Gratis Ongkir minimum Rp 300.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Sex & Relationship | May 15, 2018

Berapa Kali Frekuensi Ideal Hubungan Seksual?

Bagikan


 

Mungkin Moms bertanya-tanya, seberapa seringkah idealnya pasangan suami-istri berhubungan seksual? Atau, jangan-jangan, tidak ada yang namanya frekuensi hubungan seksual ideal? Cari tahu jawabannya di sini.

Bila pertanyaan tentang frekuensi melakukan hubungan seksual ditanyakan kepada teman-teman yang sudah menikah, jawaban yang diperoleh pastilah akan bervariasi.

Ada pasangan yang merasa cukup dengan frekuensi 1 kali seminggu, tapi ada juga yang rutin melakukannya 2 hari sekali. Beragamnya jawaban yang diperoleh, kadang menimbulkan kekhawatiran di benak Moms, sudah idealkah frekuensi hubungan seksual Moms bersama pasangan?  

Tidak Ada Frekuensi Ideal

Nyatanya, menurut Dr. Phil McGraw, PhD, psikolog klinis dari University of North Texas, "Sebenarnya tidak ada angka yang benar atau salah untuk frekuensi hubungan seksual. Yang perlu Moms lakukan adalah bernegosasi mengenai frekuensi yang pas untuk Moms dan pasangan."

Memang, sih, kesibukan yang menyita waktu membuat frekuensi hubungan seksual suami-istri menjadi berkurang. Bagi pasangan yang sama-sama bekerja, misalnya, pulang dari kantor sama-sama sudah capek, inginnya tidur saja, sehingga tak ada waktu untuk bermesraan. Morning sex? Tidak sempat, karena Moms dan pasangan selalu terburu-buru untuk berangkat ke kantor.

Berbagai penelitian membeberkan sejumlah teori mengenai frekuensi ideal hubungan seksual. Rata-rata, pasangan menikah melakukan hubungan seks sekali atau dua kali setiap minggu.

Faktor usia dan lama pernikahan memegang peranan di sini. Pasangan yang berusia 20 tahunan dan berstatus pengantin baru tentu saja sedang semangat-semangatnya melakukan hubungan seks. Berbeda dengan pasangan yang sudah berusia di atas 35 tahun dan telah menikah di atas 10 tahun, dimana bagi mereka seks mungkin hanyalah sekadar kewajiban.

Selain lamanya usia perkawinan dan proses penuaan, stres fisik dan stres psikis (misalnya kelelahan) juga dapat menurunkan frekuensi hubungan seks pasangan suami isteri. Apalagi jika hubungan seks dilakukan secara monoton, tanpa teknik dan variasi-variasi yang baru. Di samping itu, perubahan postur tubuh akibat kegemukan, pasca melahirkan, juga dapat mengurangi gairah untuk melakukan hubungan seks.

Jawaban berbeda juga akan Moms dapatkan dari kaum pria. Mereka mungkin akan lebih siap melakukannya kapan saja, selama dia tidak kelelahan atau stres. Adapun bagi kebanyakan kaum perempuan, frekuensi sekali atau dua kali dalam sebulan mungkin sudah dikategorikan cukup oleh mereka.

Jika Ingin Hamil

Bagi pasangan pengantin baru, tujuan utama berhubungan seksual adalah untuk memiliki keturunan. Tak heran jika frekuensi hubungan seksual mereka jauh lebih tinggi dibandingkan pasangan yang melakukan hubungan seksual bukan untuk tujuan memiliki keturunan.

Namun, benarkah frekuensi yang cukup sering adalah cara ampuh agar cepat hamil? Ternyata tidak juga, lho.

Hasil survei yang dilakukan terhadap 3.000 wanita oleh sebuah perusahaan untuk keluarga berencana, menyebutkan bahwa rata-rata wanita akan hamil setelah melakukan hubungan seksual sebanyak 104 kali dengan pasangannya.

Jika rata-rata pasangan ini melakukan hubungan seksual sekitar 4 kali dalam seminggu, maka dibutuhkan waktu sekitar 6 bulan untuk bisa hamil. Ini bukan patokan pasti, karena nyatanya ada saja beberapa wanita yang diberi keberuntungan bisa langsung hamil hanya dengan melakukan 2-3 kali hubungan seksual.

Namun, hal utama yang harus Moms perhatikan untuk dapat cepat hamil adalah dengan memperhatikan kesehatan tubuh Moms dan pasangan, terutama yang berkaitan dengan organ reproduksi.

Dan satu hal lagi, frekuensi bercinta yang terlalu sering justru akan membuat pasangan suami-istri secara tidak sadar menjadi tertekan saat bercinta. Padahal seharusnya bercinta tidak boleh dilakukan ketika kondisi sangat stres.

 

(VAN)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.