Pernikahan (Marriage)

10 Januari 2021

"Aku Ngomong Baik-Baik, Kok Suamiku Ngegas, Sih?!"

Seri: Membangun Komunikasi dengan Pasangan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Orami

Cerita Pengantar

Mom, pusing lho aku, ngomong sama suami kok gak pernah nyampe ya? Aku ngomongnya apaa… Dia dengernya apa… Salah tangkap lagi..."


"Kemarin aku nanya baik-baik ke suami yang masih sibuk kerja dengan laptopnya sampai lupa makan, aku tanya 'Mau makan malam pakai lauk apa, Pa?' Eh, dianya malah nge-gas, katanya 'Aku kan sudah sibuk kerja seharian, masa perkara makan apa masih aku juga yang mikir?!'

"Sakit hati aku, Mom. Padahal kan aku mau masakin apa yang dia mau gitu, kasihan seharian belum makan. Eh jadinya malah berantem…”, cerita Mama Mora kepada seorang teman baiknya.

"Kok, aku merasa dia sudah berubah ya…., tidak seperti dulu — sewaktu kami belum menikah dia lebih pengertian dan mau mendengarkan…"


Moms and Dads,

Apakah curhatan Mama Mora di atas terdengar familiar?

Memang terdengar sepele ya Moms and Dads, namun jika dibiarkan saja, akan menjadi penyebab persoalan yang lebih besar di dalam pernikahan Anda.

Untuk itu, Moms and Dads perlu mencari tahu cara untuk mengatasinya.

Dalam Orami Parenting Eduseries kali ini, Moms and Dads akan belajar tentang:

  1. Komunikasi dengan pasangan yang baik dan sehat itu seperti apa?
  2. Kenapa ya sering salah paham dengan pasangan?
  3. Apa yang harus dilakukan untuk mengurangi potensi salah paham dengan pasangan?


Moms and Dads, tahukah Anda bahwa 65% penyebab perceraian adalah kegagalan dalam komunikasi?

Kebanyakan orang tidak menyadari ini, lho, karena mereka cenderung menuding problem/kejadian tertentu sebagai penyebab perpisahan, misalkan kesulitan finansial, masalah perbedaan dalam pengasuhan anak, sampai dengan isu ketidak-setiaan.

Padahal, faktanya, jika Anda dan pasangan mampu berkomunikasi dengan baik dan tepat, persoalan-persoalan tersebut tidak perlu sampai menyeret hubungan pernikahan ke kondisi konflik yang berujung pada perpisahan.


Bagian 1: Komunikasi dengan Pasangan yang Baik dan Sehat Itu Seperti Apa?

chilling-couple-with-coffee-cups-sofa.jpg

Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang menyeluruh, meliputi berbicara (talking), mendengarkan (listening), memahami (understanding), dan mengambil tindakan (taking action).

Apakah selama ini Moms and Dads memiliki kesempatan untuk saling berbicara, didengarkan, dimengerti dan melakukan apa yang sudah disepakati bersama dalam berkomunikasi?

Jika ada poin yang belum Anda lakukan, maka Moms and Dads perlu introspeksi dan saling bicara. Ada dua hal yang menyebabkan komunikasi yang baik dan sehat belum terbangun, yaitu kesombongan diri (merasa paling benar) dan keegoisan (mementingkan diri sendiri).

Catatan Kecil:

Moms and Dads, bukankah pernikahan itu dibangun atas dasar cinta kasih? Oleh sebabnya, dalam komunikasi kepada pasangan semestinya tetap membawa kerendahan hati, karena kerendahan hati adalah kekuatan terbesar dalam membangun hubungan yang baik dengan pasangan Anda.


Bagian 2: Kenapa Ya Sering Salah Paham dengan Pasangan?

young-family-conflict-young-wife-having-conflict-with-husband.jpg

Dalam ilustrasi cerita Mama Mora, sebenarnya istri sudah memiliki niat baik untuk bertanya mengenai apa yang diinginkan suaminya untuk lauk makan malam, tapi justru diterima dengan salah dan memicu pertengkaran. Mungkin hal ini sering terjadi, namun apakah penyebabnya?

Penyebabnya adalah sesuatu yang disebut dengan Filter. Layaknya filter pada lensa kamera yang dapat mengubah intensitas cahaya yang melewatinya. Cahaya yang terang, dapat menjadi gelap setelah melewati filter.

Demikian juga dengan filter yang ada pada diri kita, dapat memengaruhi bagaimana kita melihat, mendengar, menanggapi, dan memaknai sesuatu.

Ketika apa yang Moms and Dads katakan keliru dimengerti oleh pasangan Anda, saat itulah ada filter yang sedang bekerja.

Dengan mengetahui filter Anda dan pasangan, kemudian mengelolanya dengan baik, akan dapat menghindarkan Moms and Dads dari kesalahpahaman.

Ada 5 filter yang Anda dan pasangan perlu ketahui:

  1. Distraksi
  2. Keadaan emosi
  3. Asumsi
  4. Perbedaan budaya
  5. Perlindungan diri

Berikut adalah penjelasan dari tiap-tiap filter:

  1. Distraksi
    Distraksi adalah filter paling dasar yang menyebabkan terpecahnya perhatian/atensi, sehingga memicu terjadinya kesalahpahaman.

    Ada dua jenis distraksi, yaitu eksternal dan internal:
    Distraksi eksternal adalah sesuatu di luar diri kita yang mengganggu atensi, contohnya adalah situasi yang berisik, suara handphone,
    suara tv, dll. Distraksi internal adalah kondisi internal seseorang yang menghalangi kemampuan memperhatikan, misalkan sedang kelelahan atau sedang memikirkan sesuatu.

    Dalam ilustrasi di atas, Papa Mora sedang mengalami distraksi internal karena sedang fokus pada penyelesaian target, sehingga memberikan respons yang kurang tepat kepada Mama Mora.

  2. Kondisi emosi
    Penelitian menyebutkan, bahwa kita cenderung memberikan kemudahan pada orang lain ketika kita sedang dalam kondisi mood yang baik. Kondisi emosi adalah filter yang paling ampuh. Oleh sebabnya, kenali emosi Anda dan pasangan sebelum memulai pembicaraan agar tidak memicu kesalahpahaman. Sebab, Anda dan pasangan tidak bisa mencerna informasi dengan jelas jika sedang dalam emosi yang kurang baik.

  3. Asumsi
    Asumsi adalah filter yang paling sering terjadi pada pasangan yang sedang memiliki komunikasi kurang baik dan cenderung berbicara seperlunya. Moms and Dads, cobalah memberanikan diri untuk bertanya kepada pasangan daripada terjebak dalam pemikiran yang belum tentu benar.

  4. Perbedaan budaya
    Filter ini lekat dengan perbedaan budaya dan latar belakang keluarga, contohnya dalam hal nada bicara. Jika pasangan Anda berbicara dengan nada tinggi dan keras bukan berarti marah. Sebaliknya, jika pasangan berbicara dengan nada yang lemah lembut juga bukan berarti tidak tertarik pada topik pembicaraan.

  5. Perlindungan diri
    Ini adalah filter yang muncul karena adanya ketakutan untuk ditolak. Filter ini sangat berbahaya, karena bisa membuat pasangan Anda tidak terbuka dengan pemikiran dan isi hatinya.

Catatan Kecil:

Moms and Dads, baik Anda maupun pasangan memiliki filter yang terbentuk dari hasil berinteraksi dalam berbagai lingkungan sosial selama ini.

Kenali filter pasangan Anda, agar bisa mengetahui saat yang tepat untuk bicara. Meningkatkan kualitas komunikasi juga dapat meningkatkan kualitas hubungan Anda dengan pasangan, bukankah kebahagiaan adalah tujuan pernikahan?


Bagian 3: Apa yang Harus Dilakukan Untuk Mengurangi Potensi Salah Paham dengan Pasangan?

couple-love-hugging-showing-their-feelings-each-other.jpg

  1. Jangan ungkit-ungkit masa lalu
    Moms and Dads, apakah Anda menyadari bahwa penyebab pertengkaran seringkali adalah tentang apa yang pernah diucapkan dan terjadi dimasa lalu? Mengungkit percakapan yang terjadi dimasa lalu dapat menghalangi Anda dan pasangan untuk berfokus pada kejadian saat ini.

  2. Sadari filter Anda dan komunikasikan pada pasangan
    Penting bagi Moms and Dads untuk mengenali dan menyadari filter Anda saat berkomunikasi dengan pasangan. Jika Anda sedang dalam kondisi emosi yang kurang baik karena sedang dikejar deadline pekerjaan, sampaikan saja pada pasangan, contohnya, “Ma, Papa perlu berkonsentrasi 30 menit untuk menyelesaikan deadline pekerjaan ini tanpa gangguan, setelah selesai, kita pikirkan mau makan apa ya…”

    Moms and Dads juga bisa mengenali pola filter pasangan dan secara proaktif mau mengerti lebih dulu. Misalkan, Anda tahu bahwa pasangan Anda tidak bisa memproses informasi dengan baik ketika sedang berada di depan laptop, sehingga Moms bisa mengatakan, “Pa, kalau sudah selesai bekerja, kita pilih lauk untuk makan malam ya…”

Catatan Kecil:

Moms and Dads, filter itu bukan sesuatu yang baik atau buruk; melainkan sesuatu yang perlu dikenali, disadari kemunculannya, dan diatasi sebelum menyebabkan gangguan dalam komunikasi. Ketika Moms and Dads saling memahami filter masing-masing, maka Anda akan dapat melihat satu sama lain dengan lebih terang dan jelas.


Quote Penutup

"Marriage is a life-long journey, that thrives on love, commitment, trust, respect, communication, patience & companionship."
-Ashley & Marcus Kusi-


Moms and Dads, jadilah yang pertama mereview Orami Parenting Eduseries!

Klik di sini


Baca seri Orami Parenting Eduseries lainnya


Pranala Luar/Referensi

  • Howard J. Markman, Scott M. Stanley, Susan L. Blumberg. 2010. Fighting for your marriage: a deluxe revised edition of the classic best seller for enhancing marriage and preventing divorce. John Wiley & Sons, Inc.
  • https://www.yourtango.com/experts/rochelle-bilow/want-your-marriage-last

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait