ahli bedah akan mengangkat seluruh rahim, jaringan di sisi rahim, leher rahim dan bagian atas vagina. Selain itu, ahli bedah juga bisa mengangkat ovarium, yakni prosedur yang disebut ooforektomi atau dapat dibiarkan di tempat.

Baca Juga: 4 Jenis Pengobatan Leukemia Selain Kemoterapi Ini Punya Potensi Menyembuhkan?

4. Vagina adalah Pintu untuk Melakukan Operasi Histerektomi

Ini hanyalah mitos histeroktomi yang tidak perlu dipercaya juga. Faktanya, ada tiga cara melakukan operasi histerektomi, yakni melalui vagina, perut atau dengan bantuan laparoskopi dan robot. Ketika wanita memilih metode histerektomi yang mereka sukai, dokter harus mempertimbangkan prosedur operasi yang paling aman dan biaya efektif untuk memenuhi kebutuhan medis pasien.

Menurut ACOG, secara umum bukti telah menemukan bahwa histerektomi vagina memiliki hasil yang lebih baik dan komplikasi lebih sedikit daripada histerektomi laparoskopi atau perut.

5. Wanita Lebih Cepat Menopause setelah Histerektomi

7 Mitos Histerektomi yang Masih Berkembang, Jangan Langsung Percaya! 05.jpg
Foto: 7 Mitos Histerektomi yang Masih Berkembang, Jangan Langsung Percaya! 05.jpg

Foto: shutterstock.com

Menurut Dr. Ghodsi, mitos histerektomi ini menyesatkan karena histeroktomi adalah operasi pengangkatan rahim, bukan ovarium Anda. Karena itu, muncul kesalahpahaman besar bahwa perempuan akan memasuki masa menopause setelah menjalani operasi histerektomi.

Menopause setelah operasi histerektomi bisa terjadi jika ovarium diangkat karena alasan medis. Sayangnya, banyak orang mengira bahwa pengangkatan ovarium termasuk dalam prosedur operasi histerektomi.

Padahal prosedur tersebut hanya dilakukan ketika seorang wanita memiliki masalah dengan ovariumnya atau bagian tersebut justru menjadi penyebab endometriosis parah.

Jadi, operasi histerektomi yang tidak perlu tindakan pengangkatan ovarium, tidak akan mengubah hormon atau menyebabkan menopause.

6. Masih Bisa Hamil setelah Operasi Histerektomi

Faktanya, seorang wanita tidak bisa hamil lagi setelah operasi histerektomi. Dokter Ghodsi mengatakan setelah menjalani histerektomi, wanita tidak akan lagi mengalami menstruasi. Prosedur ini menandakan akhir dari kesuburan.

Baca Juga:10 Kesalahan Yang Umum Terjadi Saat Program Hamil

7. Tidak Bisa Berhubungan Seksual setelah Operasi Histerektomi

7 Mitos Histerektomi yang Masih Berkembang, Jangan Langsung Percaya! 07.jpg
Foto: 7 Mitos Histerektomi yang Masih Berkembang, Jangan Langsung Percaya! 07.jpg

Foto: shutterstock.com

Rentang waktu wanita bisa melakukan hubungan seksual setelah histerektomi tergantung pada jenis operasi histerektomi yang dijalani. Umumnya, dua hingga empat minggu pasca operasi wanita boleh saja melakukan hubungan seksual jika dokter mengizinkan.

Terutama, jika leher rahim tidak diangkat bersamaan dengan rahim selama operasi histerektomi. Namun, jika leher rahim diangkat, maka dibutuhkan sekitar enam minggu untuk pulih sebelum melakukan hubungan seks.

"Setelah histerektomi, pasien tetap dapat melakukan hubungan intim karena hanya rahim yang diangkat, vagina masih ada, dan Moms masih dapat berhubungan intim seperti biasa," tutur dr. Thomas.

Jadi, itulah jenis histerktomi dan beberapa mitos mengenai histeroktomi yang tidak perlu dipercaya, Moms. Semoga Moms yang harus menjalani histerektomi bisa bangkit dari kesedihan dan bisa menjalani hari lagi dengan langkah ringan.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.