07 November 2018

Anak Kena Stunting atau Pendek karena Gizi Buruk Picu Penyakit Degeneratif Saat Dewasa

Jangan anggap remeh jika anak lebih pendek dibanding teman seusianya
Anak Kena Stunting atau Pendek karena Gizi Buruk Picu Penyakit Degeneratif Saat Dewasa

Foto: Orami Photo Stocks

Belakangan, persoalan stunting alias pendek karena gizi buruk jadi buah bibir di hampir setiap kalangan. Mulai dari kalangan medis hingga para ibu yang memiliki balita. Stunting memang sudah jadi persoalan nasional yang harus segera diatasi.

Di Indonesia, sebanyak 7,8 juta dari 23 juta balita atau sekitar 35,6 persen menderita stunting. Karena kondisi itu juga, WHO menetapkan Indonesia sebagai negara dengan status gizi buruk.

Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, Sp.A(K), Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM, mengatakan bahwa stunting bisa diawali karena bayi lahir prematur, atau berat badan lahir rendah (BBLR). Jadi, ‘modal’ anak memang kurang sejak awal.

“Tapi yang paling banyak adalah post natal. Anak tidak mendapat asupan nutrisi yang adekuat setelah lahir,” terang dr Damayanti.

Stunting sendiri mengacu pada kondisi bayi maupun anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhannya. Dengan kata lain, gagal mencapai tinggi badan ideal sesuai usianya.

Hal ini terutama dipengaruhi oleh pemberian gizi yang kurang tepat. Utamanya, kurang asupan karbohidrat, lemak, dan protein.

Baca Juga : Ini Caranya Memprediksi Tinggi Badan Anak Saat Dewasa Nanti

Faktor Penyebab Anak Tidak Dapat Nutrisi dengan Baik

Banyak faktor yang membuat anak tidak mendapatkan asupan nutrisi yang baik. Bisa karena ekonomi keluarga yang kurang, bisa karena orang tua tidak tahu cara memberi makan yang benar, bisa karena persoalan abuse, atau karena sakit.

Misalnya anak sering demam. Meski asupan nutrisinya bagus, tapi akhirnya terpakai untuk mengatasi demamnya. Begitu juga dengan anak yang lingkungan rumahnya kotor sehingga dia terkena diare.

“Meski asupan nutrisinya bagus, akhirnya ikut keluar juga karena diare,” kata dr Damayanti.

Baca Juga: 3 Tips Sehat Membantu Anak Tumbuh Lebih Tinggi

Anak Pendek Harus Segera Dibawa ke Dokter

Idealnya, pertumbuhan anak berjalan linear. Pertambahan berat badan (BB) diikuti dengan peningkatan tinggi badan (TB). Pertumbuhan paling cepat terjadi dalam setahun pertama.

Setelah itu mulai turun, lalu naik lagi saat anak puber, yakni usia 10 tahun pada anak perempuan, dan 12 tahun pada anak lelaki.

Dr Damayanti menegaskan, bahwa para orang tua harus segera membawa anak ke dokter bila terlihat lebih pendek dari teman seusianya. “Harus dicari tahu apakah normal atau patologis. Hanya dokter yang bisa menentukan itu,” tegasnya.

Baca Juga : Pendek Belum Tentu Kurang Gizi atau Stunting, Bisa jadi Karena Hal Ini

Stunting Menurunkan IQ Si Kecil

Stunting selalu diawali dengan BB kurang. BB perlahan turun tapi dibiarkan saja sehingga masalah menjadi berlarut-larut. Bila anak sampai kekurangan asupan energi, yang pertama kali dikorbankan adalah otaknya.

Maka bisa dibayangkan apa yang akan terjadi seandainya asupan gizi anak jelek selama usia 1 tahun pertama.

Penelitian menunjukkan, bayi yang pernah mengalami gizi kurang/gizi buruk di usia kurang dari 1 tahun, maka pada usia 40 tahun, sebanyak 25 persen dari anak-anak akan memiliki IQ kurang dari 70, dan sebanyak 40 persen memiliki IQ kurang dari 90.

“Itu kemampuan otaknya hanya sampai kelas 3 SMP. Dia tentu bisa melanjutkan ke SMA dan seterusnya, tapi akan sangat kesulitan untuk mengikutinya,” terang dr Damayanti.

Duh, sungguh menyeramkan, ya, Moms!

Baca Juga : 3 Dampak Buruk Malnutrisi Pada Balita yang Harus Kita Tahu

Stunting Juga Memicu Penyakit Degeneratif

Yang lebih mengkhawatirkan, rupanya dampak stunting tidak berhenti hanya pada rendahnya IQ dan tubuh pendek.

Pada anak stunting, oksidasi lemak juga berkurang. Sehingga ketika anak diberi makan sesuai aturan untuk menyelamatkan otaknya, ia berpotensi menjadi obesitas di kemudian hari karena oksidasi lemaknya tidak bagus.

“Jadi, penyakit tidak menular itu bukan karena anak gemuk dari awal. Tapi karena asupan makannya tidak cukup. Sehingga begitu diberi makan biasa, ia jadi gemuk,” papar dr Damayanti.

Ia melanjutkan, anak mungkin kelihatan gemuk, tapi organ dalamnya rusak. Dan kondisi ini disebut adiposity rebound. Dr Damayanti menjelaskan, jika orang tua menaikkan kadar lemak pada anak sebelum usia dua tahun, sebanyak 50 persen anak akan menjadi obesitas di usia 7 tahun.

Orang tua yang tidak mengerti memberi anak mereka banyak sayur dan buah dengan harapan anak yang obesitas menjadi lebih langsing. Atau anak dipaksa makan begitu banyak karena BB-nya kurang.

Perlakukan ini justru akan memperbesar potensi obesitas di kemudian hari.

Baca Juga : Zat Gizi yang Diperlukan untuk Perkembangan Otak Anak

“Selain itu, psikologis anak jadi rusak karena tidak percaya lagi dengan orang tua akibat dipaksa makan, badannya pun rusak,” ungkapnya.

Bila anak sudah obesitas, dr. Damayanti mengakui bahwa itu sulit sekali diperbaiki. Komplikasinya terhadap kesehatan pun luar biasa.

“Saya menemukan bahwa di usia anak sudah ada yang terkena hipertensi dan memiliki kolesterol tinggi,” terang dr Damayanti.

Dampak stunting sungguh luar biasa buruk, ya, Moms pada anak kita.

Nah, sebelum terlambat, Moms yang memiliki bayi wajib memaksimalkan asupan nutrisi agar Si Kecil bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal hingga kelak ia dewasa.

(AND)

 

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.