Parenting Islami

22 Desember 2020

Ini Hukum Istri Mendiamkan Suami dalam Islam, Moms Wajib Tahu!

Mengetahui hukum istri mendiamkan suami akan mempermudah pencarian solusi saat berselisih faham
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Seperti apa hukum istri mendiamkan suami menurut Islam? Cari tahu jawabannya di sini!

Setiap perempuan mendambakan suami yang shalih, lembut, setia, pengertian, bertutur kata halus, berilmu, selalu membimbing, bertanggung jawab, dan kriteria-kriteria ideal lainnya. Namun, suami adalah manusia, bukan malaikat.

Oleh karena itu, tidak jarang adanya perselisihan ketika kenyataan tidak sesuai dengan kenyataan. Hal ini juga akan diperberat saat komunikasi antara suami dan istri tidak berjalan dengan mulus. banyak istri yang akhirnya lebih memilih untuk berdiam diri dari pada mengeluarkan kata-kata yang tidak perlu.

Selain untuk menghindari konflik, apakah hukum istri mendiamkan suami? Meskipun dalam rangka menasihati, apakah hal tersebut diperbolehkan? Jika tidak, apa dosanya? Jika boleh, apa syaratnya? Simak jawabannya di sini!

Baca Juga: Ini 5 Cara Mudah Agar Pasangan Pendiam Dapat Beradaptasi Dengan Orang Terdekat Anda

Silent Treatment, Efektifkah?

Hukum Istri Mendiamkan Suami -1

Foto: Orami Photo Stock

Sebelum mengetahui hukum istri mendiamkan suami, ada baiknya untuk berkenalan dulu dengan silent treatment. Apa yang dimaksud dengan silent treatment? Ini adalah teknik tutup mulut yang digunakan oleh pasangan saat terjadi perselisihan, dikutip Verywell.

Journal Communication Monographs menemukan bahwa silent treatment digunakan baik oleh pria maupun perempuan untuk menghentikan perilaku atau kata-kata pasangannya, dan bukan untuk memancing amarahnya.

Diam digunakan sebagai senjata untuk memutus percakapan yang tidak bermakna, menghentikan pertukaran informasi, dan pada akhirnya akan melukai orang lain. Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa mengabaikan seseorang akan mengaktifkan area otak yang sama dengan yang diaktifkan oleh rasa sakit fisik.

Sementara itu, dalam hubungan non-abusive, silent treatment sering disebut dengan interaksi permintaan-menarik. Dalam situasi ini, satu pasangan mengajukan tuntutan sementara pasangan lainnya menarik diri atau diam. Meskipun interaksi ini mungkin tampak serupa dengan silent treatment, tapi motifnya berbeda.

Dalam interaksi ini, pasangan yang menuntu merasa dikucilkan dan kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi sementara pasangan yang menarik diri menjadi diam karena perasaan terluka dan keengganan atau ketidakmampuan untuk membicarakannya.

Meskipun tidak dianggap kasar, kedua pendekatan tersebut dapat merusak hubungan. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa pasangan yang melakukan keduanya merasa tidak puas dengan hubungannya.

Baca Juga: Bahaya Mengumbar Masalah Rumah Tangga pada Sembarang Orang

Hukum Istri Mendiamkan Suami

Hukum Istri Mendiamkan Suami -2

Foto: Orami Photo Stock

Saat mengalami perselisihan, suami dan istri mengeluarkan alasannya. Sering terjadi bahwa masing-masing merasa menjadi pihak yang paling benar dengan pendapatnya sendiri. Bahkan, tidak jarang pula berujung pada tak bertegur sapa satu sama lain.

Sebenarnya, hukum istri mendiamkan suami pada dasarnya dibolehkan jika dalam rangka menasihati dan menghindari pertengkaran yang sia-sia. Rasulullah SAW mengibaratkannya dengan adanya perselisihan antara saudara dan memberikan tenggat waktu.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang memboikot saudaranya lebih dari 3 hari, kemudian dia meninggal maka dia masuk neraka,”. (HR Abu Daud 4914)

Rumah tangga tanpa komunikasi, apalagi diisi dengan amarah akibat pertengkaran, tentunya tidk akan diliputi keberkahan. Oleh karena itu jika terjadi perselisihan, manfaatkan waktu tersebut untuk saling berintrospeksi dan kembali dengan optimisme yang baru agar permasalah segera selesai.

Selain itu, jika berniat untuk menasihati suami, selain mendiamkannya, cobalah langkah lain yang bisa saja lebih efektif. Langkah yang bisa ditempuh oleh istri adalah bersabar dengan kesabaran yang tidak ada batasnya.

Sabar adalah perbuatan yang amat sulit dan membutuhkan perjuangan keras. Tidak ada yang kuat memikul beban tersebut melainkan orang yang betul-betul mengenal Allah SWT. Allah berfirman: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas,”. (Az-Zumar: 10)

Syekh Assa’di menjelaskan, “Sabar mencakup seluruh macam kesabaran, yaitu sabar dalam menerima takdir Allah yang menyakitkan sehingga ia tidak mengeluh, sabar dalam menahan diri dari maksiat sehingga ia tidak melakukan perbuatan maksiat, dan sabar dalam taat kepada Allah sehingga ia menjalankan kewajibannya,”. (Tafsir as-Sa;di : 720)

Istri yang sabar dalam menghadapi suami yang terkadang menyakitinya, sebenarnya memiliki keyakinan bahwa apa yang dilakukan adalah ladang ibadah. Allah berfirman: “Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya,”. (Al-Mulk ayat: 2)

Baca Juga: 6 Topik Debat yang Sering Terjadi dalam Rumah Tangga

Bijak Dalam Memberi Nasihat

Hukum Istri Mendiamkan Suami -3

Foto: Orami Photo Stock

Setelah berusaha sabar, maka langkah berikutnya adalah istri berusaha memberi nasihat. Ada beberapa adab yang diperhatikan oleh istri ketika ingin menasihati suaminya, antara lain :

  • Meluruskan niat. Dikatakan niat istri lurus jika saat menasihati berniat melaksanakan perintah Allah, karena besarnya kasih sayangnya kepada suami, dan ingin kebenaran menang mengalahkan kebatilan dan keburukan.
  • Lemah lembut. Rasulullah SAW menegaskan: “Sesungguhnya tidaklah lemah lembut mengiringi sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan berubah menjadi buruk,”. (HR Muslim 16/493)
  • Memilih tempat dan waktu yang tepat. Istri harus memperhatikan ini, sebab ada kemungkinan suami belum siap karena sedang dalam masalah lainnya, atau di tempat yang memang tidak tepat untuk memberi nasihat. Dan jika dilakukan malah akan memperkeruh keadaan.
  • Memberi kesempatan. Mengubah watak dan perilaku seseorang tidaklah mudah karena membutuhkan waktu dan proses. Sehingga, istri harus menambah kesabaran untuk menanti perubahan dari suaminya.
  • Berdoa dan bertawakal. Setelah berbagai upaya, istri harus sering berdoa memohon kepada Allah agar suaminya diberi hidayah. Istri harus pun menyerahkan hasilnya kepada Allah. Dengan tawakal yang sebenar-benarnya, Allah akan menjadi penolongnya.

Karena hukum istri mendiamkan suami pada dasarnya boleh, tetapkan niat untuk memberikan nasihat dan introspeksi, bukan menjadi alasan memendam amarah.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait