22 Maret 2020

4 Mitos seputar Imunisasi Balita dan Faktanya

Moms, jangan sampai “tertipu” oleh empat mitos seputar vaksinasi balita berikut

Beberapa tahun belakangan, Moms mungkin pernah dengan tentang “gerakan anti-vaksin”. Sebagian orang tua menolak mengimunisasi anak mereka karena menganggap tindakan tersebut dapat membahayakan keselamatan anak mereka.

Padahal, lembaga kesehatan dunia (WHO) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan pentingnya imunisasi balita untuk meningkatkan pembentukan antibodi anak agar lebih kuat dalam melawan patogen (kuman, bakteri, jamur, virus, dan lain-lain).

Baca Juga: 5 Penyakit Balita yang Bisa Dicegah dengan Imunisasi

Mitos seputar Imunisasi Balita dan Faktanya

Agar tidak salam paham, yuk, simak empat mitos seputar imunisasi balita berikut. Cek juga faktanya ya Moms!

Mitos #1: Imunisasi Balita dapat Menyebabkan Autisme

mmr-vaccine.jpg
Foto: mmr-vaccine.jpg

Foto: Medical News Today

Dikutip dari situs Science Mag, isu ini mulai beredar setelah Andrew Wakefield, seorang dokter asal Inggris, menerbitkan hasil studinya di jurnal medis bergengsi The Lancet, yang mengindikasikan vaksinasi MMR meningkatkan risiko autisme pada anak di Inggris.

MMR adalah singkatan dari measles (campak), mumps (gondongan), rubella.

Namun, beberapa tahun kemudian tulisan tersebut ditarik oleh penerbit karena prosedur penelitiannya ternyata tidak sahih, terdapat pelanggaran kode etik serta konflik kepentingan keuangan yang tidak diungkapkan oleh peneliti sebelumnya.

Banyak studi yang kemudian berusaha membuktikan hipotesis dokter Wakefield tersebut, namun tidak berhasil menemukan hubungan antara vaksinasi MMR dengan perkembangan autisme.

Mitos #2: Anak Hanya Perlu Satu Dosis Vaksin

iStock-506545376.jpg
Foto: iStock-506545376.jpg

Foto: Parent Map

Pada bulan-bulan awal kelahiran anak, ia akan langsung mendapatkan vaksinasi dasar. Beberapa vaksinasi tersebut akan diulang pada tahun-tahun berikutnya.

Tujuan vaksinasi ulang ini adalah untuk memberikan kekebalan penuh terhadap patogen yang disasar. Contoh vaksinasi yang perlu diulang misalnya, DPT, MMR, polio, hepatitis A, pneumokokus, tifoid, dan influenza.

Mintalah pada dokter jadwal imunisasi balita sesuai rekomendasi IDAI.

Baca Juga: Jadwal Imunisasi Dasar Bayi dan Manfaatnya, Jangan Sampai Terlewat!

Mitos #3: Imunitas Alami Lebih Baik daripada Imunisasi

sickdayactivitiesfbimage.jpg
Foto: sickdayactivitiesfbimage.jpg

Foto: Busy Toddler

Imunitas alami artinya seseorang menderita penyakit tertentu, kemudian sembuh, maka imunitasnya terhadap penyakit tersebut lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Namun, dikutip dari situs Public Health, “pendekatan” tersebut menyimpan risiko yang lebih besar.

Bila seseorang ingin mendapatkan imunitas alami dari penyakit campak, misalnya, maka saat ia menderita penyakit tersebut, ia akan menghadapi risiko 1 dari 500 pasien campak meninggal.

Sebaliknya, orang yang mengalami reaksi alergi parah akibat vaksinasi MMR jumlahnya kurang dari 1 dari 1 juta orang.

Mitos #4: Tidak Diimunisasi Bisa Pengaruhi Anak Lain

vaccination-image.jpg
Foto: vaccination-image.jpg

Foto: Elsevier

Menurut dokter spesialis penyakit menular anak Kenneth Boyer, M.D., semakin banyak anak mendapat vaksinasi, maka peluang timbulnya wabah suatu penyakit akan semakin rendah.

Sebaliknya, semakin banyak anak yang tidak mendapat vaksinasi, maka peluang timbul dan menyebarnya wabah suatu penyakit akan semakin besar.

Orang tua yang menolak mengimunisasi anaknya mengatakan selama ini tidak ada wabah penyakit yang menyerang anak, sehingga anak tidak perlu mendapat imunisasi.

Faktanya, alasan tidak adanya wabah penyakit yang menyerang anak adalah karena selama bertahun-tahun, jutaan anak selalu mendapat imunisasi pada bulan-bulan awal-awal kelahiran mereka.

Baca Juga: Catat! Ini 9 Jadwal Imunisasi Bayi Tambahan dan Manfaatnya

Jadi, jangan sampai terlewat melakukan imunisasi balita, Moms. Lindungi kesehatan dan keselamatan anak dengan melakukan imunisasi sesuai jadwal yang sudah ditentukan.

(AN)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.