04 Juli 2018

Kisah Irma Syahrifat, Dari Arsitek Menjadi Doula Untuk Bantu Ibu Hamil

Mulai dari kehamilan hingga pasca persalinan, doula selalu mendampingi kliennya


Profesi doula kian popular di masyarakat. Semakin banyak masyarakat tertarik menggunakan jasa doula untuk mendampingi proses kehamilan hingga persalinan.

Irma Syarifat yang berprofesi sebagai doula mengakuinya. Perempuan yang akrab disapa Irma itu mengatakan media sosial memegang pernah penting terhadap makin dikenalnya profesi doula di masyarakat.

Jadi Doula sejak 2014

26065250 536324330068345 4571918576931307520 n
Foto: 26065250 536324330068345 4571918576931307520 n
instagram/irmasyahrifat

Irma mulai resmi mendapatkan sertifikasi doula pada akhir 2014. Ia mengikuti pelatihan doula ‘Loving The Mother’ di Bali bersama Robin Lim, Giuditta Tornetta, dan Nicola Mahdiyyah Goodall. Dari pelatihan tersebut, ia berhasil mendapatkan sertifikasi ‘birth doula’.

Setahun setelahnya, ia menjalani pelatihan dari RedTent Doula di Inggris bersama Nicola Mahdiyyah Goodall. Irma juga memiliki sertifikasi ‘postpartum doula’ dari Joy in Birthing di Amerika Serikat bersama Giuditta Tornetta pada 2016.

Keinginan untuk menjadi doula muncul ketika Irma telah mengalami dua persalinan. Irma merasakan sebuah transformasi yang luar biasa dalam hidup.

Dia merasa bahwa persalinan adalah sebuah momen yang menyenangkan yang perlu di-support agar semakin banyak ibu yang mendapatkan pengalaman menyenangkan sehingga kedamaian di bumi dapat dimulai dari dalam rahim.

“Setelah saya melahirkan anak ketiga saya dengan suami saya di rumah dan bantuan bidan, saya menjadi semakin percaya bahwa tubuh perempuan mampu dan memiliki pengalaman persalinan yang menyenangkan adalah sangat memungkinkan,” cerita perempuan yang sebelumnya berprofesi sebagai arsitek itu.

Baca Juga : Apa Bedanya Bidan dan Doula dalam Membantu Calon Ibu Selama Hamil Hingga Melahirkan?

Arsitek yang Kini Menjadi Doula

31556830 166443317383563 707325661328441344 n
Foto: 31556830 166443317383563 707325661328441344 n
instagram/irmasyahrifat

Latar belakang pendidikan yang bukan dari kebidanan tidak membuat Irma patah arang. Menurutnya, tidak ada yang dapat membatasi seorang perempuan mendukung perempuan lainnya, termasuk batasan ilmu.

Doula adalah sebuah profesi yang tidak berhak melakukan tindakan medis. Tapi mendukung ibu dari sisi mental, spiritual, psikologis, dan support systemnya. Sehingga jika berasal dari latar belakang non-medis tidak apa-apa. Doula sendiri merupakan seorang pendamping persalinan non-medis.

“Meskipun memang jika latar doula dari seorang bidan juga baik sekali, karena dalam kebidanan juga diajarkan mendampingi ibu dengan asuhan sayang ibu dan sayang bayi,” ungkap perempuan kelahiran Jakarta, 27 Maret 1985 itu.

Irma menuturkan, latar belakang pendidikannya sebagai arsitek ternyata cukup membantunya dalam menjalani profesi sebagai doula. Jobdesc arsitek hampir serupa dengan doula. Yaitu mendampingi klien, menjabarkan pilihan-pilihan kepada klien, consulting, dan coaching.

“Perbedaannya, arsitek adalah mendampingi klien mewujudkan rumah impian, doula mendampingi klien mewujudkan persalinan idaman,” tuturnya.

Jam kerja saat menjadi arsitek yang sering pulang hingga larut malam pun membuat Irma juga lebih mudah beradaptasi ketika menjadi doula memiliki jam kerja yang “ajaib”. Harus on call anytime termasuk tengah malam sekalipun.

Selain mengambil kelas untuk mendapatkan sertifikat, Irma juga cukup sering berdiskusi dengan pihak-pihak yang sudah punya banyak pengalaman. Termasuk obgyn, bidan, dan praktisi lainnya. “Sampai sekang pun saya masih belajar banyak, lagi dan lagi,” jelasnya.

Mendampingi dari Hamil hingga Melahirkan

32080793 174928769877919 1431190189446791168 n
Foto: 32080793 174928769877919 1431190189446791168 n
instagram/irmasyahrifat

Irma mengatakan, doula bukan hanya bertugas mendampingi persalinan. Peran doula, kata Irma, dimulai dari sejak hamil. Ada pertemuan untuk membahas tentang informed choices, birth plan, dan relaksasi.

Terkadang, doula juga perlu menemani periksa ke dokter untuk sekalian memperkenalkan diri. Ada juga group whatsapp bersama suami 24/7 on call.

“Doula mendampingi kapan pun ibu perlukan. Biasanya saat memasuki fase aktif atau 5 menit sekali kontraksi, melahirkan, dan mendampingi momen menyusui pertamanya,” tutur perempuan yang hobi membaca itu.

Saat mendampingi persalinan, proses pendampingan menjadi lebih intens. Irma juga punya magical words untuk menguatkan para ibu yang tengah berjuang antara hidup dan mati itu.

Kata-kata yang terus Irma ucapkan sepenjang proses bersalin merupakan kata-kata positif untuk menyemangati mereka. “Saya selalu bilang, saya percaya padamu, tubuhmu mampu, kamu bisa, dan yang lainnya,” jelas dia.

Irma juga selalu menanamkan prinsip ‘mimpikan-usahakan-lepaskan’ pada setiap persalinan. Mimpikan adalah saat menggali apa yang diinginkan, usahakan adalah saat berusaha sepanjang kehamilan, dan lepaskan adalah saat hari H- saatnya ikhlas melepas dan surrender.

Irma mengatakan, banyak sekali pengalaman berkesan selama mendampingi ibu bersalin. Mulai dari mendampingi klien VBAC (vaginal birth after caesarian) pertama, ikut masuk ruang operasi mendampingi operasi SC, hingga mendampingi persalinan yang prosesnya sampai tiga hari.

“Ada juga pengalaman mendampingi persalinan di rumah. Saya juga punya pengalaman pertama naik ambulance ketika mendampingi seorang ibu pindah dari klinik bersalin ke RS,” tutur anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Hingga saat ini, sudah lebih dari 75 ibu dan keluarga yang Irma dampingi.

Tertarik menggunakan jasa Irma untuk mendampingi kehamilan dan persalinan Moms? Moms bisa langsung menghubungi Nujuhbulan Studio di kawasan Bintaro.

(AND)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.