13 Juli 2020

Ini yang Terjadi Pada Tubuh Jika Sering Membunyikan Sendi Badan Hingga Berbunyi "Krek"

Bisa menimbulkan sejumlah risiko berbahaya!

Secara umum, membunyikan punggung atau badan sampai berbunyi "krek", bukan berarti tubuh benar-benar retak. Dalam istilah medis dilansir oleh healthline.com, gerakkan ini disebut crepitus.

Gerakan membunyikan badan bisa dilakukan sendiri maupun oleh profesiona, seperti chiropractor atau spesialis tulang belakang dan sendi lainnya.

Namun, Moms dan Dads mungkin belum mengetahui tentang apa yang terjadi jika kita meretakkan badan.

Hal yang Terjadi Jika Kita Membunyikan Sendi Punggung

Berikut ini dua hal yang mungkin terjadi ketika kita meretakkan punggung.

1. Cairan dan Tekanan Sinovial

Membunyikan punggung sama seperti meregangkan kapsul licin pada tepi luar vertebra di sekitar sendi yang disebut facet joints.

Meregangkan kapsul ini memungkinkan cairan sinovial di dalamnya memiliki lebih banyak ruang untuk bergerak, melepaskan tekanan pada sendi dan otot punggung serta menggerakkan sendi facet.

Ketika tekanan dilepaskan, cairan sinovial menjadi gas dan membuat suara retak, pecah atau patah. Perubahan kondisi yang cepat ini disebut kavitasi.

2. Gas dan Tekanan Lainnya

Beberapa ahli percaya bahwa gas seperti nitrogen, karbondioksida dan oksigen terbentuk di antara sendi dari waktu ke waktu, terutama jika sendi tidak selaras dan membengkak.

Kondisi ini bisa disebabkan oleh postur tubuh yang bungkuk atau duduk dalam jangka waktu lama. Ketika kita meregangkan sendi dengan cara tertentu, gas ini pun dilepaskan.

Baca Juga: Spina Bifida pada Bayi, Ini Penyebab, Jenis, dan Pengobatannya

Kenapa Meretakkan Punggung Terasa Menyenangkan?

meretakkan punggung - pixabay (1).png
Foto: meretakkan punggung - pixabay (1).png (pixabay.com)

Foto: pixabay.com

Kebanyakan orang meretakkan punggung untuk mengatasi stres dan kekakuan pada otot-otot tulang belakang setelah duduk lama di depan komputer atau lainnya.

Padahal kondisi tersebut bisa diatasi dengan cara-cara lain seperti yang dilansir oleh Cedars-Sinai Spine Center, termasuk mengatur meja yang ergonomis, melakukan peregangan fisik di sela-sela istirahat kerja dan lainnya.

Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke, sumsum tulang belakang yang dikelilingi oleh ganglia sensorik atau sekelompok sel akan mengirim informasi ke otak ketika kita meretakkan punggung.

Ketika kita membunyikan sendi punggung atau badan, otak akan mengartikan bahwa kondisi punggung lebih baik dan tidak tegang lagi setelah meretakkannya. Karena itu, beberapa orang akan merasa lega jika meretakkan punggung.

Pada umumnya, orang-orang merasa meretakkan punggung membuat mereka merasa lebih baik. Tapi, kondisi ini bisa disebabkan oleh efek psikologis atau lainnya.

Baca Juga: Apa Penyebab Rasa Sakit di Tulang Rusuk Belakang?

Risiko Meretakkan Punggung

meretakkan punggung - pixabay (4).jpg
Foto: meretakkan punggung - pixabay (4).jpg (pixabay.com)

Foto: pixabay.com

Jangankan membunyikan sendi badan! Dilansir oleh National Institute of Arthritis and Muscoskeletal and Skin Disease, memukul punggung dengan cara yang salah atau terlalu sering dapat menyebabkan komplikasi.

Karena, kita harus memberi jeda waktu untuk meretakkan punggung sekitar 20 menit. Jangan meretakkan punggung berulang kali tanpa jeda waktu. karena cara ini bisa meregangkan ligamen.

Hindari retak punggung Anda jika Anda memiliki:

  1. Osteoporosis yang parah
  2. Kanker tulang belakang
  3. Risiko tinggi terkena stroke
  4. Kelainan tulang leher atas
  5. Mati rasa, kesemutan, atau kehilangan kekuatan di lengan atau kaki

Itulah Moms, kebiasaan membunyikan tulang punggung ternyata bisa merusak sendi yang sehat. Lebih baik meminta bantuan ahli tulang, ahli terapi fisik dan ahli osteopati.

Baca Juga: Akupunktur untuk Meringankan Nyeri Punggung saat Hamil, Apakah Aman?

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.