Momspiration

26 September 2020

Suami Pindah Tugas ke Jerman, Saya Harus Ekstra Hati-hati Bawa Bayi Terbang Jauh di Tengah Pandemi

Sepanjang perjalanan, semua penumpang wajib mengenakan masker dan face shield demi keamanan bersama
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Muthia Kasri (35 tahun), Ibu rumah tangga, Ibu dari Remy Kasri (17 bulan), tinggal di Berlin, Jerman.

Sejak awal tahun 2020, seluruh dunia dikejutkan dengan satu virus yang banyak merenggut korban, apalagi kalau bukan virus corona atau COVID-19.

Di Indonesia sendiri, kasus pertama virus corona mulai tercuat pada bulan Maret 2020. Kalau itu baru puluhan orang terinfeksi. Hingga sekarang, September 2020, sudah puluhan ribu orang yang terinfeksi.

Untuk mencegah infeksi virus corona yang semakin meluas, protokol kesehatan di berbagai tempat, seperti perusahaan, tempat makan, supermarket, dan lainnya pun diperketat, termasuk bandara.

Bahkan kini untuk bisa naik pesawat, penumpang diwajibkan untuk melakukan rapid test terlebih dahulu, untuk menunjukkan bukti bahwa dirinya aman dari COVID-19.

Baca Juga: Memasak bersama Anak adalah Kegiatan Favorit Kami selama Pandemi COVID-19 di Korea Selatan

Mungkin kita orang dewasa saja sudah cemas jika harus bepergian naik pesawat, tapi bagaimana jika kita juga harus membawa buah hati kita? Ini dia cerita dari Moms Muthia yang harus pindah rumah ke Jerman bersama bayi mungilnya yang akrab disapa Mijon di tengah pandemi.

Deg-degan, Naik Pesawat saat Pandemi Bawa Anak Umur 1 Tahun

cerita covid-19

Foto: dok. Muthia Kasri

Ibu mana yang tidak cemas dan khawatir jika harus membawa anaknya ke bandara untuk naik pesawat? Belum lagi bandara merupakan tempat di mana banyak orang berkumpul dari berbagai daerah.

Meskipun mereka sudah periksa rapid test, tapi pasti yang namanya rasa khawatir tetap ada. Terlebih lagi saya harus membawa anak saya yang baru berusia 1 tahun.

Saya sekeluarga memang terpaksa pindah karena suami pindah tugas ke Jerman sampai empat tahun ke depan. Dan kami diharuskan untuk berangkat pada awal Agustus.

Bisa dibayangkan bagaimana saya deg-degannya minta ampun, apalagi di tengah pandemi seperti ini dengan membawa anak saya yang baru berumur 1 tahun, dan ini penerbangan pertamanya pula!

Jadi, sebagai ibu siaga, mulailah saya bertanya kepada dokter anak, apa yang harus saya persiapkan terlebih dahulu sebelum berangkat.

Dokter anak yang saya datangi adalah dr. Lindang Sastra di Rumah Sakit Ibu Anak Asih. Menurut saya, dr. Lindang ini termasuk dokter yang sangat membantu dan logis sejak anak saya lahir.

Jika Moms berpikir anak perlu vaksin tambahan karena akan naik pesawat dan sedang COVID-19, maka jawabannya tidak! Cukup diberikan vaksin rutin saja sampai belum berangkat dan dilanjutkan lagi ketika sudah sampai di tempat tujuan kami.

Anak saya juga hanya diberi suplemen makanan yang diminum satu hari sekali.

Lalu saya bertanya, apakah Si Kecil perlu memakai APD? Ternyata anak di bawah 2 tahun memang tidak dianjurkan untuk menggunakan APD, karena pasti nanti akan mereka lepaskan kembali.

“Yang terpenting orang di sekitar anak memakai masker dan jaga jarak saja,” kata dr. Lindang.

Merasa belum cukup, lalu saya bertanya apalagi yang perlu dipersiapkan? Ternyata hanya itu saja. Earmuff pun tidak wajib katanya, namun kalau ingin dipakaikan boleh saja. Selain itu, dr. Lindang menyarankan saya untuk menyusui Mijon saat akan take off dan landing.

Baca Juga: Pandemi Covid-19, Ini yang Keluarga Kami Lewati di Negeri Jiran Malaysia

SWAB Test Bertiga, Termasuk Si Kecil

cerita covid-19

Foto: Orami Photo Stock

Yup, benar sekali, bukan hanya saya saja dan suami yang harus melakukan SWAB test, Si Kecil juga diwajibkan. Kita yang orang dewasa saja sudah ngeri-ngeri sedap membayangkan bagaimana SWAB test yang notabenenya hidung kita dimasukkan sesuatu lalu agak dicolok-colok, bagaimana dengan Mijon?

Ketika masuk ke ruang test, sikap Mijon masih biasa saja. Ketika diminta berbaring di atas tempat tidur dirinya mulai terlihat gelisah. Ketika dipegang, ia langsung berteriak-teriak meraung-raung, nangis kenceng banget. Pasti sakit ya nak? Pikir saya.

Karena nangisnya begitu kencang hingga mulutnya mangap-mangap, maka yang pertama kali di SWAB adalah bagian tenggorokannya dulu, baru hidungnya.

“Mumpung nangis, jadi tenggorokan dulu ya,” kata-kata dokternya waktu itu. LOL!

Yang memegangi Si Kecil ada satu perawat, papa, dan mama. Tapi setelah dicolok yang tidak sampai lima menit itu, nangisnya sontak berhenti. Saya bangga terhadap putra kecil saya!

Dibagikan Face Shield dan Wajib Pakai Selama Perjalanan

cerita covid-19

Foto: dok. Muthia Kasri

Seperti penerbangan ke luar negeri lainnya, kami pun melakukan midnight flight. Saya cukup senang sih, karena sebenarnya ini memang waktu tidurnya Si Kecil. Dan benar saja, sampai Airport, dia sudah tidur.

Tapi ketika kita lagi menunggu check in dan masuk gate, Si Kecil bangun. Lalu makan nasi goreng, dan berlarian di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta yang untungnya sepi banget.

Sampai di waiting room, ternyata anak piyik masih segar. Masih lari-larian juga, hingga akhirnya kita antri untuk boarding.

Kami naik Qatar Airlines, kebetulan antrian Qatar Airlines untuk penumpang yang membawa anak dan tidak dipisahkan, yang mana artinya baik sekali. Sebelum naik, mereka juga membagikan face shield yang wajib dipakai selama perjalanan, kecuali saat akan makan.

Bisa dibanyangin dong, bagaimana sesaknya ketika kita diharuskan untuk memakai face shield dan masker selama 8 jam penerbangan? Tapi demi keamanan, tentu harus dilakukan.

Baca Juga: Pandemi COVID-19 di Australia, Saya Ajak Anak Berdiskusi Demi Kesehatannya

Selama di pesawat, saya bisa bilang bahwa Si Kecil Mijon berhasil menjadi anak yang manis. Dia tidur sebentar, lalu bangun dan asik main sendiri sambil nonton monster. Makannya pun banyak, mulai dari omelete, sosis, yogurt dan roti, semuanya dimakan dengan lahap.

Kamu dinyatakan lulus terbang nak, Mama so proud!

Test SWAB Lagi dan Penyesuaian di Jerman

cerita covid-19

Foto: Orami Photo Stock

Kebetulan kita baru hampir dua bulan sampai di sini. Penyesuaiannya lumayan banyak tapi untungnya tidak terlalu ribet.

Yang pertama harus disesuaikan adalah jam, karena Berlin dan Jakarta beda 5 jam, yang mana cukup jauh ya. Untuk saya dan suami karena sudah biasa traveling jadi gak masalah untuk switch hours. Tapi buat anakku yang baru 1 tahun 4 bulan, kan baru pertama kali, jadi belum tahu seberapa lama dia jet lag-nya.

Saya dapat saran dari teman katanya supaya jet lag-nya tidak lama, ketika sampai di Jerman jangan tidur. Jadi langsung aktivitas dan ngikutin jam disini.

Saya sampai di Berlin jam 12.00. Keluar airport baru jam 14.00 karena kita harus SWAB test dulu. Setelah itu, saya dan suami benar mengajak anak main (di rumah ya) jadi tidak tidur dulu.

Hari pertama Si Kecil tidur jam 18.00. Hari kedua jam 19.00. Hari ketiga jam 20.00 sudah tidur dan hari keempat jam 21.00 sudah tidur (sudah sama seperti waktu tidur di Jakarta). Jadi hari keempat jam dia langsung berubah dari tidur siang dan tidur malam.

Saya bersyukur kami pindah ke Jerman karena negara ini salah satu yang kasus COVID-19-nya bisa ditekan. Jadi kondisi saat saya sampai di Jerman itu adalah sudah tidak ada lockdown tapi ada peraturan ketat mengenai pemakaian masker dan social distancing.

Semua orang sudah bebas keluar dan beraktivitas bahkan seminggu setelah kami datang, sekolah juga sudah back to normal (full masuk dengan jam normal).

Baca Juga: Rumah Sakit di Jabodetabek yang Menerima Rapid/Swab Test COVID-19 dan Biayanya

Peraturan di sini adalah kalau outdoor tidak wajib masker tapi kalau indoor dan di dalam transportasi umum, wajib pakai masker. Kalau tidak pakai akan denda sekitar EUR50 atau setara dengan Rp865.000 kalau tidak salah.

Jadi, ketika sampai di sini, kita lumayan kaget karena semuanya terlihat normal banget tapi tetap kami sekeluarga menjalankan protokol COVID-19 seperti di Jakarta, seperti pakai masker, social distancing, sampai rumah mandi dan bersih-bersih, lalu barang-barang dibersihkan dengan antiseptik.

Jadi tidak ada yang berubah dari rutinitas kita karena bagaimana pun kami harus saling menjaga satu sama lain.

Si Kecil Ku Ajak Menikmati Udara Luar

cerita covid-19

Foto: dok. Muthia Kasri

Waktu di Jakarta, Si Kecil sudah diisolasi di rumah dari bulan Februari. Bahkan sebelum PSBB ya karena parno banget dengan kasus COVID-19 dari awal. Jadi dia beneran enggak pernah keluar rumah kecuali kalau mau vaksin ke dokter.

Bisa dibayangkan dari Februari-Juli itu sekitar 5 bulan ya. Dia bahkan ngerayain ulang tahun pertama dia pas masa karantina. Jadi beneran dia tidak pernah keluar rumah atau ketemu orang bahkan oma opa dan eyang-eyangnya.

Semua kita lakukan via video conference kalau mau ngobrol. Jadi efeknya untuk anakku adalah kalau ketemu orang dia menangis dan ketakutan. Karena selama berbulan-bulan cuma ketemu saya, suami, dan mbak di rumah.

Dua minggu sebelum kami berangkat ke Jerman, orang tua kita dan adik-adik kami bolehkan datang ke rumah karena kami kan akan pergi jauh. Alhasil Mijon butuh waktu untuk cooling down dan mengenal mereka semua. Karena sudah lupa kan berbulan-bulan tidak ketemu.

Dan pas ketemu ya pasti drama nangis-nangis tidak mau dipegang diajak main. Tapi enggak lama, sejam juga sudah tenang. Mungkin ini terjadi pada anak lainnya yang juga di rumah saja selama karatina.

Sampai di Jerman, karena semua sudah normal jadi saya mulai ajak dia main di taman atau playground dekat rumah. Dia senang banget. Bisa guling-guling, lari-lari di rumput, main di kotak pasir, jalan-jalan di trotoar, liat orang banyak. Intinya bermain di luar.

Baca Juga: Beruntung Bahan Makanan Selalu Tersedia, Ini Cerita Kami Melewati Pandemi COVID-19 di Thailand

Kayaknya bebas gitu. Karena selama ini kan hanya main di dalam rumah dengan di taman rumah saja. Jadi dia lebih ceria dan suasana hatinya bagus.

Tapi tentunya balik lagi, saya tetap bawa semua antiseptik dan sabun setiap pergi. Karena main di luar kan kotor, jadi memang habis main harus bersih-bersih dengan benar terutama tangan dan muka.

Oiya, saya di Jerman mengurus anak dan rumah sendiri. Jujur, memang tidak sempurna ya. Kewalahan juga tapi untungnya suami bantu banget dan bisa bagi tugas. Kalau di Jakarta enak, tinggal minta mbak bikin ini itu, tapi kalau di sini ya sulit.

Semua mesti dikerjakan sendiri. Jadi benar-benar baru bisa lega buka ponsel dan nonton itu di atas jam 21.00 setelah anakku tidur.

Harus Rebutan dengan Banyak Orang untuk Dapat Apartemen Baru

cerita covid-19

Foto: dok. Muthia Kasri

Kami masih tinggal di apartemen sementara yang disediakan oleh kantor suami. Jadi harus cari apartemen sendiri. Ini sangat menantang dan tidak mudah ya, karena yang available tidak banyak, tapi yang butuh banyak, jadi seperti rebutan.

Dan di sini semua harus sesuai janji. Jadi kita cari dulu di portal website khusus penyewaan apartemen. Kalau sudah ketemu yang kita mau, kirim email ke agen untuk minta waktu buat melihat-lihat.

Tapi jangan salah, melihat apartemen itu tidak khusus kita saja ya, bisa bareng dengan calon penyewa lainnya. Jadi bisa sampai ber-10. Sebanyak itu dan kebayangkan kita mesti rebutan dengan 9 orang peminat lainnya.

Lalu kalau mau sewa, beberapa tuan rumah ada yang minta dibuatkan motivation letter. Seperti mau msauk kuliah ya but it's real. Dari motivation letter ini baru akan ditentukan siapa yang dipilih untuk menyewa apartemennya. Seribet itu. Hahaha.

Tapi akhirnya saya dan suami sudah dapat apartemen yang sesuai dan kita cocok dengan tuan rumahnya. Semoga bisa segera pindah bulan depan.

Lalu ada tantangan bahasa juga. Saya tidak bisa bahasa Jerman, tapi suami bisa jadi awal-awal saya banyak minta bantuan dia karena masih bingung. Tapi sekarang sudah enggak sih dan banyak yang bisa bahasa Inggris di Berlin.

Baca Juga: 4 Gaya Hidup Sehat untuk Tingkatkan Imunitas Tubuh, Yuk Lakukan!

Tapi saya ingin belajar masuk kursus bahasa supaya setidaknya bisa bercakap sehari-hari dengan orang lokal di sini.

Nah, walaupun Mijon memang masih 1 tahun 4 bulan, saya sudah mulai mendaftarkan dia untuk sekolah. Di Jerman itu agak beda karena tidak ada TK. Jadi, yang mereka punya itu semacam day care.

Mereka menyebutkan KITA. Jadi dari anak umur 8 bulan sudah bisa dititip di KITA. Untuk masuk KITA memang tidak gampang karena banyak peminat.

Ibu-ibu di sini kan banyak yang kerja jadi mereka harus banget titip anak di day care. Makanya KITA selalu diprioritaskan untuk anak yang ibunya bekerja. Dan caranya juga tidak segampang itu.

Kita harus kirim permintaan ke kantor wilayah, baru nanti kanwil yang cek KITA yang available di mana saja. Prosesnya bisa cepat, bisa juga lama banget (6 bulan, setahun atau lebih).

Saya mau anak saya masuk sekolah karena saya ingin dia bersosialisasi dengan teman sepantarannya. Untuk memancing dia juga untuk belajar berbicara.

Saya sih enggak apa-apa kalau kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah bahasa Jerman. Selain itu, supaya saya juga punya waktu kosong untuk belajar bahas Jerman untuk diri sendiri.

Walaupun perjalanan kami dari awal naik pesawat hingga di Jerman terdengar menyenangkan, tapi saya pribadi tidak menyarankan Moms semuanya untuk pergi liburan dengan pesawat ya.

Ditunda dulu keinginan untuk liburan dan jalan-jalannya. Lindungi diri kita sendiri, keluarga dan teman. Tetap jaga kesehatan ya Moms semuanya!

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait