07 April 2018

Ini Efek Buruk Kurang Gizi bagi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Malnutrisi bisa sebabkan kematian pada anak

Kurang gizi sebagai salah satu bentuk malnutrisi sering dianggap sebagai permasalahan daerah tertinggal. Ternyata, kondisi ini juga bisa terjadi di kota-kota besar atau negara berkembang dan maju. WHO bahkan menyatakan bahwa malnutrisi terjadi pada sekitar 792 juta orang di seluruh dunia dan sepertiganya adalah anak-anak!

Malnutrisi atau malagizi sebenarnya tidak hanya mencakup kekurangan gizi, tapi juga kelebihan gizi yang menyebabkan obesitas pada anak. Namun, kali ini Orami Magazine hanya akan membahas tentang kurang gizi.

Kurang gizi terjadi jika tubuh tidak mendapatkan cukup gizi untuk bisa berfungsi dengan baik. Bentuk terparahnya adalah gizi buruk. Penyebabnya beragam. Di daerah tertinggal, kesulitan mendapatkan pangan menjadi faktor utama. Namun, bukan berarti wilayah yang tampak maju lantas terbebas dari ancaman malnutrisi.

Ternyata, kurang gizi bisa berakibat buruk, bahkan fatal, bagi anak-anak. Ini efeknya:

1. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Terhambat

Disebut juga sebagai stunting, terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan efek jangka panjang malnutrisi. Anak yang mengalami stunting akan cenderung lebih lamban pertumbuhannya dibanding anak lain seusianya. Dari tinggi dan berat badan, misalnya, dia akan cenderung berada di bawah grafik normal. Pertumbuhan yang terhambat ini bisa menjadi permanen lho, Moms, bila tidak segera ditangani. Menurut temuan yang dimuat dalam British Medical Journal, malnutrisi tidak hanya berakibat pada tubuh, tapi juga memberikan pengaruh besar pada perkembangan otak anak, terutama di tiga tahun pertama kehidupannya.

2. Marasmus

Mungkin Anda masih kurang familiar dengan istilah satu ini. Marasmus adalah kondisi tubuh yang mengalami kekurangan kalori (energi) tingkat berat. Jangan anggap enteng karena malnutrisi jenis ini bisa mengakibatkan keterbelakangan mental. Ciri-ciri marasmus biasanya dapat dilihat dari berat badan yang menurun drastis, kulit yang kering dan terkadang warnanya terlihat lebih gelap dari kulit yang sehat, kehilangan lemak dan otot, kerontokan rambut, dan wajah yang tampak tirus.

3. Kwashiorkor

Nah, yang satu ini adalah jenis kekurangan protein akut yang seringkali terjadi pada anak yang mengalami malnutrisi. Gejala kwashiorkor atau disebut juga busung lapar biasanya berupa rambut yang berwarna kemerahan, ruam kulit, perut buncit karena kembung, serta hati yang membesar atau bengkak. Jika dibiarkan, kondisi kekurangan gizi ini bisa berujung pada koma atau malah kematian.

4. Kekurangan vitamin dan mineral

Dari semuanya, mungkin ini yang cukup familiar di telinga Anda. Ya, masalah malnutrisi ini tidak hanya terjadi karena kekurangan protein, karbohidrat, ataupun lemak. Anak-anak juga  bisa digolongkan mengalami malnutrisi jika dia kekurangan mikronutrien seperti vitamin dan mineral. Kondisi inipun tidak bisa diabaikan karena bisa merembet ke masalah lainnya. Misalnya, jika anak mengalami kekurangan zat besi, hal ini bisa berujung pada anemia atau kekurangan sel darah merah.

Untuk mencegah malnutrisi, idealnya anak diberi gizi seimbang yang mengandung makronutrien dan mikronutrien. Makronutrien sendiri berupa karbohidrat, protein, dan lemak. Sedangkan mikronutrien adalah vitamin dan mineral, terutama vitamin A, B1, B6, B12, C, D, E, dan K yang dibutuhkan anak. Nah, sudahkah kebutuhan gizi si kecil terpenuhi?

(ECH)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.