21 April 2017

Yuk Tiru 4 Cara Menegur Anak Dengan Bijak

Jangan menegur anak sembarangan

Saat anak-anak, terutama balita seringkali belum mengetahui secara benar apakah tindakan yang dilakukannya baik atau tidak untuk dirinya atau orang disekitarnya. Inilah peran Mama dalam mendidik anak sehingga dia tahu mana yang benar atau salah.

Namun, ketika anak melakukan kesalahan atau sesuatu yang kurang baik, jangan langsung menyalahkan dan memarahinya. Hal ini malah berdampak negatif pada psikis anak. Tegurlah anak dengan bijak tanpa harus menyakiti perasaan anak.

Caranya?

1. Tekankan pada perilaku anak

Sebenarnya semua anak itu baik, hanya saja tingkah lakunya yang salah. Misalkan Mama mengajarkan anak bersepeda tapi anak tetap saja gagal maka jangan memarahinya secara langsung.

Cobalah untuk memberikan semangat dan memberi nasehat bagaimana cara menggunakan sepeda yang benar. Jadi, seberapa parah pun kesalahan anak, Mama tidak boleh emosi.

Tegurlah anak dengan menekankan pada perilaku yang telah salah dilakukannya dan bagaimana tindakan yang benar. Hal ini bertujuan agar tindakan ini tidak terulang kembali ke depannya.

2. Jalankan hukuman

Jika Mama telah menegur anak sekali kemudian dia masih tetap melakukannya, Mama dapat mengulangnya satu kali sebagai bentuk peringatan.

Namun, jika teguran kedua tersebut tetap tidak digubris, maka pertimbangkan untuk hukuman misalkan dengan mengambil suatu benda yang sangat disukainya atau menyuruh anak berdiri dipojok sambil meratapi kesalahan yang telah dia lakukan selama beberapa menit.

Setelah dirasa cukup dan anak menurut, berikanlah anak pelukan dan nasehat agar anak tidak mengulangnya kembali.

3. Hindari kekerasan fisik

Meskipun Mama begitu kesalnya dengan anak, tetap saja Mama harus sabar dan memberikannya nasehat. Jangan sampai melakukan kekerasan fisik yang dapat mengganggu psikis anak. Hal ini membuat anak semakin bandel dan tidak mau menurut apa kata orang tuanya.

4. Berteriak saat anak melakukan perilaku berbahaya

Mama boleh saja berteriak untuk memberikan sinyal kepada anak bahwa yang dilakukannya tersebut dapat berdampak bahaya bagi dirinya sendiri atau orang lain.

Misalkan ketika anak sedang asyik bermain api. Jika Mama melihat hal tersebut, Mama boleh saja berteriak seperti “Stop/Jangan Dilanjutkan”. Setelah itu dekatilah anak anda dan tanyakan alasan anak melakukan hal tersebut. Bicaralah secara lembut sehingga anak tetap merasa nyaman bersama anda.

Yuk mulai sekarang coba diterapkan ke anak Mama. Apakah Mama punya pengalaman mengenai hal ini? Jangan lupa berbagi di kolom komentar, ya!

(PIA)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.