19 Maret 2021

Berapa Kali Frekuensi Hubungan Suami Istri yang Sehat dalam Sebulan? Ini Kata Ahli

Bagaimana jika sama-sama sibuk atau salah satu sedang tak bergairah

Frekuensi hubungan suami istri yang sehat perlu diketahui agar kehidupan rumah tangga tetap hangat dan juga harmonis.

Hubungan seksual adalah salah satu faktor yang membuat kehidupan pernikahan yang bahagia. Selain untuk menjaga kehangatan suami-istri, hubungan seksual juga dibutuhkan untuk mendapatkan keturunan.

Namun, adakah patokan frekuensi hubungan suami istri yang sehat itu dilakukan? Apakah seminggu sekali atau lebih sering?

Tentu saja jawaban setiap pasangan bisa berbeda-beda. Ada yang menganggap hubungan seksual satu kali seminggu sudah cukup, ada juga yang merasa sangat ideal jika dilakukan 2 hari sekali misalnya.

Mendengar hal itu tentu Moms pun bertanya-tanya, jangan-jangan hubungan seksual dengan suami selama ini tidak ideal? Eits, jangan langsung khawatir, baca ulasan para ahli berikut ini mengenai frekuensi hubungan suami istri yang sehat.

Baca Juga: Lihat Akibatnya Jika Nekat Bercinta Saat Haid

Frekuensi Hubungan Suami Istri yang Sehat

frekuensi hubungan suami istri yang sehat
Foto: frekuensi hubungan suami istri yang sehat (Time.com)

Foto: Orami Photo Stock

Membicarakan frekuensi hubungan suami istri yang sehat bukanlah sebuah hal yang mudah. Seperti yang sudah disebutkan, hal tersebut berbeda pada setiap pasangan.

Dr. Phil McGraw, PhD, psikolog klinis dari University of North Texas menjelaskan tidak ada angka pasti untuk memastikan frekuensi hubungan suami istri yang sehat.

“Meski begitu suami-istri perlu berkompromi untuk menentukan berapa kali hubungan seksual itu dianggap cukup sebagai pasangan," jelasnya.

Sebab terkadang ada suami-istri yang sama-sama bekerja memiliki kesibukan masing-masing sehingga menyurutkan gairah seksual dan intimasi menjadi berkurang.

Atau jika salah satu pasangan bekerja, ada kalanya frekuensi hubungan seksual tak menentu karena ia mengalami tekanan dalam pekerjaan sehingga mengurangi gairahnya dalam berhubungan seks.

Baca Juga: 3 Tips Bercinta di Dalam Air

Namun, menurut penelitian rata-rata pasangan menikah melakukan hubungan seks 1-2 kali setiap minggunya. Hal ini dipengaruhi juga dengan usia pasangan dan juga usia pernikahan.

Sebagai contoh, pasangan berusia 20-an dengan status pengantin baru tentu akan lebih intens berhubungan seks. Hal berbeda dialami pasangan di atas usia 35 tahun dan sudah menikah 10 tahun lamanya. Lambat laun seiring waktu hubungan seks pun bisa-bisa hanya sekadar menjadi kewajiban suami-istri.

Jika Moms bertanya-tanya apa penyebabnya, stres secara fisik maupun psikis adalah jawabannya. Terlebih jika saat melakukan hubungan seks, pasangan tidak saling mengeksplorasi hal baru. Hal lainnya, perubahan bentuk tubuh setelah menikah dan memiliki anak juga jadi penyebab menurunnya gairah seks.

Itu adalah jawaban dari para wanita. Bagaimana dengan pria? Ternyata penelitian mengungkap para pria pada dasarnya dapat melakukan hubungan seks tanpa bergantung pada usia, waktu, perubahan fisik.

Mereka hanya akan tak bergairah saat terjadi stres dan kelelahan. Dan bagi mereka, frekuensi hubungan seks 1-2 kali sebulan sudah dapat dianggap cukup dalam sebuah pernikahan.

Baca Juga: Mengenal Kista Bartholin, Kista yang Bisa Menyebabkan Sakit saat Berhubungan Seksual

Tingkat Keintiman

frekuensi hubungan suami istri yang sehat
Foto: frekuensi hubungan suami istri yang sehat (M.timesofindia.com)

Foto: Orami Photo Stock

Senada dengan pernyataan yang sudah dijelaskan di atas, dilansir dari Hopkins Medicine, Chris Kraft, Ph.D, direktur Sex dan Gender Clinic mengatakan keintiman cenderung mengikuti pola yang berkembang dalam hubungan itu sendiri.

Pasangan yang baru saja menikah dan jatuh cinta biasanya akan mengalami kegembiraan menggebu dan kedekatan. Hal tersebut membuat hubungan seks dilakukan dengan lebih teratur. Hal ini bisa menjadi patokan frekuensi hubungan suami istri yang sehat di awal hubungan.

Nah sementara itu, hubungan yang hangat sendiri bisa berubah ketika memasuki fase memulai keluarga kecil. Ketika memiliki anak, hal tersebut bisa mengubah keintiman pasangan dengan lebih signifikan.

"kehidupan seks pasangan biasanya akan menurun usai melahirkan. Hal tersebut dikarenakan kurangnya waktu untuk diri sendiri dan terlalu lelah," ujar Chris.

Lebih lanjut, Chris mengatakan bahwa meski tak memiliki anak, rasa intim biasanya akan memudar setelah tiga atau empat tahun bersama. Nah saat ini lah frekuensi melakukan hubungan seks bisa menjadi lebih rutin.

Namun di sisi lain, jika Moms dan Dads tidak membicarakan mengenai keinginan dalam berhubungan seks, hal tersebut bisa lebih merenggangkan hubungan.

Baca Juga: Alasan Suami Sedang Tidak Minat Bercinta

Penyebab Turunnya Frekuensi Hubungan Suami Istri

frekuensi hubungan suami istri yang sehat
Foto: frekuensi hubungan suami istri yang sehat

Foto: Orami Photo Stock

Di samping hubungan yang semakin dewasa, faktor lain yang bisa membuat keintiman berkurang adalah karier dan tekanan keluarga. Hal ini pun berpengaruh besar pada frekuensi hubungan suami istri yang sehat.

Ya, tekanan karir dan juga dari pasangan bisa sangat menguras energi dan membuat lelah sehingga Moms dan Dads mungkin tak lagi punya energi untuk melakukan hubungan seks.

Rasa sakit yang disimpan dan berkembang seiring berjalannya waktu pun bisa menjadi penyebab paling umum.

Seperti, pernahkah Moms merasa kesal dan lelah karena pasangan tak membantu pekerjaan rumah seperti yang Moms harapakan dan perasaan itu menjadi berlipat ganda?

Nah, hal ini bisa menjadi penyebab ketidakharmonisan keluarga. Jika hal ini terjadi, komunikasi adalah hal yang harus dilakukan.

Cobalah untuk melakukan obrolan dari hati ke hati dan berikan pengertian mengenai hal yang selama ini Moms rasakan.

Hindari pernyataan yang memojokkan dan cobalah untuk menyelesaikan permasalahan bersama-sama. Lalu, bagaimana kalau hubungan menjadi dingin dan tak frekuensi hubungan suami istri yang sehat jadi tak terpenuhi?

Baca Juga: Apa Sebenarnya Squirting pada Wanita Saat Rangsangan dan Hubungan Seksual?

Cara Meningkatkan Keintiman

frekuensi hubungan suami istri yang sehat
Foto: frekuensi hubungan suami istri yang sehat

Foto: Orami Photo Stock

Sangatlah penting untuk memberikan perhatian pada kebutuhan pasangan. Jangan lupa. mengerti cara Moms dan Dads dalam berkomunikasi di luar dan dalam kamar pun sangat diperlukan.

Karenanya, sangat penting untuk mengidentifikasi keinganan diri sendiri agar bisa dikomunikasikan pada pasangan.

Cobalah cari tahu apa yang membuat Moms ingin melakukan hubungan seks. Berbeda dengan laki-laki, membentuk mood berhubungan seksual pada perempuan sangatlah berbeda.

Kebanyakan perempuan butuh untuk merasakan nyaman dan tidak khawatir mengenai pekerjaan, serta merasa terkoneksi dengan pasangan untuk bisa melakukan hubungan seks dengan nyaman.

Frekuensi Hubungan Suami Istri yang Sehat untuk Punya Anak

frekuensi hubungan suami istri yang sehat
Foto: frekuensi hubungan suami istri yang sehat

Foto: Orami Photo Stock

Ketika membicarakan hubungan seksual untuk memperoleh keturunan, frekuensi hubungan seks haruslah ditingkatkan. Meski bukan jaminan bahwa semakin sering berhubungan seks semakin besar peluang kehamilan, namun hasil survei mengungkap hal berbeda.

Dari 3.000 wanita yang terlibat dalam survey keluarga berencana, diketahui para wanita yang rutin melakukan hubungan seks 4 kali seminggu baru hamil di 6 bulan berikutnya. Namun, ada pula yang cepat hamil setelah 2-3 kali berhubungan seks.

Baca Juga: 8 Posisi Bercinta yang Perlu Dicoba agar Cepat Hamil

Yang terpenting, jika Moms ingin cepat hamil adalah perhatikan kesehatan tubuh Moms dan suami. Terutama untuk organ reproduksi dan organ intim. Sebab jika menekankan frekuensi hubungan seks semata, suami-istri justru jadi tertekan saat melakukannya.

Padahal, momen intim ini akan lebih menggairahkan jika dilakukan dalam kondisi relaks dan sama-sama menginginkannya.

Bagaimana Moms topik mengenai frekuensi hubungan suami istri yang sehat kali ini? Jangan biarkan kehangatan dengan suami berkurang, yuk bicarakan keinginan Moms dari sekarang!

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.