02 Maret 2019

Perlukah Bayi Diberi Antibiotik?

Kenali antibiotik yang baik dan harus dihindari oleh Si Kecil

Moms, biasanya kita menyimpan obat-obatan, ya, untuk menghadapi kondisi darurat bila ada anggota keluarga mengalami sakit. Mungkin ada beragam obat yang Moms sediakan, termasuk salah satunya jenis antibiotik.

Memang, untuk masalah kesehatan tertentu, terutama yang disebabkan bakteri, antibiotik adalah obatnya. Jadi, tak semua penyakit perlu penanganan antibiotik, terutama pada bayi.

Kenapa? Karena pemberian antibiotik yang tidak seharusnya justru akan merusak sistem kekebalan tubuh bayi. Bahkan, bakteri yang resisten jadi berkembang biak. Dampaknya, Si Kecil akan gampang sakit. Beberapa riset juga mengungkapkan, pemberian antibiotik di usia dini menimbulkan risiko alergi di kemudian hari.

Berdasarkan riset yang dilakukan US National Ambulatory Medical Care Survey pada 1989, sebanyak 84 persen bayi diberi antibiotik ketika sakit. Kemudian, sekitar 47,9 persen bayi lainnya mendapat resep obat yang mengandung antibiotik. Di tahun yang sama, mencuat kasus resistensi kuman yang melonjak tajam karena konsumsi antibiotik yang berlebihan.

Dokter Martinus M. Leman, DTMH, Sp.A dari Siloam Hospitals TB Simatupang, Jakarta Selatan, menegaskan, antibiotik merupakan obat untuk mengatasi infeksi bakteri. Pada tiap obat antibiotik ada indikasi dan dosisnya.

Baca Juga : Kapan Anak Perlu Minum Antibiotik?

Nah, pemberian antibiotik yang sesuai indikasi, dosis, dan sesuai cara pemberian, pada umumnya tidak akan jadi masalah, justru antibiotik membantu proses pengobatan. Jadi, memang ada jenis-jenis antibiotik yang aman untuk bayi (bahkan bayi prematur). Namun, ada pula yang tidak bisa diberikan pada bayi.

Perlu kita tahu Moms, setiap obat memiliki risiko reaksi simpang, baik ringan atau berat. Maksudnya, ada reaksi yang tidak kita diinginkan, bila hal itu muncul maka sebaiknya obat antibiotik tidak dilanjutkan untuk dikonsumsi, namun diganti jenis obat lain.

Nah, bila bayi mengalami infeksi bakteri, tapi tak mendapat terapi antibiotik yang tepat, justru dapat menimbulkan bahaya karena infeksi menjadi semakin luas dan kondisi penyakit semakin berat.

Sebaliknya, pada bayi yang tidak mengalami infeksi bakteri, misal infeksi virus atau sakit karena alergi, pemberian antibiotik tidaklah bermanfaat. Bahkan dapat memicu semakin banyak bakteri yang 'kebal' terhadap antibiotik tersebut.

Lalu, infeksi bakteri apa yang perlu ditangani dengan obat antibiotik? Di antaranya infeksi telinga, radang tenggorokan akibat infeksi bakteri Streptococus, infeksi saluran kemih, tifus, TBC, radang otak (meningitis), radang paru (pneumonia), dan sebagainya.

Sementara itu, dr. Purnamawati Sp.A(K), M.MPaed, menjelaskan bahwa berdasarkan riset, anak-anak adalah populasi yang paling terpapar penggunaan antibiotik. Kenapa anak sering mendapatkan antibiotik? Karena kalangan anak-anak sering sakit. Disebutkan bahwa dalam satu tahun, seorang balita bisa sakit 8-12 kali. Akan tetapi, penyakit yang diderita tergolong ringan, seperti batuk pilek, demam, muntah. Dikatakan ringan karena sifatnya self limiting, atau dapat sembuh sendiri karena penyebabnya virus. Nah, antibiotik tak bisa menyembuhkan gejala penyakit ini.

Jadi, pemberian antiboiotik untuk penyakit yang tidak disebabkan infeksi bakteri, pasti tidak akan memberikan hasil. Karena itu, daripada mencoba-coba memberikan obat pada Si Kecil, termasuk dengan membeli antibiotik di apotek, lebih baik bawa ia ke dokter, jika kondisinya tak membaik.

Dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari tahu apakah ada infeksi virus atau bakteri. Ketika membawa Si Kecil berobat ke dokter, sebaiknya kita kritis dan aktif. Hindari membeli sembarang antibiotik tanpa resep dokter karena obat ini masuk kategori obat bebas.

(HIL)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.