Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

Kesehatan Balita | Feb 12, 2019

Mengenal ARFID, Gangguan Makan yang Sering Dialami Balita

Bagikan


Segala cara sudah dilakukan agar si picky eater mau makan tapi tak kunjung berhasil? Bisa jadi sebenarnya Moms sedang berurusan dengan kondisi ARFID pada balita.

Menurut DSM-5 dari American Psychiatric Association, Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder atau sering disebut dengan ARFID, adalah gangguan makan yang dimulai sejak bayi atau balita, dan memiliki kriteria:

  • Gangguan makan menyebabkan kebutuhan energi dan nutrisi tubuh tidak terpenuhi.
  • Gangguan makan tidak disebabkan oleh kurangnya makanan atau kebiasaan budaya.
  • Gangguan makan tidak disebabkan oleh kondisi medis atau gangguan kesehatan mental.
  • Tidak tampak adanya gangguan pada citra diri atau citra tubuh.
  • Gangguan makan tidak hanya berlangsung bersamaan dengan anoreksia atau bulimia.

Pilihan jenis makanan yang dapat diterima oleh penderita ARFID pada balita sangat sedikit, karena mereka sangat sensitif terhadap tekstur, rasa, warna, aroma, bahkan bentuk makanan.

Berbeda dengan masalah picky eater yang umumnya hilang seiring pertambahan usia dan meningkatnya aktivitas sosial balita, kondisi ARFID pada balita semakin lama dapat semakin mengganggu kesehatan dan tumbuh kembang balita.

Baca Juga: Banyak Manfaatnya, Yuk Biasakan Balita Minum Susu di Gelas Dengan 9 Cara Ini

Tanda ARFID Pada Balita

Walau sama-sama dimulai dengan memilih makanan, yang membedakan ARFID pada balita dengan masalah picky eater adalah beberapa tanda berikut:

  • Balita terlihat stres atau malu bila harus makan di tempat umum, baik di sekolah maupun di restoran.
  • Sangat jarang makan dan dengan porsi yang sangat sedikit dari seharusnya.
  • Memiliki berat badan kurang.
  • Sering terlihat lemah dan lesu.
  • Sulit buang air besar atau terlihat sakit saat melakukannya.
  • Sering muntah.
  • Kemampuan sosialnya tertinggal jika dibandingkan dengan anak seusianya.

Balita penderita ARFID juga cenderung memilih makanan berwarna putih atau krem, yang teksturnya lembut dan mudah dikunyah, seperti roti, nasi, pasta polos, kue, biskuit, sereal, maupun daging olahan seperti nugget.

Penyebab ARFID Pada Balita

Menurut Mark Norris, anggota Children’s Hospital of Eastern Ontario, penyebab pasti ARFID pada balita memang belum diketahui sampai saat ini.

Namun, tiga faktor berikut dapat meningkatkan resiko terjadinya ARFID pada balita:

  • Trauma akibat pengalaman buruk saat makan, misalnya tersedak wortel dalam sup atau melihat saudaranya muntah sepanjang hari karena salah makan.
  • Hipersensitivitas sensori, sehingga hanya bisa mengonsumsi makanan dengan tekstur, rasa, aroma, dan bentuk spesifik.
  • Gangguan pada syaraf pemberi sinyal lapar, sehingga balita tidak pernah merasa lapar.

Baca Juga: Lezat dan Kaya Gizi, Ini 4 Manfaat Avokad untuk Balita

Mengatasi ARFID Pada Balita

Sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter untuk dilakukan tes medis secara mendalam bila Moms melihat buah hati menunjukkan tanda ARFID pada balita di atas.

Bila tidak ditemukan kondisi medis khusus, biasanya dokter akan mencari tahu penyebabnya dengan mengajukan pertanyaan tentang pola makan, kebiasaan makan, perilaku, serta suasana keluarga.

Berdasarkan hasil analisa dari semua data yang sudah dikumpulkan, dokter akan merujuk Moms dan Si Kecil untuk menemui:

  • Ahli gizi untuk mendapatkan konsultasi nutrisi.
  • Psikolog anak untuk mempelajari hubungan keluarga dan pemicu lain penyebab gangguan makan pada balita.
  • Terapis untuk menentukan apakah balita memiliki keterlambatan kemampuan oral dan motorik yang membuatnya sulit makan.

Selanjutnya, Moms akan diminta untuk memberikan pola makan spesifik ditambah dengan suplemen nutrisi untuk mengejar ketertinggalan berat badan dan gizi Si Kecil.

Setelah mendapatkan cukup vitamin dan mineral, gangguan makan balita ini biasanya akan berangsur membaik.

Menurut Moms, apalagi yang bisa dilakukan untuk mengatasi gangguan makan pada balita ini?

(WA)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.