23 Maret 2018

Generasi Millenial Tidak Mau Punya Anak, Mengapa?

Mulai dari alasan karier sampai lingkungan

 

Seringkali generasi millenial memilih tidak mau punya anak dengan alasan mempertahankan gaya hidup mereka yang belum dewasa, mementingkan diri sendiri, terobsesi dengan teknologi canggih, dan merasa sebagai generasi dengan hak istimewa.

Mereka lebih tertarik pada karier dan tujuan hidup mereka daripada hidup mapan dan menikah. Sekarang, bertambah satu lagi prinsip dalam daftar gaya hidup yang mementingkan diri sendiri itu: tidak mau punya anak.

Menurut data dari Urban Institute, tingkat kelahiran di kalangan perempuan berusia 20-an telah menurun 15 persen antara tahun 2007 dan 2012. Demikian pula penelitian dari Pew yang menemukan jumlah pasangan tanpa anak telah meningkat dua kali lipat sejak 1970, dengan hanya sekitar setengah dari wanita berusia 15-44 di antaranya.

 

Alasan Tidak Mau Punya Anak

Ada stigma yang mengatakan bahwa orang-orang yang tidak mau punya anak dan menolak mewariskan gen mereka adalah egois dan berpikiran sempit. Sebab, itulah tujuan evolusi, yaitu berkembang biak dan menciptakan generasi berikutnya.

Tetapi, bertentangan dengan pendapat umum ini, berikut adalah beberapa pendapat mengapa generasi millenial tidak mau punya anak:

  1. Kecemasan akan situasi global sekarang

Adakalanya keputusan untuk tidak mau punya anak adalah alasan sepele seperti ingin menjauhkan anak dari keharusan hidup di dunia yang serba penuh kejahatan, terorisme, penyakit keturunan, dan cara-cara komunikasi yang semakin buruk. Penyesalan, rasa bersalah, dan kecemasan akan situasi global saat ini cukup meningkatkan keengganan memiliki anak.

  1. Faktor kemiskinan

Singkatnya, tidak punya uang dan merasa serba kekurangan. Generasi millenial adalah generasi dengan pendidikan paling tinggi namun berpenghasilan paling rendah.

Mereka bahkan sulit untuk merangkak maju, keluar dari perangkap utang untuk biaya kuliah, berjuang susah payah dalam karier, dan merasakan biaya hidup yang kian melonjak.

Mereka  berpendapat, hidup mapan secara finansial adalah hal penting. Namun, dengan situasi dunia yang tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan positif, mengurus diri sendiri saja sudah membutuhkan perjuangan dari segi finansial. Jadi, bagaimana mungkin memiliki anak yang membutuhkan biaya sangat besar?

  1. Kepadatan penduduk dan masalah lingkungan

Populasi dunia sudah tidak terkendali. Mengapa menambah kepadatan penduduk dan masalah lingkungan? Menambahkan lebih banyak manusia sama halnya dengan memberi beban lebih besar pada kota, bumi, dan bahkan lebih buruk lagi, lalu lintas. Mereka tidak mau bertanggung jawab untuk itu.

  1. Kehamilan itu tidak mengenakkan

Bahkan dengan semua teknologi medis mutakhir yang kita miliki, mereka berpikir melahirkan adalah penderitaan fisik yang sangat berat, menyiksa, dan mahal.

Beberapa wanita bahkan tidak rela menggunakan uterus mereka sebagai tempat sumber lahirnya kehidupan baru di dalamnya. Seakan-akan sesuatu itu bersifat seperti parasit dan sangat menjijikkan.

  1. Beberapa alasan egois untuk menginginkan anak

Moms pernah mendengar ada yang bilang begini: “Saya ingin anak untuk mengetahui apakah saya sudah benar-benar berpengalaman” atau “Saya hanya ingin melihat orang macam apakah saya ini” atau “Saya ingin punya anak karena status sosial”?

Dengan menjamurnya media sosial dan budaya selfie, orang-orang begitu terobsesi dengan diri mereka sendiri. Mereka melihat anak-anak sebagai cermin yang membuat mereka dapat melihat refleksi mereka sendiri. Atau, sebagai objek yang dapat mereka gunakan untuk simbol status lucu demi menjaring banyak ‘like.’ Generasi millenial tidak menginginkan hal ini.

  1. Merasa tidak mampu menjadi orangtua yang baik

Tidak semua wanita terprogram dengan naluri keibuan, dan tidak semua pria memiliki dorongan untuk menanamkan benih mereka. Apalagi bila sebagian dari mereka tidak suka anak-anak.

Bagi mereka, anak-anak selalu menjengkelkan dan mengganggap mereka semua sama. Beberapa orang bisa dikatakan sangat menyebalkan, dan hal terburuk yang dapat mereka bayangkan adalah menciptakan masyarakat baru dengan versi diri mereka sendiri.

Lalu, menjadi seperti apakah dunia ini bila dipenuhi dengan orang-orang yang menyebalkan?

  1. Ingin mengejar karier

Penelitian baru menyatakan bahwa gagasan 'memiliki segalanya', baik keluarga maupun karier impian, adalah mitos dan omong kosong.

Jadi, tidak mengejutkan jika generasi millenial menyebut bahwa masalah karier vs anak sebagai alasan untuk tidak menghendaki anak. Banyak orang khawatir anak-anak akan mencegah mereka mencapai potensi maksimal mereka.

  1. Enggan memperbaiki segala sesuatu

Banyak orang ingin punya anak karena alasan bosan, pernikahan mereka sudah basi, atau karena berpikir dengan kehadiran anak akan memberi mereka kehormatan dan status sosial.

Tapi, anak-anak bukan ban serep; mereka menyebalkan dan menuntut perhatian penuh selama minimal 18 tahun. Anak tidak akan memperbaiki pernikahan yang sudah basi atau membuat orang tua mereka menjadi orang yang lebih baik. Sekali lagi, semua itu hanyalah alasan egois untuk memiliki anak.

  1. Bahkan kadang tidak perlu alasan; mereka hanya tidak mau punya anak

Apa yang kita lakukan dengan tubuh kita, sama halnya dengan karier dan uang, adalah pilihan pribadi dan mereka tidak perlu memberikan penjelasan atas pilihan pribadi mereka.

 

Mengapa Pendapat Generasi Millenial Itu Tidak Tepat?

Banyak orang beranggapan bahwa alasan tidak mau punya anak itu adalah hal yang bodoh. Berikut adalah beberapa pendapat mereka:

  1. Anak-anak sebenarnya tidak menghabiskan biaya besar

Jangan biarkan mitos 'anak itu mahal' menipu Moms. Kebutuhan bayi untuk bertahan hidup tidak terlalu besar, asalkan Moms tahu cara berhemat, bahkan dalam keadaan darurat sekalipun.

Kenapa harus selalu membeli baru? Moms bisa membeli barang-barang bekas yang masih layak pakai, membuat popok kain dan menjahit pakaian mereka sendiri, yang tentu lebih murah dan ramah lingkungan. Dan bukankah generasi millenial paling peduli tentang lingkungan?

  1. Dunia memang selalu mencemaskan

Sejak zaman lampau hingga berabad-abad kemudian, dunia selalu dipenuhi dengan berbagai penderitaan, wabah penyakit, malapetaka, tragedi, dan berbagai kejahatan lainnya. Tidak ada yang berubah.

Dalam konteks sejarah, dunia kita tampaknya tetap sama dari tahun ke tahun dan kelihatannya tetap baik-baik saja. Tentu, perubahan iklim dan kemajuan teknologi adalah hal lumrah. Jadi, untuk apa mengkhawatirkan segala sesuatu yang memang sudah ada sepanjang sejarah hidup manusia?

  1. Perketat pinjaman bank, dan carilah suku bunga yang lebih rendah

Meskipun Moms memiliki pekerjaan tetap, tapi toh tidak akan terbebas dari berbagai pembayaran dan pinjaman bank. Apalagi bila kemudian resesi ekonomi terjadi dan keadaan menjadi semrawut, toh Moms pasti sanggup menopang diri sendiri, dan akhirnya Moms akan terpesona pada apa yang dapat Moms capai.

Apabila ditanggung bersama pasangan yang berkomitmen sama, maka pembayaran pinjaman itu akan terasa lebih ringan. Kecuali Moms memang memiliki pinjaman pribadi, itu perkara yang berbeda.

  1. Kehamilan itu menyenangkan

Serius! Pikirkanlah, Moms sedang menciptakan kehidupan baru dalam tubuh Moms. Jika hal ini membuat Moms merasa jijik dan tidak nyaman, maka Moms bisa berkonsultasi dengan dokter atau psikiater tentang apa yang Moms rasakan. Moms bahkan tetap bisa menurunkan berat badan pascamelahirkan dan menikmati hidup.

  1. Kepadatan penduduk hanyalah mitos

New York Times menyebutkan, tidak ada alasan yang berkaitan dengan lingkungan hidup bagi orang-orang yang kelaparan sekarang atau di masa depan. Pakar ini tadinya percaya pada mitos kelebihan penduduk, dan kemudian menyadari bahwa manusia beradaptasi pada teknologi untuk mendukung kehidupan lebih banyak orang.

Jika komitmen Moms terhadap lingkungan lebih besar dari komitmen terhadap kemanusiaan, ketahuilah bahwa tidak memiliki anak bukanlah alasan yang dapat memecahkan masalah kepadatan penduduk.

  1. Tentu saja Moms sesekali akan menjadi orang tua yang buruk

Yakinlah, bahwa tidak ada orangtua yang sempurna di dunia ini, demikian pula diri kita sendiri. Awalnya kita mungkin berhasil menjadi orang tua, namun kita sering membuat kekacauan selama proses itu. Parenting berarti Moms harus terjun ke dalamnya dan bertanggung jawab pada apa yang menjadi tugas Moms.

 

Lupakan orang lain yang tidak mau punya anak dengan alasan tidak benar. Mereka mungkin melakukannya, tetapi Moms tidak perlu. Berpikirlah positif, dan berupayalah menjadi orangtua yang terbaik bagi anak-anak Moms.

Bagaimanapun juga, harapan tetap ada selama dunia masih berputar, bahkan lebih baik dari sebelumnya, dan Moms patut berbahagia karena menjadi bagian kecil dari dunia itu.

Nah, bagaimana dengan Moms? Apakah Moms juga tidak mau punya anak karena alasan di atas?

 

(ROS)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.