3-5 tahun

3-5 TAHUN
26 Januari 2020

4 Cara Menjelaskan Bullying Kepada Balita dengan Tepat!

Menjelaskan bullying kepada balita dapat membantunya terhindar dari kejadian buruk itu
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Dina Vionetta

Simak penjelasan tentang menjelaskan bullying kepada balita ini yuk, Moms. Tahukah Moms kalau perundungan atau bullying ternyata tidak terjadi hanya pada anak sekolah atau remaja.

Dikutip dari Eyes on Bullying in Early Childhood, bullying bisa muncul sejak anak masih di usia dini. Artinya, Moms dan Dads perlu menjelaskan bullying kepada balita.

Selain guru pendidikan anak usia dini, orang tua dan siapa pun yang berinteraksi secara rutin dengan anak balita bisa berperan dalam mengajari Si Kecil keterampilan untuk menghindar dari bullying.

Berikut tips bagi orang tua untuk menjelaskan bullying kepada balita:

Menjelaskan Bullying Kepada Balita

1. Jelaskan Apa yang Dimaksud dengan Bullying

Mom Talk to Child.jpg

Foto: parents.com

Kemungkinan besar Si Kecil tidak paham arti bullying. Oleh karena itu, orang tua perlu menerangkan kepada anak secara jelas tentang apa yang dimaksud dengan bullying. Misalnya: “orang yang sengaja ingin menyakiti orang lain, berarti ia sedang melakukan bullying”. Pastikan Moms dan Dads menggunakan kata-kata sederhana saat menjelaskan konsep bullying kepada anak agar ia mudah memahaminya.

Baca Juga: Bagaimana Menjelaskan Bullying Seksual pada Anak?

2. Beri Tahu Jenis-jenis Bullying

model-vve-peuters-iStock.jpg

Foto: kinderopvangtotaal.com

Saat menjelaskan bullying kepada balita, katakan bahwa cara orang melakukan bullying ada bermacam-macam. Umumnya, cara itu bisa dibagi ke dalam tiga kategori:

1. Verbal

Mengucapkan atau menuliskan kata-kata yang jahat. Contoh tindakannya: mengata-ngatai, mengolok-olok, mencemooh, menertawai.

2. Sosial

Menjelekkan orang lain. Contoh tindakannya: mengucilkan seseorang, menyebarkan berita bohong tentang seseorang, mempermalukan seseorang di depan orang lain.

3. Fisik

Menyakiti fisik seseorang atau barang milik seseorang. Contoh tindakannya: memukul, menendang, membuat seseorang tersandung, mendorong, merusak mainan atau barang milik orang lain.

Baca Juga: Kenali Dampak Jangka Panjang dan Jangka Pendek Bullying pada Korban

3. Beri Tahu Alasan Seseorang Melakukan Bullying

adobestock_171795485.jpeg

Foto: parentingbydrreene.com

Moms sebaiknya juga memberi tahu anak alasan-alasan seseorang melakukan bullying. Contoh alasannya: pelaku bullying sebenarnya kurang percaya diri sehingga merasa perlu merendahkan orang lain supaya dirinya merasa lebih tinggi atau disegani oleh orang lain.

Saat menjelaskan alasan seseorang melakukan bullying, Moms juga perlu memberi tahu bahwa si korban atau orang yang di-bully tidak bersalah. Saat menjelaskan bullying kepada balita, tegaskan bahwa pihak yang bersalah adalah yang melakukan bullying, bukan orang yang di-bully.

4. Beri Tahu Apa yang Harus Anak Lakukan Bila Di-bully

496077119-56a777d53df78cf77296312d.jpg

Foto: verywellfamily.com

Tidak semua anak dapat mengerti bahwa dirinya sedang di-bully atau diperlakukan buruk oleh orang lain. Katakan kepada anak, bila ada orang atau teman di sekolah yang membuatnya merasa tidak nyaman atau ketakutan, ia perlu segera memberi tahu guru di sekolah atau orang tua di rumah.

Katakan juga bahwa memberi tahu orang dewasa adalah cara untuk menghentikan si pem-bully melakukan perilaku buruk itu.

Moms bisa menerangkan hal ini sambil berempati, misalnya berkata “Orang yang di-bully biasanya akan ketakutan. Karena itu, orang yang di-bully harus meminta pertolongan orang lain supaya pelakunya ditegur dan tidak terus mem-bully orang lain.”

Umumnya, orang tua dan guru prasekolah tidak mengambil langkah khusus untuk mencegah terjadinya bullying. Henry D. Schlinger, Ph.D., direktur program analisis perilaku terapan di California State University di Los Angeles mengatakan, tindakan khusus biasanya baru dilakukan bila kejadian bullying sudah termasuk parah dan sudah ada anak yang tersakiti.

Menjelaskan bullying kepada balita merupakan salah satu cara untuk melindungi anak-anak dari bullying. Selain itu, sebaiknya orang tua dan para guru prasekolah tidak mengabaikan kejadian-kejadian bullying yang dianggap ‘sepele’, dan tidak menganggap perilaku kurang baik Si Kecil sebagai “namanya juga anak-anak, masih belum mengerti”.

Baca Juga: 5 Cara Mengajari Anak Menjaga Diri Agar Tidak Jadi Korban Bullying

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait