Gratis Ongkir minimum Rp 200.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Health | Jun 21, 2018

Setelah Libur Lebaran, Hati-Hati Kena Post Holiday Syndrome!

Bagikan


Setelah seminggu lamanya Moms mendapatkan cuti libur lebaran, tentu rasanya malas sekali masuk kerja. Hati-hati, jangan sampai Moms terkena Post Holiday Syndrome!

Pernahkah Moms mendengar istilah Post Holiday Syndrome atau Sindrom Pasca Liburan? Para ahli memperkirakan bahwa 35 persen pekerja antara usia 25 dan 40 akan menghadapi 'sindrom pasca liburan' ketika mereka kembali ke rutinitas.

Sindrom ini merupakan perasaan tidak nyaman umum yang disebabkan oleh ketidakmampuan seseorang untuk beradaptasi dengan pekerjaan setelah selesai liburan.

Bahkan seorang peneliti dari departemen Kepribadian, Penilaian, dan Perawatan Psikologis dari Universitas Granada memperingatkan bahwa kembali ke rutinitas dapat menyebabkan gejala fisik dan psikologis. Mari kita ulas lebih dalam mengenai sindrom yang satu ini, jangan anggap sepele, Moms.

Baca Juga : Hati-hati, Ini 5 Penyakit yang Sering Muncul setelah Lebaran

Gejala dan Cara Mengatasi Post Holiday Syndrome

post holiday syndrome, sindrom paska liburan

Sindrom ini pada umumnya menyebabkan gejala fisik hingga kegelisahan psikologis, kelelahan, kurang nafsu makan dan konsentrasi, mengantuk atau sulit tidur, detak jantung yang cepat tidak normal dan nyeri otot.

Sementara ada pula gejala psikologis termasuk lekas marah, kecemasan, kesedihan, sikap tidak peduli dan perasaan hampa yang mendalam.

Menurut saran ahli, cara yang baik untuk mencegah penyakit ini adalah membagi liburan menjadi beberapa periode, jangan mengambil periode penuh sekaligus.

Seperti contohnya jangan mengambil liburan selama sebulan penuh lamanya. Ini akan mencegah kecemasan dan kita akan berada di bawah kesan masa liburan yang lebih panjang. Selain itu, perubahan dalam kebiasaan tidak akan begitu radikal dan permanen karena saat memulai kembali kerja tidak akan begitu traumatis.

Terlepas dari ini, peneliti juga merekomendasikan untuk menetapkan periode adaptasi ulang yaitu dengan mencoba mulai bekerja dari hari libur. Hal ini bisa dilakukan diantaranya dengan kembali ke rumah beberapa hari lebih awal sebelum bekerja.

Selama dua atau tiga hari kita harus kembali ke kebiasaan sehari-hari atau melepaskan hawa selama liburan, seperti tidur lebih lama dari biasanya atau tidur siang setelah makan siang. Tujuan dari kembalinya secara bertahap ke kehidupan sehari-hari adalah untuk mencegah memulai kembali pekerjaan dari yang begitu traumatis.

Peneliti juga menyarankan untuk merencanakan perjalanan dan kegiatan menyenangkan lainnya sepanjang tahun, bukannya melakukannya hanya di awal atau akhir tahun saja.

Dengan cara ini, kita akan mencegah perasaan bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan datangnya di waktu yang tak tepat. Perasaan tersebutlah yang merupakan penyebab utama dari sindrom pasca-liburan ini.

(MDP)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.