Pengasuhan Anak (Parenting)

Eduseries: "Ya Abisnya Adik Kan Dibelikan Mainan Baru, Masa Rara Engga, Ma??"

Seri : Mengatasi Sibling Rivalry Kakak & Adik
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Biro Psi. CMT
Disunting oleh Orami

Cerita Pengantar

“Mamaaaaa, tadi kak Rara ngerebut mainanku”, teriak Ardo mengadu pada Mama nya sambil sesenggukan menangis.

Rara datang dengan wajah yang kesal dan berkata, “Ya abisnya adik kan dibelikan mainan baru, masa Rara engga Ma??”

“Sudah-sudah, nanti Mama belikan juga untuk Rara, sekarang kalian baikan ya” kata Mama sambil merangkul Rara dan Ardo.

Moms & Dads,
Pasti pernah ya terjadi pertengkaran antara Si Kakak dan Si Adik? Entah pertengkaran itu terjadi karena rebutan mainan, mencari perhatian Mom & Dad atau hal sepele lainnya. Kira-kira bagaimana ya cara menyikapinya?
Temukan jawabannya pada Orami Eduseries, seri Mengatasi Sibling Rivalry Kakak & Adik.

  1. Apa itu Sibling Rivalry dan penyebabnya?
  2. Pentingnya Mempersiapkan si Kakak untuk mencegah Sibling Rivalry
  3. Apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak boleh dilakukan orangtua untuk mencegah dan mengatasi sibling rivalry

Bagian 1: Apa itu Sibling Rivalry dan Penyebabnya

Eduseries 2 (1).jpg

Moms & Dads pasti mendambakan anak-anak bisa selalu akur. Namun sayangnya harapan tersebut terkadang sulit menjadi kenyataan karena sifat anak-anak yang masih suka bertengkar tanpa sebab. Hal ini biasa disebut dengan sibling rivalry dan merupakan hal yang sering ditemui pada anak-anak.

Moms & Dads tahukah bahwa ternyata Sibling rivalry itu merupakan suatu tahap perkembangan diri yang mendukung perkembangan aspek sosial dan emosional anak? Nah, biasanya frekuensi dan beratnya perselisihan yang dialami seorang anak tergantung pada perbedaan usia, kepribadian anak, dan cara orangtua menyikapi hal tersebut.

Umumnya si Adik yang lebih cenderung kompetitif dan hal tersebut akan berkurang saat anak semakin bertambah usia. Dan biasanya, anak dengan jarak usia yang berdekatan memiliki kecenderungan lebih besar untuk berselisih .

Beberapa orang tua berfikir penyebab anak yang berselisih di akibatkan karena kesalahan orangtua dalam mengasuh anak-anaknya, namun ternyata bukan itu penyebab utamanya. Sibling rivalry terjadi karena upaya buah hati untuk mencari perhatian orang tua, mencari kedudukan tertentu di keluarga, memperebutkan barang, teman dan bahkan waktu dari orangtuanya.

Moms & Dads, meskipun sibling rivalry merupakan suatu bagian dari tahap perkembangan anak, penting untuk diketahui bahwa sibling rivalry yang terjadi secara berlebihan dapat menimbulkan perilaku agresif seperti seperti berteriak terus-menerus, melempar barang, menyakiti secara fisik, atau menghina secara berlebihan, dan pada akhirnya hal tersebut memerlukan penanganan oleh tenaga ahli / psikolog.

Sibling rivalry yang tidak diatasi dengan baik dapat meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan kemarahan pada anak saat dewasa.

Catatan Kecil :
Moms & Dads, memang pertengkaran antara kakak dan adik merupakan hal wajar yang tidak dapat dihindari. Sehingga peran orangtua disini diharapkan untuk tetap sabar, dapat melerai, dan menyayangi mereka secara adil. Moms & Dads perlu menyikapinya dengan 'kepala dingin'. Dibanyakin sabarnya dan tetap semangat ya, Moms & Dads!


Bagian 2: Pentingnya Mempersiapkan si Kakak untuk Mencegah Sibling Rivalry

Eduseries 3 (2).jpg

Moms & Dads, siapa nih yang disini sedang menantikan kelahiran anak ke-dua atau anak ke-tiga? Pasti sudah mulai timbul pertanyaan dan keresahan apakah nanti mampu membagi kasih sayang yang sama kepada anak-anak? Lalu bagaimana apabila nanti antara si Kakak dan Adik timbul kecemburuan hingga menimbulkan perselisihan?

Jangan khawatir Moms & Dads, beberapa tips di bawah ini bisa dipraktekkan untuk mulai melakukan pencegahan fenomena sibling rivalry itu terjadi dengan cara membantu kesiapan si Kakak:

  1. Mendorong si Kakak untuk memiliki teman sebelum adiknya lahir.
  2. Membuat si Kakak tetap merasa penting dalam keluarga.
  3. Tunjukkan rasa menghormati terhadap barang anak yang dianggap berharga. Beritahu kepada si Kakak jika barangnya akan dipinjam atau digunakan untuk adiknya.
  4. Menunjukkan dan mengajarkan empati kepada si Kakak agar dapat menerima adik barunya dengan baik.
  5. Meluangkan waktu bersama masing-masing anak secara rutin. Hal ini penting untuk membangun rasa percaya dan aman pada diri masing-masing anak. Waktu bersama dapat dilakukan saat kegiatan sederhana, seperti membaca, berjalan-jalan, atau melakukan kegiatan rumah tangga.

Catatan Kecil :
Moms & Dads, ini merupakan waktu yang tepat untuk mengajarkan anak yang lebih tua / si Kakak untuk bersikap lebih dewasa dengan adanya kehadiran calon adiknya. Disini peran orang tua untuk memberikan pengertian kepada si Kakak sangat penting agar Kakak dapat belajar cara saling mengasihi terutama kepada Adik. Yuk manfaatkan momen ini sebagai waktu yang tepat untuk mengajarkan si Kakak agar lebih menyayangi adiknya kelak.


Bagian 3: Apa yang Boleh dan Tidak Boleh dalam Menghadapi Sibling Rivalry

Eduseries 4 (1).jpg

Semakin bertambahnya usia Kakak & Adik tentu saja akan membuat suasana rumah lebih ramai ya, Moms & Dads. Perselisihan dan letupan-letupan kecil pasti terjadi antara Kakak & Adik. Namun apabila perselisihan tersebut terjadi semakin sering dan tidak diatasi dengan baik, akan menimbulkan ketidaknyamanan & permasalahan besar di kemudian hari.

Perlu Moms & Dads sadari bahwa orangtua juga memiliki peranan yang sangat penting untuk mencegah sibling rivalry terjadi. Beberapa tips dibawah ini dapat diterapkan untuk menghindarkan hal tersebut terjadi:

Apa saja yang penting untuk dilakukan orangtua:

  1. Karena masing-masing anak memiliki sifat yang unik, maka anak sebaiknya tidak selalu diperlakukan dengan pendekatan yang sama. Masing-masing anak perlu diperlakukan sebagai individu yang berbeda sesuai karakternya.
  2. Berikan pujian saat anak-anak rukun. Gunakan kalimat yang jelas agar anak tahu perilaku apa yang baik dan terpuji.
  3. Tunjukkan kasih sayang melalui kata-kata dan perbuatan.
  4. Berikan waktu agar anak dapat bermain sendiri atau bersama teman.
  5. Ciptakan suasana rumah yang menyenangkan dan suportif, termasuk tempat untuk bermain.
  6. Bimbing anak untuk menyatakan perasaan dan pendapatnya dengan baik.
  7. Ajarkan anak untuk bekerja sama dalam memecahkan masalah.

Apa saja yang tidak boleh dilakukan oleh orangtua

  1. Membanding-bandingkan anak dengan kakak, adik, atau temannya.
  2. Membela salah satu anak secara khusus.
    Memiliki kedekatan tertentu dengan salah satu anak merupakan hal yang wajar, namun jangan tunjukkan hal ini secara terang-terangan karena dapat memicu kecemburuan dan kebencian pada anak lainnya.
  3. Memberikan privasi berlebihan kepada anak, seperti memberikan televisi pada masing-masing kamar anak. Hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk belajar memecahkan masalah dan bernegosiasi.
  4. Memaksakan anak untuk memiliki teman-teman yang sama. Dorong anak untuk memiliki hubungan pertemanan sendiri.
  5. Memaksa anak untuk meminta maaf jika ia tidak merasa bersalah. Hal ini hanya mendorong anak untuk berbohong. Orangtua sebaiknya memberikan waktu agar kemarahan anak dapat mereda dan mendorong anak untuk mencari solusi dari masalah asal.

Catatan Kecil :
Moms & Dads sangat penting sekali untuk memahami karakteristik pada anak, hal tersebut diperlukan agar orang tua mampu melakukan pendekatan yang tepat saat menghadapi anak yang sedang marah, kecewa, atau emosi. Moms & Dads dapat memberikan hadiah kepada anak-anak saat mereka menunjukkan kebersamaan dan kerukunan.

Eduseries - quote.jpg


Moms and Dads, jadilah yang pertama mereview Orami Parenting Eduseries!

Klik di sini!


Seri ini bekerjasama dengan Biro Psikologi CMT

Instagram: @biropsi.cmt

Email: biropsi.cmt@gmail.com


Referensi/Pranala Luar

  • Muarifah, Alif., & Fitriana, Yeni F.F. (2019). Sibling Rivalry: Bagaimana Pola Asuh dan Kecerdasan Emosi Menjelaskan Fenomena Persaingan Antar Saudara. Journal of Early Childhood Care & Education, 2(1), 48-58
  • Putri, Ayu C.T., Deliana, S.M., & Hendriyani, R. (2013). Dampak Sibling Rivalry (Persaingan Saudara Kandung) Pada Anak Usia Dini. Developmental and Clinical Psychology, 1(2), 33-37

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait