27 Maret 2018

Kenali Bahaya Jarak Kehamilan Terlalu Dekat Bagi Ibu dan Bayi

Jarak kehamilan yang kurang dari 1 tahun, dapat meningkatkan risiko kematian pada sang ibu

Tahukah Moms, bahwa ternyata jarak kehamilan yang terlalu dekat ternyata dapat menimbulkan komplikasi serius pada kehamilan dan juga proses kelahiran. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan bahwa jarak antara kehamilan yang baik adalah 2 hingga 3 tahun. Apabila kurang dari 2 tahun, memungkinkan dampak buruk terjadi pada kesehatan janin dan ibunya.

Meningkatkan Risiko Kematian Saat Melahirkan

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa jarak kehamilan yang kurang dari 1 tahun, dapat meningkatkan risiko kematian pada sang ibu. Hal tersebut dikarenakan dapat terjadinya pendarahan pasca persalinan.

Di mana rahim Moms yang kehamilannya terlalu dekat belum siap untuk menampung dan menjadi tempat berkembangnya janin yang baru. Hal lain yang juga dikhawatirkan adalah plasenta dari kelahiran yang sebelumnya belum lepas seluruhnya, sehingga komplikasi pada kehamilan yang baru mungkin saja terjadi.

Bagi Moms yang melahirkan secara sesar pun dikhawatirkan masih terdapat plasenta yang melekat pada dinding rahim bagian bawah dan dapat menutupi leher rahim. Hal ini akan berujung dengan timbulnya radang saluran genital dan menyebabkan proses kelahiran mengalami pendarahan dan sulit dilakukan.

Selain adanya risiko kematian, jarak kehamilan yang terlalu dekat tidak memberikan kesempatan pada Moms untuk memberikan ASI eksklusif pada Si Kecil. Padahal, ASI eksklusif merupakan makanan yang paling baik untuk bayi yang baru lahir. Hal ini tentunya berbahaya, mengingat bahwa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif akan mendapatkan zat gizi mikro maupun makro yang cukup sesuai kebutuhan. Tak hanya itu, ASI juga dapat meningkatkan fungsi kognitif anak dan membuat kekebalan tubuh Si Kecil.

Baca juga: Keberhasilan Program Bayi Tabung Berdasarkan Usia

Risiko Pada Janin

pregnantwoman
Foto: pregnantwoman

Risiko yang terjadi tak hanya pada Moms saja, tetapi juga pada janin. Janin mungkin saja dapat mengalami kematian saat lahir karena rahim dan fungsi tubuh sang ibu yang belum siap untuk menunjang kehidupan janin yang baru.

Hal itu disebabkan karena ketika janin yang baru tumbuh dan berkembang, mereka tak mendapatkan asupan makanan untuk berkembang. Tak hanya kematian, ada pula risiko bayi lahir cacat yang disebabkan oleh hal tersebut.

Selain risiko kematian dan cacat, bayi juga mungkin saja mengalami kelahiran secara prematur dikarenakan jarak kehamilan yang dekat tidak memberikan Moms cukup waktu untuk pulih dari stres fisik yang terjadi akibat kehamilan sebelumnya.

Seperti contohnya ketika tubuh Moms menguras dan menghabiskan zat gizi yang ada di dalam tubuh ibu karena berbagi dengan janin, seperti zat besi, dan asam folat. Maka ketika Moms mengalami kehamilan berikutnya dengan jarak yang dekat, akan mempengaruhi kesehatan Moms dan janin karena tidak dapat memenuhi kebutuhan masing-masing.

Baca juga: Jenis Kelamin Bayi Ternyata Berpengaruh Pada Gestasional Diabetes Ibu

Jarak Kehamilan yang Baik

Moms tentu bertanya-tanya kiranya berapa lama jarak kehamilan yang baik setelah melahirkan. Sesuai dengan anjuran penelitian, jarak antar kelahiran yang baik minimal 24 bulan dengan maksimal 5 tahun setelah kehamilan yang terakhir.

Karena dengan demikian, Moms dapat memberikan ASI eksklusif serta memberikan kecukupan gizi bagi Si Kecil. Tak hanya itu, Moms juga dapat mempersiapkan tubuh sendiri untuk kehamilan berikutnya dengan kondisi status gizi yang baik.

(MDP)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.