07 Juni 2018

Mengenal Lebih Dalam Disleksia pada Anak, Ini Ciri-cirinya

Huruf-huruf terlihat tersusun secara acak bagi penderita disleksia

 

Pernahkah Moms mendengar disleksia? Disleksia merupakan penyakit yang membuat seseorang kesulitan membaca. Hal ini dikarenakan huruf-huruf terlihat tersusun secara acak bagi penderitanya. Kondisi disleksia biasanya terjadi pada balita hingga anak. Penyakit ini sulit didiagnosis dan baru diketahui gejalanya ketika anak beranjak dewasa.

Baca Juga : Anak Deddy Corbuzier Jadi Lulusan Terbaik, Ternyata Ini 5 Kelebihan Anak Disleksia

Timbulnya disleksia pada balita bisa disebabkan oleh suatu gen yang mengontrol perkembangan otak balita. Banyak hal yang menjadi pencetus timbulnya penyakit ini. Bisa dikarenakan oleh adanya keturunan yang memiliki risiko lebih tinggi. Selain itu, balita dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) juga memiliki risiko dalam menimbulkan disleksia.

Bukan berarti balita yang disleksia tergolong anak yang aneh. Selain itu tidaklah pantas menganggap mereka sebagai anak yang bodoh. Memang penderita disleksia sulit untuk mengeja ataupun membaca. Namun bukan berarti anak tidak bisa kedua-duanya.

Anak dengan disleksia cenderung bisa pintar membaca tapi kesulitan untuk mengeja atau sebaliknya. Selain itu, penglihatan dan pendengaran mereka tetaplah berfungsi baik layaknya balita normal yang lain. Mereka hanya bermasalah dengan huruf atau kata. Selain itu, tidak ada gangguan yang lain.

Setiap penyakit disleksia tidaklah sama pada setiap anak. Bisa jadi berbeda-beda sesuai dengan gangguan yang terjadi. Ada anak yang tidak mampu membedakan kata-kata yang hurufnya mirip, tidak mampu membaca kata-kata baru, tidak bisa membedakan kata-kata yang memiliki rima, atau malah tidak bisa memahami apa yang dibacanya. Semuanya berbeda tergantung tingkat keparahan dari penyakit ini.

Baca Juga : Azka Corbuzier Jadi Lulusan Terbaik, Buktikan Bahwa Anak Hasil Perceraian Juga Bisa Sukses dan Bahagia

Bagaimana Mengatasinya?

Setiap balita disleksia pasti memiliki keunikan yang menjadikan mereka istimewa. Jadi, satu jenis terapi bisa jadi cocok dan berhasil pada satu balita namun bukan berarti cocok dengan balita disleksia lainnya. Terapi senam, latihan membaca dengan kertas berwarna, atau pemakaian lensa berwarna belum tentu bisa efektif menyembuhkan semua balita disleksia.

Dukungan orang tua sangat berperan penting dalam proses penyembuhan pada kondisi seperti ini. Disleksia harus diatasi dengan pendidikan yang benar. Semakin cepat intervensi Moms lakukan, maka hasil yang diperoleh juga semakin baik.

Moms juga dapat bekerjasama dengan pihak sekolah untuk membantu anak dengan disleksia agar membantu cara mengajari anak membaca atau mengeja dan anak bisa mendapatkan pendidikan selayaknya anak-anak normal lainnya. 

Apakah Moms sudah mulai mengerti lebih dalam mengenai disleksia pada balita? Jika Moms punya pengalaman mengenai balita yang disleksia bisa Moms bagi bersama pembaca.

(PIA)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.