Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Gadget & Teknologi | Oct 4, 2018

Jangan Sampai Tertipu! Ini 5 Cara Membedakan Berita Hoaks dan Asli

Bagikan


Terkait dengan hukuman, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia Komisaris Besar Rikwanto menegaskan bahwa baik yang mendistribusikan hoaks atau hanya iseng menyebarkannya harus berhati-hati.

“Ancamannya tidak main-main, bisa kena pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar,” kata Rikwanto seperti dikutip dari Viva.com.

Dia menjelaskan, pelaku penyebar hoaks bisa terancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE.

Di dalam pasal itu disebutkan, "Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp1 miliar."

Menurut Rikwanto, mulai sekarang setiap orang harus berhati-hati dalam menyebarkan pesan berantai lewat perangkat elektronik. Sekarang banyak pesan pendek (SMS), maupun e-mail hoaks yang berseliweran. “Yang mem-forward, disadari atau tidak, juga bisa kena karena dianggap turut mendistribusikan kabar bohong,” tuturnya.

Nah, sebelum kita menjadi salah satu pelaku penyebaran hoaks, ada baiknya kita cari tahu apakah berita tersebut benar atau tidak. Dikutip dari Howstuffworks.com, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk memastikan kabar tersebut. Berikut daftarnya!

1. Tidak Ada Konfirmasi Pihak Terkait

Sebuah berita dikatakan asli jika ada konfirmasi dari pihak terkait. Jika ada berita yang melibatkan sebuah pihak tapi tidak ada konfirmasi dari pihak tersebut, jangan langsung percaya.

Simpan dulu informasi tersebut dan jangan disebar karena bisa jadi itu sekadar hoaks. Ingat, ikut menyebarkan hoaks ada hukumannya lho, Moms.

2. Memancing Kemarahan

Pernahkan Moms membaca berita dan merasa marah atau tersinggung? Bisa jadi itu hoaks.

Tujuan dari penyebaran hoaks adalah membuat masyarakat resah, marah, gelisah, dan takut. Jika ada kabar seperti itu, ingat, jangan disebar sebelum mendapatkan sumber yang kredibel.

Baca Juga: 5 Foto Anak yang Tidak Boleh Diupload di Media Sosial

3. Medianya Tidak Kredibel

Jika mendapatkan link berita untuk kabar tersebut, pastikan melakukan pengecekan terhadap website. Terkadang, berita tersebut seolah dimuat oleh situs berita ternama, namun website-nya palsu.

Cocokkan website situs berita ternama dengan website yang ada berita hoaks tersebut. Bila situsnya mencurigakan, kemungkinan berita tersebut palsu.

4. Beritanya Nyeleneh

Terkadang, kita harus mencurigai kabar yang terdengar terlalu lucu atau menarik atau nyeleneh. Bisa saja kabar tersebut adalah kabar bohong. Banyak berita ringan yang terdengar aneh tapi tidak bisa dipastikan kebenarannya.

Baca Juga: Bolehkah Anak Punya Akun Media Sosial Sendiri?

5. Pastikan Kabar Bukan Bersifat Satir

Banyak kabar tersebar yang sebenarnya hanyalah satir atau sindiran. Tidak sedikit orang yang termakan kabar tersebut. Jadi, sebaiknya hati-hati sebelum menyebarkannya ya Moms.

Beberapa media mainstream yang sedang getol mengampanyekan anti hoaks juga kerap menerbitkan berita hoaks, tapi ditambahkan keterangan dan klarifikasi. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat di tengah maraknya kabar hoaks.

Itulah hal yang perlu kita ketahui mengenai kabar hoaks. Jangan sampai kita jadi pelaku penyebarannya atau termakan berita tersebut.

(AND)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.