09 Juni 2016

Bahaya Kecanduan Social Media

Dampaknya dari gangguan mata hingga ke mental, lho!

Dalam sehari berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk berselancar di social media? Bila lebih dari empat jam dalam sehari artinya Anda salah satu orang yang terjangkit FOMO (Fear Of Missing Out). Sindrom ini memiliki gejala ketika seseorang takut ketinggalan update terkini dari dunia maya. Hasil survei Women's Media Center di tahun 2014 menyatakan, 71% perempuan di seluruh dunia lebih aktif terikat dengan social media daripada laki-laki. Perempuan cenderung memiliki kepuasan tersendiri ketika mampu berinteraksi secara aktif di dunia maya. Perasaan bahagia pun timbul ketika notifikasi positif tertuju padanya. Namun, kondisi ini pastinya berdampak buruk apabila membuat Anda sampai kehilangan konsentrasi saat bekerja ataupun kekurangan waktu tidur. Sesuatu yang berlebihan tidak akan berakhir dengan baik, begitu pula dengan sindrom ini. Simak penjelasannya:

Istirahat Tidak Maksimal

Keasyikan nongkrong di social media membuat Anda lupa waktu. Jangan biarkan waktu tidur Anda tersita karena social media. Ingatlah, tubuh Anda membutuhkan istirahat yang berkualitas. Batasi waktu penggunaan, Anda harus tegas dalam menetapkan waktu untuk mengakses social media. Misalnya, 10 menit setelah makan siang atau makan malam berlangsung. Logout seluruh social media Anda agar notifikasi tidak mengganggu konsentrasi saat membuka telepon genggam.

Gangguan Penglihatan

Menatap cahaya terang dalam waktu berjam-jam dapat merusak mata. Dr. Richard Shugarman dari Bascom Palmer Eye Institute menyatakan, ketika mata terlalu sering terpapar layar terang maka daya penglihatannya akan berkurang. Gejalanya dimulai dari mata terasa kering, penglihatan kabur, dan kepala terasa sakit. Selain mengurangi intensitas penggunaan gadget, solusi terbaik yang bisa Anda lakukan adalah mengatur brightness layar serendah mungkin.

Melemahnya Kemampuan Bersosialisasi

Apakah Anda gemar menegur sapa kawan-kawan di dunia maya melalui berbagai posting yang Anda bagikan? Lalu bagaimana dengan di dunia nyata? Sebuah studi dari jurnal PNAS menemukan bahwa seseorang merasa puas usai mengungkapkan isi hatinya di social media. Terlebih lagi ketika seorang teman dari dunia maya memberikan tanggapan berupa simpati. Tetapi, perlu diketahui bahwa apa yang terjadi di dunia maya tidak membantu menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi. Hal terburuk adalah ungkapan yang bernilai negatif justru membawa pengaruh buruk untuk nama baik Anda. Ungkapkan isi hati Anda secara langsung kepada sahabat atau keluarga, sosialisasikan dari hati ke hati. Hal ini lebih melegakan dan membantu daripada berteriak di social media.

Penghancur Mood

Setiap orang memiliki emotion-contagion dalam dirinya, yakni kondisi ketika Anda merasakan emosi seseorang menular secara tiba-tiba. Misalnya, ketika Anda membaca sebuah post berbau negatif dari seorang teman kemudian Anda pun ikut merasa kesal. Menjaga lingkungan social media merupakan cara yang bijak untuk mengatasi masalah ini. Block akun yang menyebarkan energi negatif.

Selalu Merasa Tidak Puas

Pernahkah Anda merasa cemburu ketika seorang teman membagikan foto sedang berlibur di pantai, sebuah resort, atau pesta dengan makanan mewah di tanggal tua? Bila iya artinya mungkin Anda mulai sulit untuk mensyukuri apa yang Anda miliki. Membandingkan kehidupan Anda dengan kawan di dunia maya bukanlah hal yang bijak. Satu hal yang perlu diingat adalah di social media, seseorang selalu ingin tampil menjadi terbaik. Apa yang Anda lihat di layar belum tentu seindah aslinya. Temukan kebahagiaan versi diri Anda sendiri, cobalah untuk menjadi diri sendiri ketika tampil di dunia maya.

(SR)

Sumber: womenshealth.com | livescience.com

FOTO : huffpost.com

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.