19 Mei 2017

Kapan Waktu Tepat Mengajarkan Anak Berpuasa?

Apakah mulai umur 7 tahun atau bisa lebih cepat?

Menjelang Ramadan, Mama sudah harus menyiapkan si kecil untuk mulai berpuasa. Anak memang tidak diwajibkan berpuasa penuh hingga ia mencapai masa puber nanti. Tetapi, mengajarkan anak berpuasa bukan berarti memaksa anak untuk puasa penuh, kok. Intinya hanyalah mengenalkan anak pada ibadah puasa supaya imannya terbentuk sejak dini. Lantas umur berapa sebaiknya anak sudah mulai belajar puasa? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Kapan Sebaiknya Mengajarkan Anak Berpuasa?

Untuk menjawab pertanyaan kapan waktu tepat anak puasa, para ahli punya jawaban berbeda-beda. Menurut tim ahli kesehatan masyarakat dari National Health Services (NHS) UK, anak di atas tujuh tahun sudah biasa diajak berpuasa meski belum seharian penuh. Sebab, pada usia ini, anak sudah bisa mengukur kemampuan dirinya serta menyampaikan pada Mama kalau ia lapar, haus, lemas, pusing, atau keluhan fisik lainnya.

Hal serupa juga dikemukakan Desy Nur Arista, ahli gizi dari katering Slim Gourmet. "Menurut agama, puasa bisa mulai diajarkan sejak anak berusia 7 tahun. Mama bisa memperkenalkan puasa kepada anak sebelum akil baligh," ujar Desy saat diwawancarai di acara 'Puasa Sehat 2017' yang digelar oleh SaladStop! Indonesia, Selasa (09/05/2017).

Namun, dilansir dari kantor berita BBC, anak sudah boleh belajar berpuasa sedini mungkin. Mama tinggal menyesuaikan saja kemampuan dan kesehatan anak dengan durasinya berpuasa. Misalnya, ketika anak berusia lima tahun, tawarkan anak untuk puasa selama dua hingga tiga jam.

Bila sudah terbiasa, tahun depannya bisa ditingkatkan lagi jadi empat hingga enam jam. Begitu seterusnya sampai anak memasuki pubertas. Dengan begitu, ketika sudah waktunya anak berpuasa penuh seperti orang dewasa, ia telah terbiasa dan punya motivasi yang lebih kuat untuk menjalani ibadah.

Tips Mengajarkan Anak Berpuasa

Saat mengajarkan buah hati berpuasa, ada beberapa hal yang harus Mama perhatikan supaya puasa tetap aman dan menyenangkan buat si kecil.

  • Jangan memaksa anak. Cukup berikan dorongan dan dukungan untuk mulai berpuasa. Jika Mama memaksa atau mengancam, anak justru akan terus mengingat puasa sebagai beban dan hal yang traumatis.
  • Perhatikan kesehatan dan asupan gizi anak. Mama sebaiknya selalu memantau kondisi kesehatan anak saat ia mulai belajar puasa. Perhatikan tanda-tanda dehidrasi seperti pusing, sakit kepala, dan bibir pecah-pecah. Saat anak ikut sahur, pastikan ia makan makanan bergizi seimbang sebagai sumber energi seharian. Sebab, menurut Desy, sahur itu seperti sarapan. Jika anak tidak sahur, bisa-bisa ia jadi tidak berkonsentrasi saat berpuasa.
  • Bangun suasana yang positif. Agar si kecil selalu mengingat puasa sebagai hal yang menyenangkan dan patut dijalani sepenuh hati, Mama sebaiknya menciptakan suasana atau kegiatan yang disukai anak. Misalnya buka puasa sekeluarga dengan menu kesukaan si kecil.
  • Jadi teladan yang baik. Anak belajar menyikapi bulan puasa dari orangtuanya. Maka, usahakan Mama atau ayahnya tidak mengeluh atau menunjukkan sikap negatif soal puasa seperti bermalas-malasan di hadapannya.

Itu dia hal-hal yang perlu Mama pertimbangkan untuk mengajari anak puasa. Bagaimana, si kecil sudah siap latihan berpuasa penuh, belum, tahun ini? Bagikan pengalaman si kecil saat puasa di kolom komentar, yuk!

(IA)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.